
Di bawah tatapan banyak orang, Yin Zhen bergerak secepat kilat menebas ketiga kepala serigala berbadan besar itu. Hanya dalam kurun waktu kurang dari beberapa detik, dia berhasil membunuh ketiganya.
Dia melirik ketiga mayat binatang mutan itu dengan seksama. Dia bisa saja memberikan kesempatan pada beberapa orang yang ada di sana untuk meningkatkan level mereka dengan membunuh salah satu dari ketiga serigala itu, tapi dengan begitu banyak orang di sana membuatnya khawatir. Membiarkan ketiga binatang mutan itu hidup lebih lama sama saja dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk membunuh manusia.
[Host telah membunuh Serigala Bulan level 3. Host mendapatkan 9 EXP.]
[Host telah membunuh Serigala Bulan level 3. Host mendapatkan 9 EXP.]
[Host telah membunuh Serigala Bulan level 3. Host mendapatkan 9 EXP.]
EXP yang dimaksud adalah poin pengalaman yang harus dipenuhi untuk memasuki level selanjutnya, sayangnya dengan kekuatannya yang sudah tinggi, 9 EXP terlalu kecil untuk menaikkan levelnya.
Dia juga tidak akan bisa naik ke level selanjutnya karena belum memilih jenis pekerjaan apa yang ditawarkan oleh Catatan Konstelasi.
Mungkin untuk naik ke level yang lebih tinggi dia harus menunggu selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan, mengingat Bumi baru saja berevolusi dan hanya binatang mutan tingkat rendah yang tersedia sekarang.
"Bumi bahkan belum menjadi planet tingkat pertama, entah kapan bumi akan menyelesaikan proses evolusinya. Tapi dengan kekacauan dalam jangka kecil ini, seharusnya hanya ada sedikit korban di kota Chengdu."
Berbeda dengan Yin Zhen yang tenang setelah membunuh ketiga serigala itu begitu saja. Semua orang yang melihat itu masih terdiam, jika sebelumnya mereka melihat serigala itu sebagai mesin pembunuh, maka sekarang mereka melihat sosok Yin Zhen sebagai malaikat maut.
Jiang Yalan dan Bian Lu juga yang biasanya tenang kini menatap Yin Zhen dengan kerutan keheranan di wajah mereka.
"Ini... Bagaimana bisa membunuh ketiganya dengan begitu cepat? Aku bahkan tidak melihat dia bergerak..." gimana Jiang Yalan yang berusaha untuk menenangkan sebagian orang.
Bian Lu yang ada di sisinya berkata, "tidak, akan lebih tepat jika kau mengatakan kalau dia bergerak terlalu cepat sehingga kita tidak bisa melihatnya. Sebelumnya aku juga pernah melihat dia bergerak secepat kilat, tapi jauh dari kecepatan ini. Siapa sebenarnya tuan Yin ini?"
Di antara kerumunan, Yin Hua yang panik ketika melihat kakaknya berhadapan dengan tiga serigala mengerikan akhirnya menghela napasnya lega ketika kakaknya baik-baik saja. Dia jelas bertanya-tanya kenapa kakaknya itu begitu kuat, tapi kepercayaan buta kepada kakaknya itu membuatnya memilih untuk diam. Mungkin saja ada alasan kenapa Yin Zhen menyembunyikan hal itu darinya.
Yin Zhen yang pakaiannya sedikit berlumuran darah akibat cipratan darah ketiga serigala berjalan mendekat ke arah kerumunan, dengan sikapnya yang tenang dan pembawaannya yang dingin membuat semua orang secara tidak langsung memfokuskan perhatian mereka kepada dirinya seorang.
Bahkan Hua Xin dan Mei Zhang yang sebelumnya marah juga mau tidak mau merasa harus mendengarkan perkataan Yin Zhen.
"Mulai dari sekarang, Bumi bukan lagi tempat yang aman. Gumpalan awan ungu yang ada di atas langit itu adalah gumpalan energi Mana atau energi sihir yang secara perlahan tersebar ke seluruh dunia. Umumnya, orang-orang biasa akan terkontaminasi dengan energi Mana itu dan menjadi zombie, tapi karena beberapa alasan, kota Chengdu sedikit lebih baik daripada tempat lainnya. Meskipun ada diantara mereka yang berubah menjadi zombie, seharusnya jumlahnya tidak banyak. Tapi tetap saja, binatang mutan dan tumbuhan mutan itu kasus berbeda. Jadi aku harap kalian semua menjauh dari hutan dan selalu berada dekat dengan orang lain. Kalian juga tidak bisa memakan buah yang ada dihutan sembarangan, karena itu bisa saja beracun."
Yin Zhen sejenak menghentikan pidatonya dan berbalik memunggungi semua orang, dia kembali berkata, "mulai besok, kemungkinan besar populasi manusia di seluruh bumi akan hilang sebanyak 80%, meskipun jumlahnya agak berlebihan, tapi itu fakta. Yang artinya, kita harus bergantung pada diri kita sendiri untuk bertahan hidup. Mata uang kertas tidak akan lagi berguna, kecuali untuk dijadikan bahan bakar dan juga sistem perekonomian akan lenyap. Kalian tahu 'kan maksud dari perkataanku?"
Mendengar itu, semua orang menundukkan kepala mereka mulai berpikir keras. Seperti yang dikatakan oleh Yin Zhen, jika populasi manusia berkurang hampir seluruhnya, maka akan ada banyak hal yang terbatas di dunia ini, salah satunya adalah makanan.
Lalu apa yang harus mereka lakukan?
"Kalau begitu, bukankah semua orang disini akan mati karena kekurangan makanan?" tanya Jiang Yalan kepada Yin Zhen.
Yin Zhen tanpa ragu langsung menganggukkan kepalanya, "ya, kalian semua akan mati setelah satu minggu kelaparan di sini. Tapi jika kalian kuat, mencari makanan hanya masalah waktu saja."
Kali ini giliran Bian Lu yang bertanya, "menjadi kuat? Jika yang tuan Yin katakan adalah kuat dalam artian bertarung melawan orang lain, aku mungkin tidak akan ragu untuk menyebutkan aku adalah orang kedua yang paling kuat di sini. Tapi jika yang tuan Yin artikan adalah bertarung melawan binatang mutan, aku yakin semua orang disini tidak ada yang berani melakukannya. Apalagi setelah melihat serigala itu."
Yin Hua yang berdiri di tengah kerumunan berjalan mendekat ke arah Jiang Yalan dan Bian Lu, dia mengangkat suaranya kemudian, "tunggu dulu, apa kalian mendapatkan pemberitahuan sistem yang menyebut dirinya sebagai Catatan Konstelasi sebelumnya?"
Mendengar pertanyaan itu, semua orang menganggukkan kepalanya.
"Seperti yang semua orang lihat, Bumi bukan lagi tempat yang aman dan damai. Ditambah dengan sistem yang entah datang darimana. Tapi satu hal yang aku yakini, jika seseorang ingin bertahan hidup lebih lama di sini, seperti yang kakakku katakan, kita harus kuat, cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan zombie dan binatang mutan. Sistem juga memperlihatkan statistik keseluruhan tubuh kita dan ada beberapa spekulasi yang aku simpulkan sekarang. Pertama, Bumi sekarang menjadi dunia yang pernah aku baca di salah satu webtoon kesukaanku. Semua orang perlu meningkatkan level mereka dengan membunuh monster yang ada di dungeon, terdengar tidak masuk akal memang, tapi setelah apa yang terjadi tadi, ini sesuatu yang tidak mungkin. Kedua, sistem akan memberikan quest dan kita akan menjadi kuat setelah menyelesaikan quest tersebut."
Penjelasan Yin Hua cukup masuk mengingat Bumi tidak lagi seperti dunia yang mereka tinggali sebelumnya. Yin Zhen mengagumi kepandaian adik perempuannya, dengan tingkat percaya diri yang tinggi dan kepandaian yang memadai, ada kemungkinan adiknya itu akan menjadi salah satu eselon tingkat atas nanti setelah Bumi kembali damai. Tentu saja dalam artian bumi yang masih dipenuhi zombie dan makhluk mutan lainnya.
Yin Zhen berkata, "kalian harus meningkatkan kekuatan kalian dengan membunuh makhluk mutan. Semakin tinggi level makhluk mutan yang dibunuh, semakin tinggi juga EXP yang akan kalian dapatkan dan kalian akan semakin cepat naik level."
Beberapa remaja yang ada di sana ber'woah' ria setelah mendengar perkataan Yin Zhen. "Woah... Ini seperti dunia game saja. Tapi jika kita mati, kita tidak akan bisa hidup lagi."
Salah seorang dari kerumunan mengangkat tangannya kemudian bertanya, "ngomong-ngomong, serigala yang tadi kau bunuh, di level berapa itu?"
"Itu hanya di level 3. Meskipun tubuhnya besar, pertahanan tubuhnya masih sama sebelum serigala itu berevolusi."
Suara-suara bisikan diantara semua orang semakin keras begitu perkataan Yin Zhen sampai di telinga mereka.
"Sialan! Bahkan serigala raksasa itu hanya ada di level tiga? Bagaimana mungkin? Aku pikir itu ada di level belasan setidaknya."
"Jika level tiga saja sudah se menakutkan itu, lalu bagaimana dengan level sepuluh? Bukankah mudah bagi mereka untuk membunuh kita semua disini?"
"Sekalipun ketahanan tubuhnya masih sama seperti sebelum serigala itu menjadi binatang mutan, tetap saja kita akan mati begitu taring-taring tajam itu memakan kita."
"Aku tidak akan mau berhadapan dengan makhluk mutan apapun, aku masih menghargai nyawaku sendiri..."