Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
02. Hadiah Kecil



Yin Zhen dan Yin Mei kembali ke apartemen. Melihat apartemen yang sudah usang dengan dinding yang catnya terkelupas, Yin Zhen mendesah pelan. Dia harus pindah rumah sepertinya.


Dia menurunkan Yin Mei, lalu menyalakan televisi yang ada di rungan tengah, membiarkan Yin Mei menonton beberapa serial kartun untuk anak seusianya.


Kemudian dia memilih untuk duduk di kursi usang yang ada di pojok ruangan.


"Aku ingat kalau Dewa Reinkarnasi mengatakan kepadaku kalau aku hanya bisa membawa satu harta ketika aku mati. Saat itu aku memilih Kolam Dewa, hanya itu satu-satunya yang berharga di mata orang lemah dan orang kuat. Kolam Dewa berisikan Air Suci berusia 10 triliun tahun, satu tetes Air Suci akan diperebutkan oleh semua orang di Dunia Kultivasi. Dan aku sekarang memiliki seluruh kolam..."


Yin Zhen melirik cincin yang ada di jari telunjuk tangan kanannya, dia bisa merasakan fluktuasi spiritual dari dalam sana. "Seharusnya Kolam Dewa tersimpan di dalam sini..."


Dia mengalihkan kesadaran spiritualnya ke dalam cincin yang ada di tangannya, dia bisa melihat kolam berukuran 60 km panjangnya dan lebar 30 km dengan kedalaman 120 km di dalam sana.


Bagi kebanyakan orang, kolam dengan seluas itu akan lebih cocok disebutnya sebagai danau daripada kolam dan kedalaman itu bahkan melebihi dari ketinggian langit ke darat. Tapi dia yang sudah menjadi Penguasa Langit, dia bisa menciptakan ruang sesuka hatinya dan menciptakan peradaban saat itu mudah baginya. Jangankan puluhan km, bahkan yang ukurannya seukuran matahari saja tergolong kecil untuknya saat itu. Karena dia telah melihat bintang yang ukurannya sejuta lebih besar dari matahari.


"Aku tidak terlalu memperhatikan harta-hartaku sebelumnya, karena setelah aku mencapai puncak, tak ada jalan lagi bagiku untuk menerobos ke tahapan yang lebih tinggi sehingga Kolam Dewa ini telah lama di diamkan begitu lama. Tapi sekarang aku hanya manusia biasa, satu tetes Air Suci bisa dengan mudah melenyapkan tubuhku. Mungkin aku perlu satu mencampurkan satu tetes Air Suci dengan satu kolam air biasa, dengan begitu khasiatnya akan lebih terjaga dan aman untuk tubuh fana."


Air Suci termasuk dalam jajaran harta langka tingkat tertinggi di Dunia Kultivasi, hanya beberapa orang yang berhasil mendapatkannya dari sekian triliunan orang yang ada di Dunia Kultivasi, terlebih proses pengisian Kolam Dewa terbilang sangat lama, hanya beberapa tetes Air Suci terisi di Kolam Dewa setelah setahun lamanya.


Di Dunia Kultivasi, ada tiga kategori harta, harta langka, harta unik dan harta tertinggi. Setiap kategori harta dibagi menjadi tiga tingkatan, harta langka termasuk dalam golongan harta kelas pertama sampai ketiga, harta unik termasuk dalam golongan harta kelas empat sampai Kelas enam sedangkan untuk harta tertinggi termasuk dalam jajaran kelas tujuh sampai sembilan.


Keberadaan harta tertinggi sangat langka, untuk menemukannya diperlukan keberuntungan yang sangat luar biasa. Bahkan dirinya saja yang telah menjadi Penguasa Langit dalam miliyaran tahun, hanya berhasil menemukan enam harta tertinggi, salah satunya adalah Kolam Dewa ataupun Air Suci.


Yin Zhen memperhatikan cincin itu lagi untuk beberapa saat, kemudian dia memandang Yin Mei yang tertawa ruang ketika melihat salah satu tokoh kartun di televisi melakukan hal konyol. Melihat itu, Yin Zhen dengan sendirinya tersenyum. Dia senang melihat gadis kecilnya tersenyum.


"Dengan semua Air Suci ini, menciptakan lingkungan kultivasi yang baik hanya akan menjadi masalah waktu. Akan lebih baik jika aku menemukan beberapa harta, bahkan jika itu hanya harta langka. Dengan bantuan Air Suci, semua harta itu akan dipromosikan menjadi harta unik. Aku tak akan membiarkan Yin Mei merasakan pahitnya dunia, setidaknya tidak untuk sekarang."


Alasan mengapa dia berhasil menjadi seorang Dewa Tertinggi karena caranya yang kejam dan tanpa ampun kepada musuhnya bahkan dirinya sendiri. Dia menggunakan berbagai cara untuk membuat dirinya lebih kuat dari sebelumnya dengan cepat, tak terhitung momen dimana nyawanya hampir melayang karena kecerobohannya sendiri sering terjadi. Itu semua karena dia hanya seorang diri di Dunia Kultivasi yang sangat luas, hanya ada segelintir orang yang dia perhatikan, itupun hanya dia anggap sebagai teman.


Namun di kehidupannya yang sekarang, dia memiliki seorang anak, dia juga pasti akan memiliki seorang istri untuk menjadi ibu sah anaknya. Kelak di masa depan dia akan memiliki sebuah keluarga besar dengan banyak kebahagiaan di dalamnya. Saat itu, tujuannya masih sama, tetap menjadi yang terkuat, tapi maknanya berbeda. Dia menjadi kuat bukan untuk menekan mereka yang lemah, tapi untuk melindungi orang-orang yang disayanginya.


Di saat dia asik memikirkan masa depannya, ponselnya berdering tiba-tiba. Dia melihat siapa yang meneleponnya, namun hanya ada deretan angka yang tak dikenalnya di sana.


"Siapa yang meneleponku?" gumamnya keheranan.


Dia kemudian mengangkat teleponnya, dan suara seorang pria terdengar dari seberang sana. "Halo, apakah anda tuan Yin Zhen?"


Yin Zhen sedikit mengerutkan keningnya, "ya, benar."


"Saya adalah asisten tuan Zi Tian, jika bukan karena anda, tuan Zi Tian kemungkinan besar akan mati sebelum ambulan tiba. Terimakasih banyak tuan Yin. Berhubung tuan Zi masih belum sadarkan diri, saya tidak berhak mengirimkan hadiah kepada anda atas namanya, tapi menunggunya terbangun juga sepertinya membutuhkan waktu sedikit lama. Jadi, bila ada yang anda butuhkan, anda bisa memberitahunya kepada saya. Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih dari saya sebagai asistennya kepada anda karena telah menyelamatkan tuan Zi."


Mendengar itu, Yin Zhen mengelus dagunya sambil menyipitkan matanya. Seperti rubah yang merencanakan sesuatu di dalam otaknya.


"Yang aku butuhkan?"


"Ya, benar tuan Yin. Anda bisa mengatakannya dengan leluasa."


"Kalau begitu aku tak akan segan menyebutkannya. Aku membutuhkan uang... Dan juga mobil, untuk mobil anda bisa memberikan merek apa saja. Lebih bagus lebih baik."


Tidak ada suara untuk beberapa saat di seberang sana, sampai asisten Zi Tian kembali bersuara, "baiklah, tapi nominal untuk uang itu sendiri, berapa tepatnya yang anda inginkan?"


"Mengenai hal ini, anda bisa memutuskannya sendiri. Saya sudah cukup puas jika anda memberi saya sedikit uang..."


Sambil berbicara dengan asisten Zi Tian, tatapannya terus terpaku pada sosok gadis kecil yang masih asik menonton serial kartun di televisi.


Dia harus hidup lebih baik untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tak diragukan lagi kalau dirinya membutuhkan uang untuk pindah dari apartemen kumuhnya ini, dia juga membutuhkan lahan besar untuk menuai manfaat dari Kolam Dewa miliknya. Jika seseorang bertanya padanya apa yang dia butuhkan sekarang, maka jawabannya adalah uang. Mengenai mobil yang dia pinta, itu hanyalah sarana transportasi agar Yin Mei tidak berdesakan di dalam transportasi umum.


"Baiklah, kalau begitu saya akan mengirimkannya sekarang. Anda bisa mengirimkan nomor rekening anda lewat pesan."


Yin Zhen menutup teleponnya lalu mengirimkan nomor rekeningnya lewat pesan ke nomor asisten Zi Tian.


Tidak sampai lima menit, sebuah pesan dari pihak bank mengatakan kalau uang sebesar 15 juta yuan masuk ke rekeningnya. Melihat angka itu, dia tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Di kehidupan sebelumnya, dia sama sekali tidak pernah memegang uang dengan jumlah yang sangat besar. Bahkan jika dia memiliki ribuan harta unik, sensasinya tetap berbeda dengan memiliki lembaran uang lokal asli.


Kemudian telepon dari asisten Zi Tian kembali masuk, asisten Zi Tian berkata, "saya harap uang itu cukup untuk kebutuhan yang anda maksudkan. Sedangkan untuk mobil, anda bisa mengirimkan alamat rumah anda kepada kami dan kami akan mengirimkannya."


Yin Zhen dengan ringan menjawab, "bukankah anda sudah tahu dimana saya tinggal? Anda bahkan tahu nama saya dan nomor telepon saya, saya rasa mustahil anda tidak tahu tempat tinggal saya."


"Ini... Saya minta maaf. Saya tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya demi keamanan tuan Zi. Kalau begitu saya akan mengirimkan mobilnya sekarang."


Dia berjalan menghampiri Yin Mei.


"Apa yang kamu tonton?"


"Ah? Ini adalah serial televisi kesukaanku, namanya Doraemon. Salah satu karakter di dalamnya bernama Nobita, dia selalu menjadi bahan ejekan Gian dan Suneo, mereka bertiga sangat lucu!"


"Apakah begitu? Kalau begitu, yang mana Nobita di antara mereka?"


"Papa tidak tahu? Nobita itu orang yang memakai kacamata, sedangkan Suneo, eum, dia hidungnya tajam seperti pisau, sedangkan Gian, dia yang paling besar di antara semua pemain. Sedangkan Doraemon, dia adalah kucing robot yang memiliki kantong ajaib, ada satu lagi pemain, dia perempuan, namanya Shizuka. Dia sangat baik ke Nobita..."


"Kalau begitu peran papa di sini sebagai Gian, karena papa yang paling besar."


"Tidak, papa memang besar, tapi tidak jahat seperti Gian. Papa sangat baik, berbeda dengan Gian."


"Benarkah? Apakah papa sangat baik?"


"Eung! Papa sangat baik, bahkan tadi papa berhasil menyelamatkan orang!"


Mendengar itu, Yin Zhen tak bisa menahan keinginannya untuk mencubit pipi Yin Mei dengan gemas. "Karena Mei'er memuji papa, papa akan memberikanmu hadiah. Mungkin hadiahnya akan datang sebentar lagi..."


Kedua mata Yin Mei langsung berbinar begitu mendengar kata 'hadiah' keluar dari mulut Yin Zhen. "Hadiah? Benarkah? Mei'er sangat suka hadiah!"


Suara klakson terdengar dari luar apartemennya, saat Yin Zhen mendengarnya, dia tahu kalau mobil yang dikirimkan asisten Zi Tian telah sampai.


"Mei'er, bagaimana kalau kita keluar untuk melihat hadiahnya?"


"Ya!"


Mei'er menjawab dengan semangat tinggi. Yin Zhen langsung menggendong Yin Mei dan berjalan keluar apartemen.


Karena apartemen yang ditinggalinya bukan apartemen kelas atas, jadi tidak ada lahan parkir pribadi di dalamnya. Hanya ada sedikit lahan di halaman depan, dan biasanya orang-orang yang mengendarai mobil atau motor, akan memarkirkan nya di sana.


Kebetulan apartemennya berada di lantai dua, dia hanya perlu menuruni sedikit tangga untuk sampai di lantai bawah. Di saat yang sama, pria yang diketahui adalah supir dari mobil yang dikendarainya itu menatap Yin Zhen, kemudian dia kembali menatap kembali lembar foto di tangannya. Memastikan apakah orang di depannya sama dengan yang atasannya maksudkan.


"Apakah anda tuan Yin Zhen?" tanya supir itu.


Yin Zhen hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


Supir itu kembali berkata, "ini mobil yang anda inginkan tuan. Anda bisa menandatangani surat ini sebagai pemilik mobil ini mulai sekarang."


Yin Zhen dengan santai menandatangi selembar kertas itu, dan kembali mengembalikan penanya kepada supir itu. Sikap Yin Zhen yang acuh tak acuh membuat supir itu sedikit tidak nyaman, dia dengan cepat menyerahkan kuncinya kepada Yin Zhen.


"Ini kuncinya, tuan. Kalau begitu, saya permisi..."


Supir itu berjalan menjauh dari pasangan ayah dan anak itu. Yin Zhen sendiri tidak memperhatikan supir itu, dia malah memperhatikan ekspresi Yin Mei.


"Apa kau melihat mobil berwarna biru itu? Itu adalah hadiah yang papa maksud. Bagaimana, apakah kau menyukainya?"


"Mobil biru? Apakah yang itu?" Yin Mei menunjuk ke arah mobil kini menjadi miliknya.


"Iya, benar. Apakah kau tidak suka?"


"Mei'er suka! Hanya saja, Mei'er sebelumnya tidak pernah mengendarai mobil bagus. Jadi Mei'er tidak yakin apakah mobil itu adalah hadiahnya."


"Karena Mei'er suka, bagaimana kalau kita mengendarainya untuk mengelilingi kota?"


"Mei'er suka itu! Mei'er akan mengelilingi kota dengan mobil baru!"


Dia tak tahan melihat raut senang di wajah gadis kecilnya, dia juga ikut tertawa karena rasa bahagia yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


Mobil yang baru saja dikirimkan oleh asisten Zi Tian adalah BMW X5 M, salah satu mobil mewah di China. Harganya sendiri jelas mahal, dan untuk mobil di depannya, Yin Zhen mengira kalau mobil itu berada di kisaran 2 sampai 3 juta yuan.


Dia membuka pintu mobil dan menempatkan Mei'er tepat di samping kursi pengemudi. Yin Zhen pada akhirnya mengajak anak semata wayangnya berkeliling kota Beijing selama satu jam lamanya, terkadang mereka akan berhenti di beberapa toko makanan dan mainan. Selama satu jam itu, Yin Mei bisa merasakan betapa papanya sangat memanjakannya. Semua yang dia inginkan, pasti akan dibelikan olehnya saat itu juga.