Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 21



"Kurang keras! Jangan mentang-mentang kau baru saja keluar dari rumah sakit aku akan berbelas kasihan! Yang lebih kencang, Selena!" Eliot membentak Selena.


Laki-laki itu kesal karena Selena seolah tidak memiliki kekuatan apapun. Padahal jika dipikir memang Selena baru saja keluar dari rumah sakit. Tentu saja kekuatannya tidak bisa seperti biasanya.


"Maafkan saya, Tuan Eliot." Selena tidak memiliki kekuatan untuk mengabaikan perintah Eliot. Gadis itu memilih untuk diam dan menyanggupi permintaan Eliot.


"Jika bukan karena dia yang memberiku pekerjaan, mungkin sekarang aku masih mencari pekerjaan di luar sana. Kau harus sedikit bersabar, Selena." Selena menyabarkan hatinya supaya tidak berpikir buruk lagi.


Setidaknya dirinya harus bersabar lantaran Eliot terkadang memang menyebalkan. Entah mengapa, Eliot bersikap berlebihan hanya jika berhadapan dengan Selena.


"Aduh! Jangan keras-keras, Selena! Apa kau mau membuat tulangku patah?" Namun Eliot malah mengaduh kesakitan. Membuat Selena langsung melepaskan tangannya dari bahu laki-laki itu.


"Tapi kata Tuan Eliot tadi, saya harus lebih kuat lagi sewaktu memijat?" Selena membalas dengan nada ketus.


Mau bagaimanapun memang Eliot itu sudah menyebalkan sejak pertama kali Selena bertemu dengan Eliot. Selena ingin sekali memukul kepala Eliot. Akan tetapi, jika Selena benar-benar melakukannya maka habislah sudah dirinya. Eliot pasti akan memberikan hukuman kepada Selena.


"Kenapa kau malah diam? Cepat pijat lagi!" Eliot membentak sambil memejamkan kedua matanya.


Sebenarnya menyenangkan bagi Eliot untuk membayangkan ekspresi Selena saat ini. Pasti dalam hati Selena sedang mengumpatnya. Walaupun kenyataannya seperti itu tapi Eliot sangat senang karena Selena akan tinggal di rumahnya tanpa diganggu oleh kedua temannya itu.


"Tuan Eliot, di luar ada tamu!" Bibi Greta datang tergopoh-gopoh.


"Tamu? Memangnya siapa tamu yang berani datang di jam seperti ini? Ini sudah memasuki jam makan siang. Apa mereka tamu yang tidak tahu malu?" Eliot masih memejamkan kedua matanya. Ia sedang meresapi pijatan Selena.


"Mereka teman Anda, Tuan Eliot. Mereka sering datang kemari." Bibi Greta membalas lagi. Wanita paruh baya itu melirik Selena dari ekor matanya.


"Berapa orang?" tanya Eliot.


"Hanya dua orang. Tuan Zack dan Tuan Kay! Ah iya, benar. Itu mereka, Tuan!" jawab Bibi Greta.


"Si*l! Selena, ikut denganku!" Eliot tanpa ragu menarik tangan Selena.


Membuat kedua mata Bibi Greta membulat. Wanita itu bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya lantaran terkejut. Sepertinya, ke depannya dia tidak akan berani mengusik Selena.


"Anu, Tuan. Mengapa Anda menarik saya?" tanya Selena.


"Sudah, diamlah! Apa kau tidak bisa diam? Kau cerewet sekali, Berto!" Eliot menjawab dengan nada suara yang tidak bersahabat. Seketika Selena memilih untuk diam.


"Kenapa aku serba salah begini? Ini sedikit membuatku risih. Tuan Eliot ini. Mengapa terkadang baik dan terkadang dia bersikap kasar? Aku tidak mengerti. Tuan Eliot, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Selena membatin bingung.


Hingga sampailah Selena dan Eliot berada di depan sebuah pintu besar yang mewah. Selena tak menampik bahwa Eliot memiliki banyak uang. Akan tetapi, Selena tidak pernah menduga bahwa Eliot melakukan pemborosan pada rumah dan apapun yang ada di sekitarnya.


"Ini kamarku. Jangan sentuh apapun. Atau kau harus mengganti rugi itu semua nantinya. Zack dan Kay tidak boleh mengganggumu. Bagaimana? Apa kau mengerti, Selena?"


"Iya. Saya mengerti, Tuan Eliot. Saya akan menunggu Anda di sini."


***


"Kenapa kalian ke sini?" todong Eliot.


"Bukannya kita perlu membahas kebakaran kemarin?" Zack yang hendak duduk di sofa itu langsung mengurungkan niatnya.


Laki-laki itu bingung setengah mati pada Eliot yang malah bertanya sesuatu tidak terduga. Sebab sebelumnya, Zack maupun Kay bisa bertandang ke rumah Eliot kapanpun itu.


Akan tetapi, sejak kapan Eliot menjadi tidak suka kedatangannya dan Kay? Zack akhirnya mendudukkan bokongnya di sofa. Tidak mempedulikan tatapan mata Eliot yang menakutkan.


"Kami berdua sudah sering ke sini. Memangnya kami harus memberi kabar kalau kami akan datang?" Kay menelisik Eliot. Tidak biasanya Eliot bersikap aneh seperti itu.


"Mungkin ada yang dia sembunyikan," batin Kay dalam hati.


"Di mana Berto? Bagaimana keadaannya? Apa Berto ada di rumahmu?" Kay memberondong Eliot dengan banyak pertanyaan. Ia curiga kalau Eliot menyembunyikan Berto.


"Dia sudah dijemput keluarganya. Untungnya dia tidak terluka parah. Jadi, keluarganya tidak ada yang menuntut. Mungkin dia akan lama berada di desa," bohong Eliot.


"Kau yakin yang menjemputnya itu keluarganya, Eliot?" Kedua mata Kay melotot. Ia mengepalkan kedua tangannya.


"Berto sendiri yang mengakui mereka. Dia bilang keluarganya akan membawanya pulang ke desa. Jadi, ya setelah dia baik-baik saja keluarganya langsung membawanya pergi." Eliot membela dirinya.


Ia berusaha untuk tenang. Sebab Kay seperti sedang menahan amarah. Pun sama dengan Kay, Zack juga tak kalah terkejutnya.


"Mungkin saja itu benar. Tapi, entah mengapa aku memiliki firasat aneh. Apa Eliot berbohong?" tanya Kay dalam hati.


"Kenapa dengan ekspresi kalian? Apa kalian tidak percaya padaku?" kesal Eliot.


Kay berdehem. Ia langsung memandang Eliot dengan sorot mata yang tajam. "Kalau begitu, katakan di mana desa tempat tinggal Berto!"


Deg!