Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
42. Kondisi Perkemahan Militer



Seorang wanita berambut panjang yang diikat ke belakang tengah menghadap ke arah barat, dimana perkemahan orang-orang berada. Di sisinya, gadis kecil berusia 3 tahun masih asik bermain dengan boneka-bonekanya yang berukuran besar, menghiraukan hiruk-pikuk yang terjadi.


Yin Hua menghela napas pelan. Kedua bahunya merosot begitu seolah dia melepaskan banyak beban di punggungnya. Tatapannya yang tenang dan rumit menyimpan ribuan kekhawatiran untuk kakaknya.


Dia menolehkan kepalanya melirik Yin Mei sambil memasang senyum, melihat fitur wajah keponakannya yang menggemaskan membuatnya tak tahan untuk mencubit kedua pipi gembul itu.


"Hah... Aku juga ingin berjuang bersama kakak, tapi aku tidak cukup berani untuk melakukannya..."


Yin Hua yang telah melihat bagaimana luar biasanya Yin Zhen membuatnya berpikir kalau dirinya sendiri terlalu tidak berguna. Yang bisa dia lakukan hanyalah diam di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan biasa.


Terkadang dia membantu orang-orang yang ada di perkemahan sebagai bentuk melepas bosannya, tapi melihat bagaimana kelompok Evolusioner Jiwa memusnahkan binatang mutan untuk mencegah bahaya, dia merasa kalau apa yang dia lakukan selama ini tak ada gunanya.


Sinar mentari yang mulai meredup membuat suasana di sore hari terasa hangat. Semua orang di perkemahan mulai melakukan aktifitas sore, seperti menyiapkan makanan dan membersihkan tubuh mereka dengan mandi bergantian.


"Mei'er, bagaimana kalau kita bermain bersama yang lain?"


Yin Mei menganggukkan kepalanya setuju, "baiklah, bibi tolong bawakan boneka-boneka ini. Mei'er akan mengajak Song Ling dan Han Li untuk bermain bersamaku."


Song Ling dan Han Li adalah dua teman pertama Yin Mei. Mungkin karena mereka masih kecil, mudah untuk saling mengakrabkan diri, karena itu Yin Mei tak ragu untuk meminjamkan beberapa mainannya kepada Song Ling dan Han Li.


Di sebelah timur perkemahan, tepatnya di Perkemahan Militer milik perbatasan.


Yin Zhen, Jiang Yalan dan Hu Lian berhasil memasuki pintu utama perkemahan wilayah lain dengan membayar masing-masing 100 gram beras. Untuk orang lain, 100 gram beras adalah jumlah yang besar, mengingat betapa sulitnya mencari makanan di Bumi yang sekarang ini, tapi Yin Zhen dan orang-orangnya memiliki banyak persediaan beras di perkemahan mereka.


Dan juga fakta bahwa daging binatang mutan dapat dimakan tampaknya masih belum ditemukan oleh mayoritas orang. Pasalnya Yin Zhen hanya melihat orang-orang membawa beras dan roti, tak ada persediaan daging di kantong penyimpanan mereka.


Ketiganya berjalan menyusuri jalanan di dalam perkemahan.


Ketiganya terkejut ketika melihat jumlah orang-orang yang ada di dalam perkemahan setidaknya lebih dari 1.000 orang, tapi itu juga tidak aneh mengingat perkemahan ini dulunya adalah tempat pelatihan militer yang menyimpan banyak senjata api. Dengan kata lain, tinggal di dalamnya akan jauh lebih aman dibandingkan dengan berkeliaran di luar sana.


Jiang Yalan memperhatikan bagaimana penduduk sekitar berinteraksi, dia juga melihat seorang remaja berusia belasan tahun tengah memakan bubur, atau mungkin lebih tepatnya meminum bubur. Karena bubur itu terlalu cair.


"Astaga... Meskipun ada begitu banyak orang disini, kondisinya masih lebih buruk daripada perkemahan kita..." gumam Jiang Yalan yang dapat di dengar oleh Yin Zhen dan Hu Lian.


Hu Lian berkata, "apa mereka tidak tahu kalau daging binatang mutan dapat dimakan?"


"Itu wajar. Mereka hanya orang-orang biasa yang tinggal di dalam perkemahan ini tanpa bertemu dengan pemimpinnya langsung. Maupun itu level rendah, binatang mutan tetaplah binatang mutan dan orang-orang biasa tak akan mau berurusan dengan binatang mutan yang menurut mereka mengerikan itu," ujar Yin Zhen tiba-tiba.


Jiang Yalan dan Hu Lian hanya menganggukkan kepalanya paham.


'Buk!'


Tiba-tiba saja seorang pria kecil berusia 7 tahunan menabrak Yin Zhen saat dia tengah berlarian.


"Ah, maafkan aku paman!"


Yin Zhen dan dua orang lainnya melihat pria kecil itu dengan pandangan prihatin. Wajah kekanak-kanakannya yang lucu terhalang oleh lapisan debu kotor, ditambah dengan ukuran tubuhnya yang kecil dan kerempeng serta rambutnya yang berantakan membuat kelompok berjumlah tiga orang itu merasa kasihan ketika melihatnya.


Jiang Yalan berjongkok, mensejajarkan kepalanya dengan kepala pria kecil itu. Dia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikannya kepada pria kecil itu.


"Bersihkan wajahmu menggunakan ini."


Pria kecil itu tak langsung mengambilnya, dia terdiam sesaat sebelum mengambil sapu tangan berwarna krem itu dari tangan wanita di depannya.


Setelah membersihkan wajahnya, fitur wajahnya yang lugu dan cukup manis terlihat lebih bersinar. Kedua mata besarnya menatap sapu tangan yang sekarang benar-benar kotor setelah dia pakai barusan.


Mendengar itu, Jiang Yalan menggelengkan kepalanya pelan, "tidak perlu, kau simpan saja sapu tangannya."


Pria kecil itu hanya menganggukkan kepalanya diam, kemudian pergi meninggalkan Yin Zhen dan yang lainnya.


Ketiganya terus berjalan melihat situasi di perkemahan, dan setelah berjalan selama 15 menit, mereka menemukan beberapa hal yang membuat mereka geram.


"Orang-orang di sini terlalu bebas. Bahkan banyak gadis yang rela menjual tubuhnya demi mendapatkan makanan, dan para orang tua harus melakukan pekerjaan kotor demi makan anak-anaknya..." gumam Yin Zhen.


"Apa pemimpin di sini tidak memberikan mereka makanan?" tanya Hu Lian keheranan. Seharusnya pemimpin perkemahan memiliki pasokan makanan yang mencukupi mengingat ada begitu banyak orang yang tinggal di dalam perkemahan.


Jiang Yalan kemudian menghampiri seorang gadis yang usianya mungkin 15 tahunan. Gadis itu mengenakan pakaian seksi yang memperlihatkan lekukan tubuhnya kepada orang lain, sudah jelas bahwa dia hendak menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan sesuap makanan.


"Hei, kami bertiga baru sampai di sini. Bisakah kau jelaskan tentang beberapa pengaturan di sini?" tanya Jiang Yalan kepada gadis itu.


Gadis itu terdiam sesaat sambil memperhatikan dua pria yang berdiri di belakang Jiang Yalan. Begitu dia melihat ada dua orang pria yang cukup tampan, dia langsung bersemangat. "Apa yang ingin kau ketahui? Aku bisa memberitahumu semuanya. Tapi itu ada bayarannya..."


Jiang Yalan sedikit mengerutkan keningnya, dia kemudian bertanya, "apa yang kau inginkan?"


"Beras 200 gram atau dua pria itu untuk tidur denganku, bagaimana?"


Sudah hal lumrah di perkemahan militer ini untuk berhubungan intim dengan sembarang orang. Dengan rampungnya undang-undang negara dan norma sosial, orang-orang mulai bersikap seenaknya dan memperlakukan hal tabu menjadi kebiasaan.


Yin Zhen dan Hu Lian mengangkat alis mereka terkejut dengan bayaran yang diinginkan oleh gadis itu. Yin Zhen tak diragukan lagi memang tampan, Hu Lian yang memancarkan aura kedewasaan serta fitur wajahnya yang tegas juga bisa dikatakan cukup tampan.


Jiang Yalan menghela napasnya pelan, sayangnya dia tak membawa banyak beras hari ini. Yin Zhen dan Hu Lian juga masing-masing hanya menyimpan beberapa gram beras di kantong mereka. Dia kemudian berkata, "kami hanya memiliki 150 gram beras. Hanya itu yang bisa kami tawarkan, dan jika kau menolaknya, maka aku akan mencari orang lain untuk bertanya."


Gadis itu panik, dia juga tak menyangka kalau orang-orang di depannya menyimpan 150 gram beras. Jumlah itu termasuk banyak mengingat orang-orang di sini hanya makan bubur yang di dominasi dengan air.


"Tunggu... Baiklah, aku setuju. Apa yang ingin kalian tanyakan?" meski sedikit disayangkan dia tidak bisa merasakan kenikmatan seksual dengan dua pria tampan di depannya, dia juga tak ingin terus kelaparan. Maka dari itu dia lebih memilih beras.


Jiang Yalan menyerahkan sekantong beras kepada gadis itu. "Jelaskan semua yang kau tahu tentang perkemahan ini."


Gadis itu bernama Gu Xiao, gadis yang dulunya bersekolah di sekolah menengah yang cukup mewah di Beijing. Sayangnya begitu kiamat tiba, sekolahnya hancur dan hampir seluruh keluarganya meninggal, yang tersisa dari keluarganya hanyalah adiknya yang berusia 5 tahun.


Gu Xiao tanpa ragu menjelaskan semuanya kepada Jiang Yalan dan yang lainnya.


Mendengar penjelasan Gu Xiao, Jiang Yalan, Yin Zhen dan Hu Lian mengerutkan keningnya. Mereka tak mengira kondisi di dalam perkemahan militer ini akan sangat kacau.


Para tentara yang menjaga perbatasan terkadang memuaskan nafsu mereka pada gadis-gadis yang ada di dalam perkemahan. Mereka mengatasnamakan kedamaian untuk melakukannya.


Dan juga pemimpin perkemahan hanya mengatur satu mangkuk bubur atau lebih tepat disebut minuman beras untuk satu orang setiap harinya. Pemimpin perkemahan tak lagi memberikan mereka makanan, baik itu roti maupun air bersih.


Setelah mendengar itu semua, Yin Zhen tahu kalau kondisi di perkemahan ini benar-benar kacau. Longgar nya peraturan dan kebebasan tanpa pandang bulu membuat penduduk yang tinggal di dalamnya menderita, tapi mereka tak bisa berbuat banyak mengingat keadaan di luar perkemahan lebih parah.


Yin Zhen menatap Jiang Yalan dan Hu Lian bergantian, "kita harus cepat merebut wilayah ini atau orang-orang di dalamnya akan menderita lebih lama."


Jiang Yalan dan Hu Lian tanpa ragu setuju dengan usulan Yin Zhen. Mereka juga tak tahan melihat orang-orang yang sudah menderita ini semakin tersiksa.


Yin Zhen mungkin telah hidup selama jutaan milenium lamanya, dia juga tak menyangkal fakta bahwa di inkarnasi sebelumnya dia telah membunuh miliaran orang dan ratusan ras. Meski begitu, mereka yang menderita kematian di bawah pedangnya pantas untuk mendapatkannya.


Dia tak terima melihat orang-orang yang tak bersalah diperlakukan layaknya binatang.