Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 22



"Kenapa aku harus bertanya tentang hal itu? Keluarganya hanya ingin mengajaknya untuk pulang ke desa. Apa aku memiliki hak untuk bertanya? Aku yakin akan lebih baik apabila Berto di desa. Karena keluarganya sendiri yang akan merawatnya." Eliot masih berusaha untuk tenang. Ia tidak ingin Kay terlalu mencurigainya.


Terlihat jika Kay sangat kecewa. Laki-laki itu kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Eliot terus memperhatikan gerak-gerik Kay.


"Kalau begitu apa kau juga memiliki nomor telepon Berto?" tanya Zack.


"Aku tidak sempat bertanya. Kenapa kalian berdua sangat penasaran dengan Berto? Aku yakin dia saat ini bahkan sedang tertidur nyenyak di rumahnya." Eliot mengalihkan pandangan dari Kay dan Zack. Ia cukup kesal karena Kay maupun Zack sangat mengkhawatirkan Selena.


Suasana mendadak hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Bahkan kedatangan Kay dan Zack yang sebelumnya ingin membahas tentang kebakaran itu pun urung. Mereka berdua seolah lupa dengan tujuan mereka.


"Mungkinkah mereka berdua menyukai Selena?" tanya Eliot dalam hati.


Kay berdiri. "Aku akan pulang dulu. Sepertinya kita membicarakan masalah kebakaran itu nanti saja. Karena kamera CCTV tidak ada yang selamat. Eliot, aku pamit pulang dulu."


Setelah mengatakan hal itu, Kay pergi meninggalkan rumah Eliot. Dahi Eliot mengerut. Ia bingung dengan sikap Kay yang sangat berbeda dari sebelumnya.


"Kenapa dengan anak itu?" tanya Eliot.


Namun, Eliot kembali dikejutkan oleh Zack yang juga berdiri dari duduknya. "Kau juga mau kemana?"


"Aku pulang dulu. Yang penting kita bicarakan ini. Tidak enak kalau Kay pulang dan kita membicarakan hal ini berdua. Ngomong-ngomong aku sudah membayar orang untuk mengawasi dua penjaga klub malam itu. Kita selebihnya tinggal menunggu kabar. Kalau begitu aku pulang dulu, El. Sampai jumpa!" Zack pergi meninggalkan Eliot juga. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Eliot.


Sepeninggal dua sahabatnya, Eliot bertopang dagu. Otaknya berpikir keras menerka apa yng sedang terjadi pada dua orang sahabatnya itu. Satu tarikan garis, Eliot mendapatkan jawabannya.


"Mungkinkah Zack dan Kay jatuh cinta pada Selena?" Eliot menggumam lirih. Kemudian ia tertawa ringan.


"Ternyata mudah sekali membuat mereka berdua terjatuh. Selena, pesonamu benar-benar luar biasa! Sangat menakjubkan!" Eliot berdiri dan ia berjalan masuk ke dalam rumah. Kini tujuannya adalah kamar pribadi miliknya. Sebab Selena ada di sana.


Ceklek!


Suara pintu yang terbuka membuat Selena menegakkan kepalanya. Gadis yang sedang duduk di lantai itu pun berdiri. Melihat Selena yang duduk di lantai, membuat Eliot heran.


"Mengapa kau tidak duduk di sofa?" tanya Eliot.


"Anu, maaf, Tuan. Saya tidak berani," jawab Selena sambil menundukkan kepalanya.


Eliot berdecih. Bisa-bisanya Selena memilih untuk duduk di lantai yang dingin dibandingkan duduk di sofa. Eliot pun mengawasi Selena yang masih saja menundukkan kepalanya.


"Sudah waktunya makan siang. Siapkan makanan untukku," titah Eliot.


"Baik, Tuan. Tapi, Tuan. Apa ada yang ingin Anda makan?" Selena kali ini mengangkat wajahnya. Ia membalas tatapan mata Eliot.


"Apa saja. Aku bukan tipe orang yang pemilih. Pergilah. Kalau sudah siap, panggil aku." Eliot lalu naik ke atas ranjang. Membuat Selena tergagap dan segera pergi keluar kamar Eliot.


"Ada apa dengannya? Kenapa secepat itu dia pergi keluar? Dasar bocah!" gerutu Eliot.


Dibalik pintu Selena berusaha menetralkan deru napasnya yang memburu. Gadis itu bahkan memegangi dadanya karena berdebar kencang.


"Astaga! Bisa bahaya bersama dia di dalam kamar. Untung aku cepat pergi." Selena pun memutuskan untuk menuju ke dapur. Ia harus melaksanakan perintah dari Eliot menyiapkan makan siang.


Begitu kakinya menjejak di dapur, aura di sana seketika membuat Selena tidak nyaman. Para pelayan menatap aneh ke arahnya yang sedang berjalan mendekati Bibi Greta. Tanpa sadar Selena mengusap tengkuk lehernya yang merinding.


"Anu, Bibi Greta. Tuan Eliot meminta saya untuk menyiapkan makan siang. Tapi, Tuan Eliot tidak mengatakan dia ingin makan dengan menu apa." Selena menundukkan kepalanya. Ia takut dengan Bibi Greta yang selalu mengintimidasinya.


"Siang begini Tuan Eliot menyukai makanan yang ringan. Mungkin pasta. Lihat bagaimana koki bekerja. Kau tidak mungkin selamanya bergantung pada kami." Bibi Greta berjalan menuju ke tempat koki berada. Terlihat wanita paruh baya itu berbicara dengan koki yang terlihat profesional itu.


"Kemarilah, Selena. Lihatlah bagaimana Tuan Koki bekerja." Sikap Bibi Greta sedikit melunak. Membuat Selena terpekur sejenak di tempatnya.


Padahal sejak kedatangannya tadi pagi, sikap Bibi Greta cukup mendominasi dan mengintimidasi. Lantas apa yang membuat Bibi Greta berubah secepat itu? Selena mendekati sang koki.


Mata bulat Selena terus mengawasi sang koki bekerja. Entah mengapa Selena cukup menyukai cara sang koki bekerja. Kedua mata Selena tampak berbinar. Gadis itu menikmati momen yang sedang berlangsung.


"Nah, semuanya sudah siap. Panggil Tuan Eliot kemari, Selena. Jangan membuatnya menunggu lebih lama lagi," ucap Bibi Greta.


"Ba-baik, Bibi Greta." Selena yang heran, akhirnya tidak berpikir panjang lagi. Ia memutuskan untuk segera memanggil Eliot.


"Bibi Greta! Anda terlalu baik sekali pada gadis itu! Dia baru saja datang, tapi sudah memiliki posisi bagus! Apa Bibi Greta ingin mengalah?" Seorang pelayan terdengar berbisik pada Bibi Greta. Namun meski begitu Selena masih bisa mendengarnya dengan baik.


"Diamlah. Tuan sepertinya tertarik padanya. Jangan membuat ulah! Bisa saja dia memang wanita Tuan Eliot!" Jawaban Bibi Greta sukses membuat Selena kaget.


"Wanita Tuan Eliot? Apa maksudnya itu?" Selena membatin bingung.


Bukankah mustahil apabila seorang laki-laki sempurna seperti Eliot mencintai gadis miskin seperti Selena? Ya, bagi Selena itu tidak mungkin.