Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 38



Di waktu yang bersamaan, Zack muncul dengan wajah yang khawatir juga. Pria itu bahkan mendorong pintu ruangan tempat Kay dirawat dengan begitu kasar. Sampai-sampai meninggalkan keributan di sana.


Selena dan Eliot sama-sama memandang ke arah pintu ketika Zack muncul. Berbeda dengan Eliot yang langsung memalingkan wajahnya ketika melihat Zack. Selena justru memandang Zack sampai pria itu dekat dengan posisinya berada.


"Eliot, apa yang terjadi? Dia baru saja menghubungiku dan mengajakku untuk bertemu di cafe biasa." Sama seperti ekspresi wajah Eliot.


Zack juga merasa gagal karena tidak bisa menjaga Kay. Memang diantara mereka bertiga hanya Kay yang ilmu bela dirinya tidak terlalu hebat. Jika harus bertarung biasanya Zack yang maju lebih dulu sebelum akhirnya Elliot ikut membantu. Sedangkan Kay hanya bertugas untuk mencari cara agar mereka bisa segera lolos dari kepungan musuh.


"Sekarang aku harus bagaimana? Tuan Eliot dan Taun Zack terlihat sangat sedih. Memang keadaan Tuan Kay sangat mengerikan. Aku yakin kecelakaannya pasti sangat parah. Bukankah kebanyakan orang di club pernah bilang kalau Tuan Kay suka sekali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi? Jika dia melajukan mobilnya pelan pasti kecelakaannya tidak sampai separah ini," batin Selena.


"Aku sudah berhasil mengetahui dalang dari semua ini. Secepatnya aku akan membalas perbuatan mereka. Awalnya aku ingin membiarkan mereka tertawa puas setelah klub milikku terbakar. Tetapi ternyata mereka juga tidak cukup sampai di situ. Kali ini aku harus turun tangan langsung," jawab Eliot dengan wajah yang serius. Hanya membahasnya saja sudah membuatnya geram. Rasanya Eliot tidak sabar untuk bertemu langsung dengan musuh bebuyutannya tersebut.


"Siapa! Siapa dia?" Zack memandang ke arah Eliot. "Katakan padaku di mana dia tinggal. Aku akan menghadapinya sendirian!" Zack terlihat sangat bersemangat.


"Masalah ini tidak semudah yang kau pikirkan Zack. Biar aku saja yang mengurusnya. Sebaiknya kau bertugas untuk menjaga Kay di rumah sakit. Karena kita tidak tahu dia akan datang lagi atau tidak ke rumah sakit ini untuk mengunjungi Kay. Pastikan Dokter dan perawat yang masuk ke ruangan ini bukan musuh yang menyamar." Eliot hanya bisa memberi solusi seperti itu. Dia tidak mau sampai Zack mengetahui geng mafianya. Bisa gawat nanti urusannya. "Lebih baik seperti ini saja. Dia akan berpikir kalau musuh kamu sama seperti biasa. Jika dia tahu kalau aku pemimpin Black Tiger, Zack pasti akan menyalahkanku terus." Eliot membatin sambil memandang wajah Kay.


"Apa semua ini ada hubungannya denganmu? Apa mereka musuhmu Eliot?" tebal Zack asal saja.


Eliot hanya diam saja. Dia tidak mau untuk mengakuinya. Eliot masih tidak mau sampai Zack tahu kalau sebenarnya Eliot memiliki geng mafia. Selama ini ada bisnis gelap yang ia jalani tanpa sepengetahuan Zack dan Kay.


"Aku baru mengetahuinya sekarang setelah anak buahku memberi informasi. Bahkan aku juga tidak tahu motif mereka melakukan semua ini apa," dusta Eliot agar Zack tidak terus-menerus bertanya.


"Oke, lalu bagaimana dengan Selena? Bukankah kau sendiri yang bilang akan segera mengurus masalah ini? Bagaimana kalau mereka mengetahui keberadaan Selena dan berniat untuk mencelakai Selena?" Zack memandang wajah cantik Selena dengan penuh kekhawatiran. Dia tidak mau hal buruk juga menimpah Selena. Wanita yang ia cintai itu.


Eliot mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan yang dikatakan oleh Zack. "Rumahku aman. Ada banyak penjaga di sana. Aku juga akan menambah penjagaan di rumah agar mereka tidak bisa sampai menginjakkan kakinya di kediamanku!"


"Sebenarnya seperti apa musuh yang sekarang dihadapi oleh Tuan Eliot? Kenapa wajahnya sangat tegang sekali. Apa musuh ini benar-benar sangat berbahaya. Lagi pula kenapa Tuan Eliot tidak melaporkan masalah ini kepada polisi saja dan menyerahkan semuanya kepada polisi. Bukankah dengan begitu Tuan Eliot tidak perlu susah-susah untuk menghadapinya langsung. Memang pemikiran orang kaya sangat berbeda jauh dari pemikiran orang miskin. Mereka senang sekali menyusahkan diri sendiri padahal jelas-jelas mereka memiliki banyak uang. Bukankah uang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan?" protes Selena yang hanya berani di dalam hati saja.


Karena di ruangan itu ada Zack dan Selena juga di sana. Eliot tidak mau berlama-lama lagi. Dia juga harus menyusun strategi bersama dengan Black Tiger di markas sebelum menyerang musuh.


"Kalau begitu aku harus pergi sekarang juga. Setelah mengantar Selena pulang aku akan menemui mereka dan memberi pelajaran kepada mereka. Kau Tetaplah disini. Beri kabar padaku jika Kay sudah sadar." Eliot menggenggam tangan Selena. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya agar Zack tahu dan sadar diri kalau sebenarnya Selena itu adalah miliknya.


Zack memandang ke arah tangan Selena dengan wajah yang cemburu. Namun pria itu juga tidak mau membuat keributan di ruang perawatan Kay. "Oke. Jaga dirimu baik-baik. Jika kau membutuhkan bantuanku segera hubungi aku. Aku yakin kau pasti bisa mengalahkan mereka!"


Eliot mengangguk pelan. Dia menepuk pundak Zack sejenak sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Selena sendiri memilih untuk tidak mengeluarkan satu kata pun karena tidak mau mendapat masalah. Meskipun sebenarnya di dalam hati Ia memiliki sejuta pertanyaan yang membuatnya menjadi tidak tenang.


"Selena, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa sejak tadi aku lihat wajahmu seperti orang kebingungan." Eliot melepas tangan Selena ketika mereka sudah tiba di depan. Pria itu berjalan lebih dulu.


"Saya tidak memikirkan apapun Tuan. Saya hanya tidak tega melihat keadaan Tuan Kay. Tuan Kay mengingatkan saya kepada seseorang."


Eliot menahan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya lalu memandang Selena dengan serius. "Seseorang?"


"Dulu saya pernah menyelamatkan korban kecelakaan mobil. Sayangnya korban itu tidak selamat. Dia meninggal ketika dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Sejak saat itu saya jadi trauma dan terus kepikiran. Butuh waktu berbulan-bulan untuk melupakannya." Wajah Selena berubah sedih. Dia kembali mengingat kenangan buruk itu.


Eliot memperhatikan lorong rumah sakit tempatnya berada. Sorot mata pria itu berubah tajam. Lagi-lagi ia menggenggam tangan Selena untuk memastikan wanita itu tidak akan jauh-jauh darinya. "Ayo kita harus segera pergi dari sini!"


Setelah Eliot dan Selena masuk ke dalam lift, seorang pria keluar dari balik dinding. Ada seulas senyum di bibir pria itu. "Siapa wanita itu? Sepertinya dia sangat berharga di mata Eliot."