Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
26. Saling Bertemu



Setelah selesai menata semuanya di brangkas bawah tanah, Yin Zhen meminta Hu Lian untuk membeli beberapa senjata api. Dengan persenjataan yang mumpuni, seharusnya berhadapan dengan zombie bukanlah sesuatu yang sulit.


Meskipun zombie akan menimbulkan bahaya paling rendah, tapi jumlahnya yang terlalu banyak dan penyebaran virus zombie yang terlalu cepat bisa mengancam nyawa banyak orang.


Senjata api mungkin mahal, tapi dengan semua persediaan uang yang dimilikinya, setidaknya dia bisa membeli beberapa ratus dari mereka serta pasokan peluru yang mungkin akan bertahan selama beberapa bulan.


Dimasa depan, baik itu dolar maupun yuan, tidak ada yang berharga diantara semua mata uang kertas itu. Jadi dia tidak merasa disayangkan bahkan setelah menghabiskan lebih dari setengah kekayaannya.


"Semuanya sudah selesai, kini aku hanya perlu memutuskan wilayah mana yang harus aku kuasai terlebih dahulu nanti. Dengan Mana yang membanjiri Bumi, pergeseran tanah mungkin saja terjadi dan perluasan wilayah bukan hal yang mustahil. Mungkin sebelum aku menguasai wilayah lain, lebih baik aku berusaha untuk menguasai seluruh distrik. Pasti akan ada beberapa orang yang mampu menahan ledakan Mana dan menjadi seorang Makhluk Jiwa. Tidak menutup kemungkinan mereka akan membangun pasukannya sendiri," ucap Yin Zhen sambil mengusap dagunya pelan.


Hidup secara individual di masa depan adalah hal yang mustahil, bahkan untuk dirinya. Ada banyak hal yang tak bisa dia lakukan seorang diri, setidaknya dia memerlukan rekan untuk mengatasi beberapa masalah dimasa depan.


"Jiang Yalan harusnya bisa menjadi seorang Makhluk Jiwa yang berpotensi di masa depan. Kepribadiannya yang tenang dan matang sangat cocok dengan keadaan nanti, Mei Qi juga bisa dianggap salah satunya. Orang-orang Zi Tian juga kemungkinan besar akan selamat dari ledakan Mana nanti. Mengumpulkan mereka bersama sekarang tentu akan menimbulkan kecurigaan, opsi paling aman adalah aku harus mendatangi mereka semua setelah kiamat tiba, meski ada resiko mereka semua terbunuh oleh para zombie atau binatang mutan."


Dia mengesampingkan semua pemikirannya untuk sekarang, kali lebih cepat daripada kecepatan manusia biasa, dengan kecepatan seperti itu bukan mustahil baginya untuk menyelamatkan banyak orang dari gelombang zombie dan binatang mutan nanti.


"Awalnya aku ingin mengajarkan beberapa hal dasar tentang Qi kepada Yin Mei dan Mei Qi, tapi dengan adanya Mana, kedua kekuatan yang sama namun bertolak belakang itu tidak akan bisa menyatu. Mengingat Bumi akan menjadi salah satu planet yang menjadi faksi Dunia Sihir, mempelajari Qi tidak akan menimbulkan banyak manfaat. Berbeda denganku yang sudah memiliki kekuatan Qi sebelum Catatan Konstelasi tiba. Tapi seharusnya kegunaan Air Suci bisa meregenerasi Mana dengan cepat, dan itu akan sangat berguna untuk yang lainnya."


Bentrokan antara dua kekuatan yang saling bertolak belakang sangat tidak dianjurkan, bahkan untuk dirinya yang sudah hidup selama triliunan tahun lamanya enggan mengambil resiko seperti itu. Untungnya dia membuka segel pertama setelah berhasil bereinkarnasi, dan Catatan Konstelasi mau tidak mau harus menyesuaikan dan merekam semua yang terjadi dengan tubuhnya.


Secara alami Catatan Konstelasi lah yang menyesuaikan dirinya sendiri dengan tubuh Yin Zhen, bukan Yin Zhen yang menyesuaikan diri dengan Catatan Konstelasi. Karena itu juga dia memiliki statistik tambahan seperti Qi Point dan Segel.


Dia kembali ke Heaven Garden Hotel tidak lama setelah menyelesaikan semuanya.


Sesampainya di sana, dia melihat sepasang ibu dan anak serta adiknya tengah berbicara di ruang tengah. Yin Mei dengan raut bahagianya membawa banyak mainan ke hadapan Mei Qi, seolah menyombongkan jumlah mainannya.


"Papa! Lihat, mama sudah datang. Katanya dia sangat merindukanku!" Teriak Yin Mei sambil berlari ke arah Yin Zhen.


Yin Zhen hanya menganggukkan kepalanya dan berkata, "mulai sekarang Mei'er bisa bermain dengan mama selama yang Mei'er mau."


Mendengar itu, kedua mata Yin Mei berbinar, "benarkah? Apa mama akan tinggal bersama kita mulai sekarang?"


Sekali lagi Yin Zhen hanya menganggukkan kepalanya. Faktanya, Mei Qi memang diharuskan untuk tinggal bersama mereka, apapun itu. Yin Zhen tidak bisa membiarkan Yin Mei kehilangan sosok ibu untuk waktu yang lama.


Dari arah yang sama, Mei Qi berdiri dengan anggun dan datang menyapa Yih Zhen, "halo, bagaimana kabarmu?"


Mei Qi mengangkat alisnya, "Bian Lu? Ah, orang yang kau suruh itu. Dia melakukannya dengan sangat baik, aku bahkan tidak percaya ada orang sekuat itu di dunia nyata. Ngomong-ngomong, terimakasih banyak karena sudah menolongku."


Yin Zhen menggelengkan kepalanya, "kau sudah berterimakasih sebelumnya. Daripada terus mengatakan sesuatu yang tidak berguna itu, akan lebih baik kau tinggal bersama kami demi Mei'er. Dia membutuhkan sosok ibu di usianya yang masih belia. Aku juga tidak bisa sepenuhnya menghabiskan waktu ku dengan Mei'er, Yin Hua juga memiliki kesibukannya sendiri. Rasanya agak janggal meminta bantuannya di saat Yin Mei masih memiliki sosok ibu yang bisa menjaganya lebih baik."


Yin Zhen tidak banyak berbasa-basi dan langsung mengatakan intinya.


"Ini... Bukankah kau mengatakannya terlalu tiba-tiba? Kita bahkan belum duduk," ucap Mei Qi yang merasa canggung setelah mendengar ajakan 'tinggal bersama' dari Yin Zhen.


Sekalipun dia Yin Mei, statusnya masihlah seorang lajang, dia tidak pernah menikah sekalipun. Tinggal bersama seorang pria rasanya terlalu mendadak untuknya yang masih 'awam' dalam soal pria.


"Ah... Aku lupa. Maafkan aku."


Dia duduk diikuti oleh Mei Qi, Yin Hua di sisi lain mengajak Yin Mei untuk bermain di depan televisi dengan beberapa boneka beruang miliknya. Yin Hua merasa kalau kakaknya memiliki beberapa hal yang harus dibicarakan dengan Mei Qi.


Yin Zhen kembali bertanya, "jadi bagaimana keputusanmu? Aku hanya khawatir Yin Mei akan kekurangan kasih sayang seorang ibu. Tapi kau tenang saja, kehidupan kita masih masing-masing seperti biasanya. Aku tidak akan ikut campur dalam urusanmu, begitu juga denganmu. Kecuali kita memang saling membutuhkan bantuan satu sama lain."


Mei Qi tidak langsung menjawab, dia terlihat dilema.


"Bagaimana dengan biaya hidup? Aku juga harus mencari pekerjaan untuk kelangsungan hidupku, dan tidak mudah mencari pekerjaan di Chengdu mengingat kota ini sangat padat penduduk."


Yin Zhen tersenyum, dia menjawab, "kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku akan membiayai semua kebutuhanmu. Sekarang aku lebih dari sekedar mampu untuk melakukannya, tidak seperti terakhir kali kita bertemu. Anggap saja itu sebagai imbalan karena sudah bersedia tinggal bersama kami."


Meskipun tawaran itu menggiurkan untuknya yang hidup serba berkecukupan, hatinya cukup tersinggung dengan perkataan yang Yin Zhen lontarkan.


"Apakah maksudmu kau menganggap ku sebagai ibu yang menerima imbalan setelah mengurus anaknya? Aku mungkin kekurangan harta dan tidak lebih baik darimu, tapi aku tidak terima dianggap seperti itu. Aku mengurus anakku karena itu sudah kewajibanku sebagai ibunya, bukan sebagai orang yang menginginkan imbalan."


Yin Zhen mengerutkan keningnya, tampaknya sedikit kesalahpahaman di sini. "Tidak, bukan itu maksudku. Sepertinya kau salah paham akan kata-kata ku tadi, aku minta maaf. Tapi kau benar-benar tak perlu khawatir tentang uang, anggap saja aku seorang suami yang bertanggung jawab atas keluarganya. Bukankah sudah sewajarnya seorang suami menafkahi istrinya? Yah, meski konteks suami istri di sini tidak sepenuhnya benar, tapi tidak sepenuhnya salah juga."


Mei Qi memalingkan wajahnya, bukan karena dia kesal atau marah, tapi karena dia malu mendengar kata-kata itu dari mulut Yin Zhen. "Siapa yang menjadi istrimu, aku bahkan belum menikah."


Kedua pipinya yang merona sekilas bisa Yin Zhen lihat, melihat itu Yin Zhen mau tidak mau mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman. "Apapun itu, tapi aku harap kau mau tinggal bersama kami. Akan lebih baik juga untuk mengajak seluruh keluargamu tinggal di Chengdu, agar lebih mudah bagi Yin Mei untuk bersosialisasi dengan keluarga dari pihak mamanya."