
"Papa, aku ingin lagi!"
Yin Mei dengan semangat menyodorkan piringnya yang sudah kosong kepada Yin Zhen. Yin Zhen yang melihat itu diam-diam meringis dalam hati.
"Mei'er makan saja punya papa, papa sudah kenyang."
"Benarkah? Kalau begitu Mei'er akan memakan makanan papa!"
Beberapa saat yang lalu, Yin Zhen terlalu fokus pada pekerjaannya sehingga melupakan keberadaan Yin Mei yang tertidur di dalam mobil dengan kedua pintu terbuka. Dia merasa bersalah dan langsung membawa Yin Mei untuk membelikannya makanan keinginannya, dan sekarang mereka berada di restoran ayam kesukaan gadis kecilnya itu.
Usai membangun brangkas bawah tanah, dia yang awalnya akan memasang susunan formasi untuk menjaga kestabilan dan kekokohan brangkas tersebut, terpaksa harus dia urungkan karena tidak ingin membiarkan Yin Mei menunggu lebih lama.
Yin Zhen sesekali melihat ponselnya, tapi sayangnya tidak ada balasan sama sekali dari Mei Qi.
"Kemana orang ini pergi? Apakah dia kerja di pedalaman hutan? Bahkan sampai sekarang dia masih belum membaca pesan ku."
Waktu gerbang Mana terbuka kini kurang dari enam hari, dan dia harus secepatnya mengumpulkan Mei Qi dan seluruh keluarganya yang secara tidak langsung adalah keluarga Yin Mei juga.
Dia sekali lagi mengirimkan pesan teks lain kepada Mei Qi. Berharap semoga Mei Qi langsung membacanya dan memberikannya balasan.
Tidak lama kemudian keduanya akhirnya menyelesaikan makan siang mereka yang seharusnya menjadi makan malam mengingat waktu mereka makan barusan. Yin Mei yang tidak ingin kembali ke hotel lebih cepat ingin berbelanja makanan ringan dengan papanya.
"Papa, Mei'er ingin es krim!"
"Baiklah, papa akan membelikannya untukmu. Kita akan cari toserba terlebih dahulu."
Setelah berkendara lima menit, mereka berhenti di depan toserba kecil-kecilan yang menjual makanan berat maupun makanan ringan. Yin Zhen mengais gadis kecilnya lalu memasuki toserba dengan santai.
"Papa, berhenti dulu."
Tatapan Yin Mei teralihkan pada seorang gadis berusia belasan tahun yang dikerumuni oleh sekelompok pria sepantaran nya di sebelah gang yang ada di sisi lain toserba.
"Papa, kenapa mereka memukul kakak itu? Apakah mereka berkelahi?"
Yin Zhen mengikuti arah pandang putri kecilnya dan balas berkata, "mereka hanya bermain-main. Darimana Mei'er tahu mereka sedang berkelahi?"
"Karena kakak itu terlihat tidak nyaman dikerumuni oleh banyak kakak laki-laki itu. Apa papa tidak bisa menolongnya? Mama pernah bilang kepada Mei'er kalau ketika seseorang membutuhkan pertolongan, kita harus menolongnya."
Yin Zhen terdiam sejenak. Dia tidak terlalu peduli dengan gadis berusia belasan tahun itu sebenarnya, tapi dia juga tidak terlalu nyaman dengan perundungan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
"Mei'er ingin papa membantu kakak itu? Apa yang papa dapatkan setelah membantu kakak itu?"
Yin Mei langsung kebingungan, dia mengerutkan keningnya terlihat sedang berpikir keras, "eumm... Itu... Ah! Mei'er akan memberikan setengah es krim kepada papa nanti. Bagaimana? Bukankah itu adil?"
"Hahaha! Baiklah... Baiklah, papa tidak sabar ingin memakan es krim sekarang."
Dia melangkah mendekati pusat kerumunan, gadis berusia belasan tahun itu terlihat acak-acakan dengan lebam biru di wajah dan kedua kakinya yang sedikit terbuka karena memakai rok pendek.
"Kau berani memutuskan ku, hah?! Dasar ****** tidak tahu malu! Kau bahkan tidak memiliki orang tua tapi kau berani bersikap sok di hadapanku. Dasar ****** sialan!"
Pria berpenampilan cukup mengerikan itu hendak menendang kembali tulang kering gadis di depannya, tapi pukulan yang cukup keras tiba-tiba mendarat di belakang lehernya.
Pria itu langsung berbalik untuk melihat sang pelaku, dan ternyata pelakunya adalah pria dewasa yang tengah mengais anaknya dengan santai. "Apa yang kau lakukan, hah?!"
Yin Zhen mengangkat kedua bahunya tidak peduli, "kau tidak lihat? Aku tadi memukul lehermu. Masih sakit kah?"
Enam pria lainnya yang mengamati Yin Zhen dari samping mulai mengambil aba-aba untuk menyerang Yin Zhen. Sedangkan Yin Zhen masih terlihat santai.
"Dasar sialan! Karena kau lebih tua, bukan berarti aku tidak akan melawan mu! Serang dia!"
"Hiyah!"
Keenam pria lainnya langsung menyerbu ke arah Yin Zhen, namun sosok ayah bagi Yin Mei itu mundur dengan cepat, terlalu cepat sampai tidak ada yang memperhatikan gerakannya. Dia menggunakan satu tangannya untuk menumbangkan setiap orang, gerakannya yang cepat dan kekuatannya yang luar biasa membuat keenam pria itu tidak bisa berbuat apa-apa setelah dikalahkan oleh Yin Zhen.
Bagi Yin Zhen, mengalahkan mereka yang hanya manusia biasa benar-benar membuang waktunya, tapi dia juga tidak ingin menolak permintaan Yin Mei, lagipula menolong seksama memang diperlukan di beberapa kesempatan.
"Sial! Lari!"
Mau tidak mau pria itu hanya bisa memerintahkan semua temannya untuk melarikan diri, sampai tak lama kemudian, jalanan gang sempit yang tadi cukup ramai, kini sepenuhnya sepi hanya menyisakan pasangan ayah dan anak serta seorang gadis berseragam sekolah menengah.
"T-terimakasih banyak paman..." gadis itu langsung menundukkan kepalanya berterimakasih kepada Yin Zhen. Jika bukan karena Yin Zhen, entah apa yang akan terjadi sekarang, mungkin dia harus pulang dengan kaki yang pincang.
Yin Zhen menghela napasnya pelan sambil menggelengkan kepalanya, "sudahlah, itu tidak masalah."
Begitu Yin Zhen berbalik dan hendak memasuki toserba untuk membeli es krim, suara perut keroncongan terdengar nyaring berasal dari perut gadis berseragam sekolah itu.
Yin Zhen sejenak menghentikan langkahnya, dia kemudian berkata pelan, "kau, ikuti aku..."
Gadis itu sambil menahan malu mau tidak mau mengikuti Yin Zhen dari belakang. Mereka bertiga memasuki toserba, Yin Zhen yang semula berniat membeli es krim dan beberapa makanan ringan kini harus mengubah kembali rencananya karena orang lain.
Dia membeli selusin mie instan, beberapa makanan ringan dan minuman segar, tentu saja es krim tentunya. Setelah membayarnya di meja kasir, Yin Zhen menyerahkan salah satu kresek belanjaannya kepada gadis berseragam itu.
"Ini, untuk kau makan."
Bing Lan yang terkejut ketika melihat paman di depannya dengan santainya memberikannya se-kresek makanan dan minuman kepadanya. "Ini... Paman, aku baik-baik saja. Paman tidak perlu memberikan ini."
Yin Mei yang sedari tadi diam mengangkat suaranya, "kakak cantik, saat orang lain memberimu sesuatu dengan niatan baik, akan lebih baik jika kakak cantik menerimanya. Bukankah begitu, papa? Mama mengatakan hal itu kepadaku..."
Yin Zhen dengan gemas mengusap pucuk kepala Yin Mei, "putri kecil ini sangat pintar, pasti kepintaran mu ini berasal dariku."
"Papa, jangan mengacak-acak rambutku."
"Oh, baiklah..." ujarnya sambil terus mengusap pucuk kepala Yin Mei gemas, menghiraukan perkataan Yin Mei sebelumnya.
Bing Lan yang melihat pemandangan lucu antara ayah dan putri kecil itu secara tidak sadar tersenyum. Dia merindukan ayahnya yang sudah tiada tiba-tiba, tentu saja dia juga merindukan ibunya yang sekarang pergi dengan pria lain. Namun ketika sosok wanita tua muncul di dalam benaknya, dia menghela napasnya pelan.
"Makasih banyak paman... Saya pasti akan membalas kebaikan paman di masa depan!"
"Tidak perlu untuk itu, kau hanya perlu menjalani hidup yang baik. Baik itu kedua orang tuamu atau orang lain yang mengurus mu, mereka akan bahagia jika melihat gadis yang mereka asuh menjadi orang yang sukses dan baik."
Sebenarnya ada alasan lain kenapa Yin Zhen memutuskan untuk membantu Bing Lan, itu karena dia bisa merasakan fluktuasi jejak energi Qi dari tubuh gadis berseragam itu. Dia tidak tahu dengan pasti, tapi jika dugaannya benar, maka gadis berseragam itu akan menjadi seorang Mage dengan kapasitas Mana yang tinggi setelah gerbang Mana terbuka nanti, dan itu tentu saja berlaku jika Bing Lan tidak terinfeksi dengan gelombang Mana yang tiba-tiba menyerbu Bumi.
Bing Lan berbalik pergi meninggalkan Yin Zhen dan Yin Mei.
***
Keesokan harinya masih dengan jadwal yang sama, Yin Zhen membangunkan putri kecilnya, memandikan nya, memilihkannya pakaian dan menyuapi nya. Rutinitas harian dengan sang anak membuat Yin Zhen terlihat lebih seperti seorang ayah yang penyayang daripada gambaran sebagai orang yang pernah menguasai Alam Semesta di kehidupan sebelumnya.
Meskipun satu hari satu malam telah berlalu, Mei Qi masih belum membalas pesannya dan bahkan belum membacanya. Dia yang tak tahu apa yang terjadi dengan ibu dari anaknya itu merasa sedikit khawatir.
"Apa dia benar-benar bekerja di pedalaman? Tidak, aku harus mencarinya untuk sekarang, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Mei'er..."
Dia melihat ponselnya dan seseorang langsung terlintas di dalam benaknya, "kalau begitu aku terpaksa harus meminta bantuannya."
Tanpa sedikitpun ragu, dia menelepon Long Hu, Asisten Zi Tian yang seharusnya mampu untuk menyelidiki keberadaan seseorang.
"Halo, tuan Yin, ada keperluan apa sampai anda menelepon saya terlebih dahulu?" jawab Long Hu dari seberang sana yang lumayan terkejut menerima panggilan dari Yin Zhen, orang paling misterius bahkan setelah dia menggali informasi dari berbagai sumber.
"Bisakah aku meminta bantuanmu? Ibu dari anakku tidak bisa dihubungi sampai sekarang, aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bisa kau lacak keberadaan dia?"
"Tidak masalah, bisa tuan Yin berikan identitasnya? Saya akan meminta tim lain untuk melacak keberadaanya, dan mungkin hasilnya akan keluar dalam waktu satu jam saja."
"Baiklah, kalau begitu terimakasih banyak. Ngomong-ngomong, aku harap kau dan Zi Tian itu tidak meninggalkan tanah Tiongkok, karena sesuatu akan terjadi dalam waktu lima hari. Aku memberitahumu ini karena rasa terimakasih ku. Akan lebih baik juga jika kau menginap dengan kerabatmu di Heaven Garden Hotel atau disekitarnya yang cukup dekat."
Long Hu yang sedang mengerjakan pekerjaannya mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud perkataan Yin Zhen, "apa maksud anda? Memangnya apa yang akan terjadi?"
"Kau akan tahu nanti, tapi sebaiknya perlakukan perkataanku tadi dengan serius."