
Keenam orang itu tanpa sadar bergidik ketakutan. Aura yang dipancarkan oleh Yin Zhen membuat mereka merasa sedang berhadapan dengan dewa kematian.
Tapi itu hanya sesaat, sebelum salah satu di antara mereka berkata, "lalu apa bedanya? Kau masih akan mati ditangan kami!"
Pria itu langsung mengeluarkan belati dari balik jaketnya, dia mengayunkan belati itu mencoba untuk membuat Yin Zhen tersungkur, tapi nyatanya tidak semudah itu. Sebaliknya, Yin Zhen dengan mudah menangkis setiap serangan yang pria itu lemparkan.
"Sial! Apa-apaan dia ini? Bagaimana bisa dia menangkis serangan itu dengan satu tangan saja?" ujar mereka terkejut ketika melihat rekan mereka kesulitan mengatasi Yin Zhen.
Melihat rekan mereka kesusahan, kelima pria lainnya tidak tinggal diam. Mereka semua melakukan hal yang sama dan melemparkan beberapa serangan sekaligus ke arah Yin Zhen, namun seperti biasa, pria yang tengah menggendong gadis kecil itu masih dengan mudah menghindari mereka semua.
Raut wajahnya yang tetap datar membuat mereka kesal, tapi di saat yang sama, rasa takut yang nyata muncul di hati mereka semua. Tidak mudah menangkis satu di antara mereka, tapi pria yang tengah mereka lawan dengan mudah menangkis semua serangan mereka.
Yin Zhen yang terus melesat dari satu titik ke titik lain, mulai menghela napas lelah, "apa yang kalian semua lakukan? Dengan kemampuan lemah kalian seperti ini, bisa menyentuhku mungkin bisa dianggap sebagai sebuah kemewahan..."
Tiba-tiba saja gerakannya menjadi lebih cepat, keberadaan Yin Mei sama sekali tidak mengganggunya. Dia menggunakan energi qi yang terkondensasi di kedua kalinya untuk melesat beberapa kali lipat lebih cepat dibandingkan dengan manusia biasa, tapi tetap saja, kecepatan itu masih terlalu lambat bagi Yin Zhen sendiri.
Namun di mata keenam orang itu, kecepatan Yin Zhen seperti sebuah bayangan yang terus melompat dengan sangat cepat. Jika dibandingkan dengan kecepatan mereka, itu seperti berlomba melawan cheetah di saat mereka sendiri hanyalah kura-kura.
Yin Zhen melesat ke arah keenam orang itu dan mengambil setiap belati yang dipegang oleh mereka. Hanya dalam waktu tiga detik, tidak ada lagi belati di tangan keenam pria itu.
"Bagaimana bisa?"
"Mustahil... Manusia tidak mungkin bisa memiliki kecepatan gila seperti itu..."
"S-siapa dia sebenarnya?"
Keenam pria itu mundur perlahan tanpa sadar, kini yang tersisa di dalam hati mereka hanya ketakutan tiada akhir. Kepercayaan diri yang tadi mereka perlihatkan, seolah lenyap begitu saja.
"Bagaimana? Apakah sudah cukup bermainnya? Bagaimana kalau sekarang bagian aku yang bermain dengan kalian? Bukankah itu akan menyenangkan?"
Keenam belati yang di genggamnya dia lemparkan ke dinding parkiran, seketika ledakan teredam terdengar. Perlahan keenam pria berbalik untuk melihat apa yang terjadi, dan semua belati itu menembus tembok hanya menyisakan gagangnya saja yang terlihat.
Yin Zhen di sisi lain menyunggingkan senyumnya. Tahapan Qi Refining mungkin yang terlemah diantara tahapan Kultivasi Dasar lainnya, tapi itu akan menjadi sangat kuat ketika ditempatkan di dunia non-energi seperti Bumi.
"Mengapa kalian hanya diam saja? Kalian tidak ingin bermain dengan ku?" ujar Yin Zhen dengan nada sedikit tidak senang. Dia yang biasanya mendominasi di Alam Semesta yang menampung miliyaran ras, kini kembali beraksi sebagai manusia 'biasa' di kampung halamannya.
Tanpa menunggu sepatah kata keluar dari mulut mereka, Yin Zhen memukul perpotongan leher mereka keras, membuat mereka semua pingsan seketika. Sayangnya, tidak ada Bian Lu di sini, jika Bian Lu ada, Yin Zhen tidak akan ragu untuk membunuh keenam pria itu.
Bagaimanapun Bumi bukanlah tempat seperti Dunia Kultivasi, yang mana hukum rimba berlaku di setiap tempat. Bumi memiliki undang-undang dan peraturannya sendiri. Yin Zhen pribadi bisa menyangkal semua peraturan itu, tapi berurusan dengan mereka bukanlah hal yang mudah, atau lebih tepatnya dia tidak ingin membuang waktu untuk berurusan dengan semua hal yang tidak berguna itu.
Dia melirik Yin Mei sejenak yang masih menutup kedua matanya sambil sedikit gemetaran. "Sekarang Mei'er bisa kembali membuka kedua mata Mei'er."
Perlahan Yin Mei melepaskan kedua tangannya dan membuka matanya, dia menatap papanya diam kemudian memeluknya erat seolah takut kehilangan.
"Tidak apa-apa, sekarang kita akan kembali ke hotel. Sayang sekali sepedanya rusak bersama mobil papa, lain kali papa akan membelinya untuk Mei'er."
Mendengar itu, Mei'er hanya menganggukkan kepalanya patuh. Sepeda yang dia inginkan tidak se berharga papanya, dia tahu kalau ledakan yang baru saja dia lihat mungkin akan membuat papanya terluka, dia tidak suka papanya terluka.
Yin Zhen membawa Yin Mei keluar dari wilayah parkiran. Sebelum itu, dia menelepon pemadam kebakaran untuk menangani ledakan yang baru saja terjadi di area parkiran.
***
"Sial! Sial! Sial! Gagal lagi! Siapa sebenarnya pria itu, hah?!" Ma Hongchun membanting semua yang ada di atas meja kerjanya kesal. Baru saja dia menerima panggilan dari bawahannya dan mengatakan enam anggota suruhannya terbunuh saat berusaha membunuh pria itu, Yin Zhen.
Ma Hongchun adalah pengusaha paling tersohor dan tersukses di China. Tidak pebisnis yang tidak mengenalnya, mereka pasti tahu namanya. Perusaan yang dibangun oleh kakeknya, Yanxi Corp, bekerja hampir dalam segala bidang bisnis.
Makanan, fashion, perumahan, hiburan, dan masih banyak proyek yang Yanxi Corp sendiri pegang.
Meski begitu, masih ada banyak orang yang menjadi ancamannya di dunia bisnis, terutama Zi Tian. Pria tua yang masih berdiri tegak diusianya yang kini sudah rentan. Zi Group adalah satu-satunya perusahaan yang benar-benar membuat Yanxi Corp terancam. Terutama karena lokasi mereka berdekatan.
Sebagai dua perusahaan raksasa di Asia, perselisihan tidak mungkin terjadi. Tidak menutup fakta bahwa Zi Tian telah berusaha menyingkirkan Ma Hongchun dan Yanxi Corp miliknya, begitu juga sebaliknya. Hanya saja cara yang digunakan sangat bertolak belakang, Zi Tian lebih menyukai cara yang bersih dan sehat, sedangkan Ma Hongchun akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Beberapa hari yang lalu, dia menyusun rencana sempurna untuk membunuh Zi Tian. Di saat detik-detik terakhir musuhnya itu akan tiada, orang asing datang membantunya tiba-tiba dan menolongnya.
Karena kesal dan marah, dia mencoba untuk membunuh orang asing itu yang tak lain adalah Yin Zhen. Tapi sayangnya semua percobaan pembunuhannya berakhir gagal total.
"Aku yakin pria ini bukan pria biasa. Kelompok yang Bai Ming pegang adalah yang paling kuat diantara semua pasukan Dunia Bawah lainnya. Anggota acak mereka bisa dengan mudah membunuh targetnya dengan mudah, tapi pria bernama Yin Zhen ini membunuh keenamnya di satu waktu."
Kilatan aneh langsung muncul di kedua mata Ma Hongchun, "aku harus menyelidikinya lebih dalam..."
***
Setelah pergi ke hotel dengan taksi, Yin Zhen dan Yin Mei membersihkan diri mereka sendiri dengan mandi karena hari sudah mulai petang. Yin Mei sedih karena mobil biru miliknya dan sepedanya hancur beberapa saat yang lalu, namun suasana hatinya langsung berubah begitu dia melihat berbagai macam hidangan tersedia di atas meja makan.
"Woah! Banyak sekali makanannya, bahkan ada daging panggang di sini."
"Mei'er bisa makan sepuasnya..."
Yin Mei hanya tersenyum dan melahap hidangan di depannya. Yin Zhen melakukan hal yang sama, tapi gerakannya terhenti begitu ponselnya berdering tiba-tiba.
Dia melihat layar ponselnya sebentar, "Yin Hua? Mengapa dia menelepon ku?"
"Halo, Yin Hua, ada apa?"
"Kakak? Dimana kakak sekarang?"
"Aku? Aku di Chengdu."
"Aku tahu itu, tapi Chengdu dimananya?"
"Aku di Heaven Garden Hotel. Memangnya ada apa?"
"Kau di Heaven Garden? Bukankah itu hotel bintang lima, ya?"
"Kau tidak salah. Tapi kenapa kau menanyakan alamatku?"
Helaan napas terdengar dari seberang sana, "kebetulan aku sekarang sedang ada di Chengdu. Setelah mengurus beberapa hal, aku ditugaskan di Chengdu untuk enam bulan. Karena kau berada di Chengdu, aku ingin bertemu denganmu."
"Benarkah? Aku juga ingin bertemu denganmu. Karena kau tahu dimana Heaven Garden Hotel, kau seharusnya tahu dimana itu, bukan?"
"Baiklah, apakah kau besok ada waktu luang? Aku bisa menemuimu besok."
"Aku selalu bebas. Baiklah, aku akan mengirimkan detail kamarnya lewat pesan."