Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
13. Bertemu Keponakan



Sesampainya di pusat perbelanjaan, Yin Zhen membawa Yin Mei untuk membeli tas keluaran terbaru yang biasanya sangat disukai oleh para wanita. Setelah memilih satu tas yang menurutnya cocok, tanpa ragu dia langsung membelinya meski harganya di atas 10.000 yuan yang jelas mahal untuk hanya seukuran tas.


Sedangkan Yin Mei di sisi lain membeli beberapa mainan barbie, dia paling suka dengan mainan, dan dia pasti akan pergi ke bagian mainan untuk membeli beberapa mainan dari sana.


Mereka tak menghabiskan banyak waktu di pusat perbelanjaan, hanya 30 menit berlalu. Usai pergi dari sana, Yin Mei ingin bermain dan Yin Zhen langsung menyetujuinya, dia menemani Yin Mei bermain di taman kecil yang menyediakan perosotan dan dua ayunan. Untungnya tidak ada banyak orang di sana, jadi Yin Mei bisa bergerak sesukanya.


Hanya dalam waktu kurang lebih dua jam itu, Yin Mei tertawa lepas. Bermain bersama papanya adalah yang terbaik yang pernah dia alami, bahkan jika dia membandingkan dengan mamanya sendiri.


Ayunan berwarna putih itu dinaiki olehnya, Yin Zhen dengan telaten mengayunkan nya dengan kecepatan sedang, khawatir gadis kecilnya terjatuh.


Ketika hari sudah mulai terik, Yin Mei memutuskan untuk berhenti karena kepanasan, dia juga harus bertemu dengan bibinya sebentar lagi.


Ponsel Yin Zhen bergetar, melihat layar ponselnya, Yin Zhen tersenyum, lalu kemudian mengangkatnya. Suara wanita terdengar dari seberang sana, "kakak, aku akan segera ke Heaven Garden sekarang. Kau tunggu di sana..."


"Eung, baiklah. Hati-hati di jalannya..."


"Eh, aku juga membawa sahabatku, apa tidak apa aku mengajaknya?"


"Tidak masalah, selama kamu nyaman dengan itu."


Yin Hua memutus panggilan tersebut, Yin Zhen serta Yin Mei juga akhirnya memilih untuk kembali ke hotel menunggu kedatangan Yin Hua.


"Papa, apakah bibi akan segera datang?"


"Benar sayang, dia akan datang sebentar lagi..."


"Aku tidak sabar ingin melihat bibi. Mei'er harap dia baik tidak seperti bibi itu..."


Yin Zhen mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan Yin Mei, "bibi itu? Siapa bibi yang Mei'er maksud?"


"Dulu mama sering meminta bantuan pada bibi itu, tapi bibi itu tidak membantunya, bahkan pernah memarahi mama dan aku. Aku tidak ingin memiliki bibi seperti itu lagi..." Sambil menceritakan kisahnya, Yin Mei menundukkan kepalanya sedih dan menggelengkan kepalanya.


Rahang Yin Zhen mengeras saat mendengar kisah itu dari gadis kecilnya. Siapa yang berani memarahi putri Yin Zhen? Dia ingin tahu wanita seperti apa yang berani membuat putri kecilnya bersedih.


Setelah beberapa saat, Yin Zhen menghela napasnya pelan, "Mei'er tenang saja, bibi Yin yang akan kamu lihat adalah orang yang sangat baik. Dia juga menyukai anak-anak sepertimu, papa khawatir nanti kamu akan memilih untuk bermain bersama bibimu daripada aku."


Langsung Yin Mei menggelengkan kepalanya, "tidak papa! Mei'er akan selalu bermain bersama papa, Mei'er janji!"


Menghadapi penampilan menggemaskan itu, Yin Zhen yang tidak tahan langsung mengusap pucuk kepala gadis kecilnya dengan gemas. "Baiklah, papa percaya Mei'er tidak akan meninggalkan papa."


***


Suasana di pusat kota Chengdu sangat ramai, Yin Hua dan Ling Jiyao yang baru saja pulang berbelanja dari pusat perbelanjaan terpaksa harus terjebak diantara kemacetan yang cukup panjang saat ingin pergi ke Heaven Garden Hotel.


Namun untungnya penyebab kemacetan telah terselesaikan dan kendaraan kembali berjalan dengan kecepatan normal. Sesekali Ling Jiyao menanyakan beberapa hal mengenai kakak laki-laki nya, Yin Zhen, dan Yin Hua yang tidak keberatan sama sekali langsung menjawabnya.


Jarak dari tempat dimana mereka bekerja dan Heaven Garden Hotel hanya memakan waktu 25 menit. Sampai akhirnya mobil Ling Jiyao berhenti di parkiran bawah tanah di Heaven Garden Hotel.


"Seberapa kalipun aku memikirkannya, rasanya tidak mungkin kakak memiliki uang sebanyak itu untuk digunakan. Belum lagi bahwa biaya sewa di Heaven Garden Hotel sangat tinggi, tidak berlebihan bahwa hotel bintang lima ini bersaing ketat dengan hotel-hotel bintang lima lainnya di Beijing dan Shanghai."


Bisa bersaing dengan keberadaan hotel bintang lima dari kota raksasa membuktikan bahwa Heaven Garden Hotel cukup layak untuk ditempati oleh para taipan kaya raya.


Ling Jiyao yang bahkan merupakan anak dari pengusaha juga mau tidak mau kagum dengan desain dan interior Heaven Garden Hotel yang luar biasa.


"Kakakmu itu sepertinya sangat luar biasa. Untuk harga sewa kamar biasa saja bisa mencapai ribuan yuan, aku ingin tahu kamar apa yang kakakmu itu sewa."


Yin Hua mengangkat kedua bahunya, "entahlah, tapi dia mengatakan kalau kamarnya ada di lantai delapan kamar A-16."


Ling Jiyao hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, keduanya memasuki lift yang dan menekan angka delapan di sisi lain lift. Tanpa mereka sadari, beberapa orang yang melihat mereka menekan angka delapan terlihat terkejut, tapi itu hanya sesaat sebelum mereka kembali berekspresi biasa.


Sesampainya di lantai kedelapan, lift yang hanya tersisa mereka berdua di dalamnya terbuka.


"Woah..." Yin Hua tampak takjub dengan interior koridor di lantai delapan ini, apakah semua lantai memiliki interior koridor serupa? Ini terlalu mewah.


Ling Jiyao juga kagum, tapi dia lebih tenang. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu bernomor kan A-16.


Tanpa ragu, Yin Hua menekan bel pintu. Tak lama kemudian, seorang pria yang terlihat menawan dan rapi membuka pintu itu. Yin Hua yang melihat pria itu langsung berlari memeluknya, tentu saja pria itu adalah Yin Zhen, kakak satu-satunya yang dimiliki oleh Yin Hua.


"Kakak..." rengek Yin Hua dalam pelukannya.


"Hei, bukankah kau seharusnya membiarkan temanmu masuk terlebih dahulu?"


"Oh? Baiklah. Aku terlalu senang bertemu denganmu setelah sekian lama." Yin Hua mengalihkan pandangannya ke arah Ling Jiyao dan berkata, "masuklah..."


Sejenak Ling Jiyao kagum dengan penampilan kakak Yin Hua. Meskipun Yin Hua terbilang cantik di perusahaan tempat dia bekerja, masih ada beberapa wanita yang bisa menyaingi kecantikannya. Awalnya dia mengira kakak laki-laki sahabatnya itu hanya sekedar tampan dalam standar biasa, bukan ketampanan yang luar biasa.


Jika saja Yin Zhen bisa membaca pikiran Ling Jiyao, dia mungkin akan menggelengkan kepalanya. Kharisma serta pesonanya yang meningkat bukan tanpa alasan, memurnikan tubuhnya dengan Air Suci adalah alasan mengapa kulit serta pesonanya meningkat drastis.


Meskipun tidak ada perubahan spesifik ditubuhnya, mereka yang sudah mengenalnya juga akan merasa asing setelah melihat penampilannya sekarang, tapi dalam batas tertentu, dia masih merupakan orang yang sama seperti sebelumnya.


Begitu Yin Hua dan Ling Jiyao memasuki kamar suite Yin Zhen, mereka berdua tampak terkejut. Terutama Yin Hua, desain interior serta kemewahan yang ada di setiap pojok ruangan membuat kedua matanya berbinar penuh minat. Sesekali dia melihat kakaknya yang tampak tenang, dia ingin tahu darimana kakaknya memiliki kemampuan untuk menyewa kamar semewah ini. Bahkan ketika mereka masih dibawah naungan keluarga besar juga, mereka jelas jauh dari mampu untuk menyewa kamar yang begitu mewah ini.


Karena rasa penasarannya yang tinggi, Yin Hua akhirnya bertanya, "darimana kakak mendapatkan banyak uang? Sebelumya kakak melunasi hutang-hutangku, dan sekarang kakak menyewa kamar mewah untuk dirimu sendiri. Jikapun kakak memiliki lebih banyak uang sekarang, aku ingin kakak lebih menghemat nya atau membuka ladang usaha kakak sendiri."


Yin Zhen mengangkat sedikit alisnya saat mendengar perkataan adik perempuannya, "kau tidak perlu khawatir. Ngomong-ngomong, aku tidak tinggal sendirian di sini..."


"Tunggu, jangan bilang kau tinggal dengan kekasihmu?"


Yin Zhen mengusap dagunya berpikir, "yah... Kau bisa menganggapnya seperti itu."


Dia kemudian berjalan untuk membuka kamar yang ada di sebelah barat, lalu membuka pintunya perlahan.


Seorang gadis kecil yang sangat imut menggaet tangan kanan Yin Zhen tampak tidak sabar untuk berpegangan. Dia memakai gaun berwarna biru muda dengan hiasan bunga kecil di sepanjang leher dan lengannya. Tidak lupa dengan kedua ikat rambut berbentuk bulat yang mengikat rambutnya, membentuk ekor kuda.


"Dia adalah anakku, Yin Mei."


Yin Mei tersenyum dan melambaikan tangan lainnya yang kosong, "halo, bibi!"