
Sementara itu di Negeri Jiran, di dalam gudang kosong yang luas, seorang wanita dengan kedua mata tertutup kain hitam serta kedua tangan dan kakinya terikat terlihat terus memberontak berusaha untuk lepas dari ikatan tali itu meski usahanya sia-sia.
Wanita itu tidak lain adalah Mei Qi, ibu Yin Mei. Karena kesalahannya dimana dia pernah meminjam uang dari pinjaman ilegal, sekarang dia disekap di dalam gudang itu oleh sekelompok pria dewasa berbadan besar.
Jika saja dia memiliki banyak uang, situasi semacam ini tidak akan pernah terjadi. Tapi langit berkehendak lain, di saat dia berusaha keras mencari uang demi melunasi hutang-hutangnya, sekelompok orang yang dia kira berasal dari agen pinjaman ilegal itu malah menangkapnya.
"Lepaskan aku!" teriak Mei Qi lantang.
"Hoho... Kau tidak bisa melunasi hutangmu sampai sekarang dan kau ingin kamu melepaskanmu? Ya... Kami bisa saja melepaskanmu setelah ada orang yang tertarik untuk membelimu nanti," jawab seorang pria yang diketahui adalah suruhan dari agen pinjaman ilegal.
"Kau... Kau akan menjual ku?! Bukankah aku sudah mengatakannya pada kalian sebelumnya bahwa aku akan segera melunasi nya dalam waktu satu bulan? Mengapa kalian tidak menunggu dan memberiku sedikit waktu untuk melunasi nya?!"
"Hei ****** kotor, kau pikir kami disini memiliki kesabaran untuk menunggumu membayar semua hutangmu itu? Kami sudah menjelaskan semuanya di dalam kontrak bahwa uang yang kau pinjam akan langsung dibayarkan setelah tiga bulan masa pinjaman, namun sampai sekarang, kau bahkan belum melunasi nya. Jika kau tidak ingin keluargamu terkena masalah, diam dan turuti perkataanku."
Mei Qi terdiam.
Itu memang salahnya karena melanggar perjanjian kontrak, tapi tetap saja menculiknya juga bukan hal yang tepat untuk dilakukan. Apalagi dengan kondisi dan situasinya sekarang yang berada di negeri lain, sulit baginya untuk meminta pertolongan.
"Bos! Aku mendapatkan pesan dari seseorang bahwa dia tertarik untuk membeli wanita ini. Bagaimana bos? Haruskah aku memberikan alamat gudang ini kepadanya?"
"Eum... Aku tidak mengira dia akan cepat laku juga. Yah, itu bisa dimengerti melihat betapa cantiknya dia. Sebenarnya aku ingin menidurinya untuk diriku sendiri, tapi karena dia adalah barang ekslusif, aku tidak bisa menodainya agar bisa menawar harga yang lebih tinggi. Kirimkan saja alamat gudang ini dan katakan padanya untuk datang paling telat besok, kami tidak memiliki banyak waktu."
"Siap bos!"
Dengan cepat anak buahnya mengirimkan balasan kepada orang asing yang berniat membeli Mei Qi. Sedangkan di sisi lain, Bian Lu menyunggingkan senyumnya melihat alamat yang tertera di ponselnya.
"Dasar bajingan hina. Menjual manusia seperti itu bahkan tanpa ragu sedikitpun. Mengingat wanita ini adalah istri dari tuan Yin membuatku ingin tahu secantik apa dia, seharusnya sosok yang menjadi istri tuan Yin tidak akan sederhana, bukan?"
Bian Lu dan empat orang lainnya ditugaskan oleh Long Hu untuk menyelamatkan Mei Qi dari sekelompok pria bejat yang menangkapnya. Bian Lu yang telah melihat kekuatan Yin Zhen langsung menyetujui permintaan Long Hu, sedangkan keempat rekannya sedikit ragu saat itu sebelum Long Hu menaikkan bayaran untuk mereka.
"Zhao Feng, Ming Shu, Xu Jiang, kalian bertiga ikut denganku, sedangkan untuk kau, Yao Jian, perhatikan pergerakan mereka dan langsung laporkan padaku jika kau melihat mereka bergerak, paham?"
Bian Lu dengan tegas memberi perintah kepada keempat rekan sekaligus bawahannya. Long Hu memberinya wewenang untuk memerintahkan orang-orang ini.
"Paham!"
Bian Lu dan tiga orang lainnya langsung melompat dari mobil van yang mereka kendarai. Pakaian mereka yang didominasi dengan hitam serta penutup kepala dan juga topeng yang menutupi wajah mereka membuat keempat sosok itu berbaur dengan kegelapan malam dalam sekejap waktu.
Dalam waktu lima belas menit, keempatnya sampai di lokasi yang tertera di ponsel Bian Lu.
Bian Lu menekan earphone yang dipakainya dan bertanya, "bagaimana situasi di dalam sana?"
Suara Yao Jian terdengar dari earphone yang mereka pasang, "aman bos. Tak ada pergerakan mencurigakan dari mereka."
"Baiklah, kerja bagus. Kita akan bergerak sekarang."
Zhao Feng, Ming Shu dan Xu Jiang bergerak ke tiga arah yang berbeda, begitu juga dengan Bian Lu. Mereka mencari posisi aman untuk memasuki gudang tua itu, bagaimanapun pihak lawan memiliki lebih banyak orang dibandingkan mereka yang hanya berempat.
Mereka juga tidak bisa mengambil resiko menggunakan senjata api yang terlalu menarik perhatian.
Bian Lu berjalan mengendap-endap ke sisi gudang, saat melihat jendela di sana, dia mengintip untuk melihat situasi di dalam gudang.
"Enam pria berbadan besar dan sepuluh orang biasa. Ini akan lumayan sulit, tapi tidak mustahil untuk menyelamatkan istri tuan Yin."
Dia melesat ke dalam gudang dalam waktu hitungan detik, langkahnya yang tidak bersuara tidak menarik perhatian sekitarnya. Dibantu dengan pakaiannya yang berwarna gelap, langkahnya sama sekali tidak terhambat sampai dia mengeluarkan pisau dan menggorok tiga orang sekaligus dari belakang.
"Siapa kau?!" Salah satu pria berbadan besar langsung menyadari keberadaannya, dia langsung mengambil pistolnya dan menodongkan nya ke arah Bian Lu, siap untuk menembak.
"Sekarang!"
Di waktu bersamaan, Bian Lu berteriak. Ketiga rekannya juga keluar dari bayangan dan membunuh setidaknya dua orang dalam sekali waktu. Gerakan mereka yang cepat dan lihai sulit untuk di tangkap oleh orang-orang itu.
Suara tembakan yang saling bersahutan terdengar di dalam gudang, orang-orang dari pihak lawan yang tersisa dengan panik langsung melancarkan serangan mereka berharap bisa melukai Bian Lu dan yang lainnya.
"Sialan! Situasi macam apa ini?!"
Salah satu pria berbadan besar yang diduga adalah pemimpin kelompok dengan panik melarikan diri dari Bian Lu dan yang lainnya. Keterampilan tempur keempat orang itu berada di level lain, sudah jelas bahwa kelompoknya tidak akan bisa menang melawan mereka.
"Lari!"
Setelah delapan orang terbunuh, sisanya memutuskan untuk melarikan diri. Tapi sayangnya Bian Lu tidak membiarkan mereka lepas, Bian Lu paling benci terhadap seseorang yang dengan mudahnya mempermainkan nyawa seseorang layaknya mainan. Dan kebetulan orang-orang di depannya ini adalah tipe orang yang sangat dia benci.
"Jangan sisakan satu pun dari mereka!"
Zhao Feng dan yang lainnya menganggukkan kepalanya dan langsung mengejar orang-orang yang berniat untuk lari dari genggaman mereka. Nasib buruk menimpa sekelompok orang itu karena harus bertemu dengan Bian Lu.
Usai bertarung selama kurang lebih 15 menit, tidak ada lagi suara pertarungan di dalam gudang. Mei Qi yang kedua matanya masih tertutup kain hitam, seluruh tubuhnya gemetaran hebat.
Siapapun akan tahu kalau hal yang baru saja terjadi adalah saling pembunuhan, walau dia tidak melihatnya, tapi dia ada di sana sebagai saksinya.
Apakah dia akan dibunuh oleh orang-orang yang datang entah darimana itu untuk menghilangkan bukti?
Dia bahkan belum bertemu dengan anaknya, Yin Mei, haruskah dia mati di sini?
Mei Qi tak tahu harus berbuat apa, dia jauh dari mampu untuk melawan sekelompok orang yang datang entah darimana itu.
"Ampuni aku... Aku mohon... Aku akan melunasi hutangnya, aku berjanji..." yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah memohon atas nyawanya sendiri. Dia tidak perduli harus menundukkan kepalanya serendah apa, asal nyawanya terselamatkan, maka semuanya sepadan.
Bukan karena dia takut mati, tapi karena di takut orang-orang yang dia tinggalkan akan terus menjalani kehidupan yang menyiksa setelah dia mati nanti. Meskipun kedua orang tuanya membencinya, tidak dapat dia pungkiri kalau dia masih menyayangi mereka, cita-citanya adalah untuk membahagiakan mereka berdua meski sebelumnya telah mengecewakannya.
Dia juga tidak ingin Mei'er menjadi orang yang tidak memiliki ibu. Lebih dari itu semua, dia enggan berpisah dengan putri kecilnya.
Bian Lu yang melihat Mei Qi, dia langsung menghampirinya dan melepaskan semua ikatan tali yang mengekang tubuhnya serta kain hitam yang melilit menutupi kedua matanya.
"Nyonya Mei, saya Bian Lu dan ini ketiga rekan saya. Kami diperintahkan untuk menyelamatkan anda oleh atasan kami."
Mei Qi yang masih menangis tak bisa mencerna kata-kata Bian Lu sepenuhnya. Hingga sedetik kemudian, dia mengangkat kepalanya menatap kedua iris Bian Lu yang gelap.
"A-apa kau mengatakan yang sebenarnya? Kalian tidak berniat untuk membunuhku 'kan?"
Bian Lu dengan tegas menggelengkan kepalanya, "kami tidak berniat demikian, nyonya. Atau atasan kami akan langsung membunuh kami tanpa ragu."
Mendengar itu, seketika kedua lutut Mei Qi menjadi lemas. Dia terjatuh di atas tanah sambil berusaha menopang tubuhnya yang terus gemetaran. "Syukurlah... Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kalian semua tidak datang. Terimakasih banyak..."
Keempat orang itu terdiam, mereka bisa mengerti alasan kenapa Mei Qi terlihat sangat menyedihkan sekarang. Mereka hanya bisa menunggu sampai Mei Qi sedikit tenang.
"Ini sudah kewajiban kami untuk melaksanakan perintah dari atasan kami, nyonya."