
Pagi baru kembali menyambut pasangan ayah dan anak di dalam sebuah apartemen tua. Kedua orang itu tak lain adalah Yin Zhen dan Yin Mei, mereka sekarang tengah menyantap sarapan yang tersaji sederhana di atas meja makan.
Semalam Yin Zhen sendiri tidak tidur, dia menghabiskan waktu tiga jam untuk menggambar denah rumah barunya, lalu saat jam 7 malam, dia mengirimkan gambar denah dan sketsa rumah barunya kepada Hu Lian. Hu Lian saat itu terkejut setelah melihat foto yang dikirimkan Yin Zhen, sketsa rumah itu sangat rapi dengan detail yang jelas.
Pembagian ruang yang adil dan letak setiap ruang yang dinamis. Hu Lian mengira Yin Zhen adalah seorang arsitektur kelas atas, bagaimanapun tidak banyak orang yang bisa menggambar denah rumahnya sendiri sesuai keinginan, maka dari itu mereka membutuhkan jasa seorang arsitektur untuk menggambarkannya.
Tentu saja bagi Yin Zhen, tidak ada yang sulit baginya di dunia ini. Dia yang telah hidup triliunan tahu lamanya, mustahil tidak mengetahui kemampuan dasar manusia yang hanya menggambar dan sedikit menganalisis.
Dia bahkan pernah membuat formasi yang menghabiskan lahan ber hektar-hektar luasnya dan menghabiskan waktu selama 100 tahun karena gambar formasi yang begitu rumit dan kompleks. Menggambar desain rumah saja hanya pekerjaan yang mudah baginya.
Kembali ke cerita, Yin Zhen yang sudah selesai memakan hidangannya begitu juga dengan gadis kecilnya, langsung mencuci semua piring dan mangkuk bekas mereka pakai. Hari ini akan menjadi hari sibuk bagi mereka berdua, karena banyak hal yang harus mereka lakukan.
Setelah bersiap-siap dan mengemas semua pakaian ke dalam koper masing-masing, akhirnya mereka berangkat keluar dari apartemen tua itu. Tapi sebelum itu, dia harus menyerahkan kunci apartemen kepada pemilik gedung.
Begitu mereka sampai di lantai bawah, Yin Zhen bertemu dengan Ma Haoran, istri pemilik gedung ini.
"Yin Zhen? Kau mau pergi kemana membawa begitu banyak barang?" tanya Ma Haoran. Dia memperlakukan setiap penyewa apartemen dengan ramah.
"Bibi Ma, sepertinya mulai hari ini aku tidak bisa lagi tinggal di sini. Aku sekarang memiliki seorang putri, aku harus tinggal di lingkungan yang lebih baik demi putriku."
Mendengar itu, Ma Haoran mengalihkan pandangannya ke arah gadis kecil yang ada di gendongan Yin Zhen, "gadis kecil ini anakmu? Betapa manisnya... Halo gadis cantik..."
"Halo bibi..." balas Yin Mei ramah. Penampilan Ma Haoran memang tidak terlalu tua meski usianya hampir menginjak usia kepala empat. Wajar bagi Yin Mei untuk memanggilnya sebagai bibi.
Kemudian Ma Haoran kembali mengalihkan pandangannya ke arah Yin Zhen, "aku pribadi suka dengan gagasanmu. Tapi jika kau kekurangan uang, kau bisa kembali ke sini. Aku akan mengosongkan apartemenmu untuk sementara waktu jika kau ingin kembali."
"Yah... Itu tidak perlu, aku juga meninggalkan semua barangku di apartemen. Selain pakaian-pakaian ini, tidak ada yang ku bawa, bibi Ma bisa menggunakannya atau menjualnya."
"Eh? Kau tidak membawa barang-barangmu? Kenapa?"
"Seperti yang aku bilang tadi, aku ingin memberikan yang terbaik untuk putriku. Dan aku memerlukan furnitur yang lebih bagus, semua barang-barangku tidak ada yang bagus, hanya beberapa barang sederhana saja. Jadi aku meninggalkannya..."
Ma Haoran menatap Yin Zhen dengan kilatan aneh di matanya. Tapi dia tidak banyak tanya, biarlah itu menjadi urusan Yin Zhen sendiri. Dia juga tidak berhak ikut campur urusan orang lain.
"Kalau begitu aku akan memilih beberapa yang ku butuhkan, mungkin sisanya akan di jual. Apa itu tidak apa-apa?"
Yin Zhen menganggukkan kepalanya yakin, "tidak apa-apa. Bibi Ma bisa menjualnya atau menggunakannya, itu terserah bibi."
Setelah bertukar beberapa kalimat, akhirnya Yin Zhen berpamitan kepada Ma Haoran dan pergi dari lingkungan apartemen lamanya.
Sementara itu di sisi lain apartemen, seorang pria dengan teropong di tangannya terus memperhatikan pergerakan Yin Zhen. "Tidak ada masalah apapun pada orang itu, dia terlihat normal seperti orang lainnya. Tapi kenapa Long Hu memintaku untuk mengikutinya?"
Pria itu adalah Bian Lu. Setelah kembali dari Amerika, dia langsung menjalani tugasnya, memantau pergerakan Yin Zhen dengan hati-hati.
Long Hu juga tidak menjelaskan alasan mengapa dia ditugaskan untuk memantau pergerakan orang itu. Jadi dia cukup penasaran sekarang dengan motif Long Hu sebenarnya.
Melihat sepasang ayah dan anak itu pergi mengendarai mobil mereka, Bian Lu juga tak tinggal diam dan mulai menjalankan mobil sedannya sambil menjaga jarak aman.
Di dalam mobil BMW X5 M, Yin Mei mengajukan pertanyaan, "papa, apakah kita akan kembali ke tempat kemarin?"
"Ya, kita akan mencari hotel untuk tinggal sementara menunggu rumah kita selesai dibangun."
"Tinggal di hotel? Apa hotel itu seperti rumah?"
"Ya... Mei'er bisa mengatakannya seperti itu, tapi itu bukan rumah, hanya penginapan biasa. Kita harus membayar uang untuk tinggal selama beberapa hari di dalamnya."
"Mei'er belum pernah nginap di hotel sebelumnya..." Mei'er mengelus dagunya menampilkan sosoknya yang begitu polos dengan kedua mata besar cerah.
"Maka hari ini adalah pengalaman Mei'er menginap di hotel."
Yin Mei hanya menganggukkan kepalanya meski tidak terlalu mengerti perkataan papanya, dia tahu papanya akan selalu membuatnya senang. Yin Zhen mengendarai mobilnya setelah memasukkan semua koper ke dalam bagasi, dia juga membawa beberapa makanan ringan yang masih tersisa kemarin untuk dimakan gadis kecilnya.
Karena selama diperjalanan dipenuhi dengan canda tawa dari pasangan ayah dan anak itu, tak terasa satu setengah jam berlalu begitu saja dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Mereka berhenti di hotel Heaven Garden, salah satu hotel yang menyediakan banyak fasilitas di dalamnya. Hotel Heaven Garden termasuk dalam jajaran hotel bintang lima di Changdu, rata-rata orang yang menginap di dalamnya adalah orang-orang mampu.
Tentu saja karena hari ini baik Yin Zhen maupun Yin Mei mengenakan pakaian baru dan mobil mewah, tak ada yang menganggap mereka sebenarnya tinggal di apartemen tua selama ini.
Namun ketika dia turun, dia memperhatikan sesuatu dari spion mobilnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yin Mei dan berkata, "Mei'er, papa harus keluar dulu sebentar. Bagaimana kalau Mei'er tunggu di sini, hanya lima... Tidak, hanya tiga menit."
Raut wajah Yin Mei langsung sedikit cemberut ketika mendengar papanya akan pergi sendiri keluar meninggalkannya, "papa mau kemana? Mei'er tidak suka sendirian..."
Melihat raut wajah Yin Mei yang memelas, Yin Zhen sebagai ayahnya tidak ingin melihat Yin Mei bersedih, "baiklah, kalau begitu papa akan menggendongmu. Kesini..."
Yin Mei kemudian kembali tersenyum, dia dengan senyum sumringah nya duduk di antara kedua tangan papanya.
Selama diperjalanan tadi, dia memperhatikan ada seseorang yang selalu mengikutinya. Untuk memastikan, dia mempercepat laju kendaraannya, begitupun mobil lainnya mempercepat laju kendaraannya juga.
Sampai akhirnya mobil itu sekarang masih mengikutinya, bahkan ikut memarkirkan mobilnya di dalam area parkiran hotel.
Yin Zhen perlahan berjalan menghampiri mobil sedan itu santai, kemudian dia berkata, "aku tahu kau membuntuti ku selama ini. Kenapa kau tidak keluar sekarang?"
Bian Lu yang ada di dalam mobil terkejut, dia menggelengkan kepalanya pelan seraya menghela napasnya. Padahal dia telah berusaha menjaga jarak dan berperilaku tidak mencolok. Jika yang di pantaunya adalah orang lain, kecil kemungkinan mereka tak akan menyadari keberadaanya, tapi yang dia pantau sekarang adalah Penguasa Langit, Yin Zhen.
Sekalipun saat ini kekuatannya tergolong lemah, dia bisa merasakan kehadiran orang lain ketika memasuki radius wilayahnya.
Mau tidak mau, Bian Lu membuka pintu mobil dan keluar dengan wajah sedikit pasrah. "Saya tidak mengira anda akan mengetahui keberadaan saya secepat ini..."
"Benar, sangat disayangkan kalau yang kau targetkan adalah aku. Sekarang jelaskan siapa kau dan mengapa kau mengikutiku?" Yin Zhen menginterogasi Bian Lu.
"Itu rahasia, saya tidak bisa memberitahunya, tapi anda bisa tenang karena saya tidak berniat membahayakan anda."
Mendengar itu, Yin Zhen sedikit mengerutkan keningnya, "membuntuti ku tapi tidak berniat mencelakai ku?" dia termenung sejenak, kemudian seseorang muncul di dalam kepalanya, "sepertinya kau salah satu dari orang-orang Zi Tian."
Bian Lu cukup terkejut mengetahui analisis Yin Zhen sangat tepat. "Saya tidak bisa mengatakannya, tapi saya tidak akan menyangkalnya. Anda bisa berspekulasi sesuka anda."
Yin Zhen sedikit terkekeh saat itu, "ternyata kau tipe orang yang cukup keras kepala. Baiklah, aku tak akan mempermasalahkannya lagi, tapi sampaikan pada Long Hu untuk tidak membuntuti ku. Aku bukan dari keluarga berpengaruh dan dia seharusnya sudah tahu hal itu."
Yin Mei yang mengemut permen di gendongannya hanya menatap papanya dan paman di depannya bergantian. Dia tidak mengatakan apapun selama ini.
Namun sedetik kemudian raut wajah Yin Zhen langsung berubah, dia merasakan ada begitu banyak kehadiran yang mengintainya tiba-tiba dari beberapa arah.
Bian Lu di sisi lain tidak merasakan apapun, tapi dia sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat perubahan di raut wajah Yin Zhen.
Yin Zhen kemudian berkata, "Mei'er, bagaimana kalau kita bermain game menghitung? Mei'er akan menutup kedua matanya lalu menghitung sampe 100 dan ketika papa sudah sampai di dalam hotel, maka Mei'er bisa membuka mata kembali. Bagaimana?"
"Apakah Mei'er akan mendapatkan hadiah?"
"Tentu saja, papa akan mengabulkan satu permintaan Mei'er, apapun yang Mei'er inginkan."
"Yeay! Kalau begitu aku mulai! 1...2...3..."
Yin Mei menutup kedua mata dengan kedua tangannya sambil menghitung.
Yin Zhen yang melihat itu langsung membawa uang recehan yang ada di sakunya, dalam sekali lambaian, lima uang logam melesat ke lima arah yang berbeda. Bian Lu yang melihat tiu keheranan, namun sedetik kemudian, lima suara pria terdengar dari lima arah, tepatnya dimana Yin Zhen melemparkan ke lima uang logamnya.
"Apa?!"
Bian Lu jelas terkejut dengan yang apa dia saksikan. Lima orang dewasa tiba-tiba keluar dari persembunyian mereka dengan senjata api di masing-masing tangan mereka. Mereka semua menodongkan senjata mereka ke arah Yin Zhen dan Bian Lu, tapi raut kesakitan di wajah mereka sama sekali tidak bisa disembunyikan.
"Sialan! Bagaimana dia bisa tahu keberadaan kita?"
"Padahal kita sudah sangat berhati-hati dan mengamati pergerakannya dalam waktu lama."
"Dia bahkan menggunakan uang logam untuk melukai kita. Sepertinya dia bukan orang yang biasa..."
"Itu sudah jelas, bodoh! Bagaimana bisa orang biasa melemparkan uang logam secara horizontal dengan kecepatan luar biasa? Terlebih dia melemparkan kelimanya langsung!"
Kelima pria itu tanpa ragu berbicara dan berdebat satu sama lain. Yin Zhen yang melihat itu langsung mengambil uang logam lainnya, dalam sedetik, kelima senjata api yang dipegang oleh mereka hancur.
"Apa?"
"Bagaimana mungkin?"
Kelima pria itu memandang Yin Zhen seolah pria itu adalah monster yang harus mereka hindari. Tatapan dingin Yin Zhen telah mengartikan semuanya, dia tidak akan melepaskan mereka semua. Menargetkan nya ketika dia sedang berada di samping Yin Mei, itu sama saja dengan membahayakan nyawa gadis kecilnya, dan dia jelas tidak bisa menerimanya.
Yin Mei adalah harta sekaligus belahan jiwanya. Dia adalah satu-satunya orang yang harus dia lindungi, setidaknya untuk sekarang.
Yin Zhen jelas tidak memperhatikan keterkejutan mereka. Dia dengan cepat menggerakkan kedua kalinya, melesat secepat kilat ke arah kelima orang itu. Karena segel pertamanya telah terbuka, itu artinya kini dia adalah seorang kultivator tahap puncak Qi Refining. Kecepatannya tidak mungkin bisa dibandingkan dengan orang lain.
Di mata Bian Lu dan kelima orang itu, mereka hanya melihat bayangan hitam yang bergerak dari satu arah ke arah lainnya dengan sangat cepat. Setiap bayangan itu bergerak, salah satu dari kelima pengintai itu ambruk.
Kemudian dengan secepat kilat dia kembali ke posisi semulanya lalu menatap Bian Lu, "aku membunuh empat dari mereka, aku menyisakan satu diantara mereka untuk kau interogasi. Setelah itu kau bebas mau membunuhnya atau tidak. Sedangkan mengenai apa yang terjadi sekarang, aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Bian Lu yang masih terkejut hanya bisa menganggukkan kepalanya. Namun beberapa detik kemudian dia tersadar apa yang sedang terjadi, dia menatap Yin Zhen dengan jenis berbagai jenis tatapan, kagum dan juga takut.
"Bagaimana... Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanyanya ingin tahu.
Yin Zhen diam tidak membalas perkataan Bian Lu. Dia mengabaikannya sebelum berbalik pergi ke dalam hotel untuk memesan kamar sementara Yin Mei masih menghitung dengan kedua mata tertutup.