Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
24. Mei Qi Kembali



Kini Mei Qi berada di mobil van bersama Bian Lu dan yang lainnya. Mei Qi masih tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa kelima orang asing itu menyelamatkannya, dia ingat bahwa dia tidak memiliki kenalan atau teman yang kaya.


Bukankah biasanya hanya orang-orang kaya yang bisa memerintahkan banyak bawahan handal? Setidaknya itu yang dia pikirkan dan Mei Qi sama sekali tidak memiliki jenis teman atau kenalan seperti itu.


Mei Qi yang sedari tadi diam mulai mengangkat suaranya, "ini... Apa aku bisa menanyakan sesuatu?"


"Tentu saja, kami akan berusaha untuk menjawabnya," ujar Bian Lu dengan pembawaan yang ramah. Jika Mei Qi bertemu dengan Bian Lu di lain kesempatan, mungkin dia tidak akan percaya bahwa pria ramah itu sangat handal dalam menggunakan pisaunya untuk membunuh seseorang, tidak, lebih tepatnya membunuh beberapa orang sekaligus.


"Siapa kalian semua? Maksudku, aku tidak memiliki kenalan atau satupun teman yang memiliki kemampuan untuk memiliki orang-orang seperti kalian. Sekalipun aku memilikinya, mereka tak akan tahu aku sedang diculik."


"Sebenarnya orang yang memerintahkan kami adalah atasan kami, tuan Long. Dan tuan Long yang merupakan asisten tuan besar Zi Tian pernah mendapatkan bantuan dari suami anda, jadi tuan Long tanpa ragu langsung memerintahkan kami yang merupakan orang-orang yang tuan besar Zi Tian percayai saat suami anda meminta bantuan kepadanya."


Mendengar kata 'suami' keluar dari mulut Bian Lu, kerutan di dahi Mei Qi semakin dalam. "Tunggu, tapi aku belum memiliki suami. Aku bahkan belum menikah..."


Kali ini giliran Bian Lu yang mengerutkan keningnya keheranan, "apa tuan Yin bukan suami anda? Bukankah kalian memiliki seorang putri bernama Yin Mei?"


"Tuan Yin? Yin Mei? Apa orang yang kau maksud itu adalah Yin Zhen? Dan siapa itu Yin Mei... Tunggu dulu, apakah Yin Zhen mengganti menambahkan marga untuk Mei'er? Itu masuk akal. Tapi aku ingat kalau kondisi keuangan Yin Zhen bahkan sedikit lebih buruk dariku. Meski aku benci mengakuinya, tapi aku harus menyerahkan Mei'er untuk tinggal bersamanya."


Sekali lagi Mei Qi mengarahkan pandangannya ke arah Bian Lu dan bertanya, "jadi maksudmu orang yang meminta bantuan pada atasanmu itu adalah Yin Zhen, begitu?"


Bian Lu dengan mantap menganggukkan kepalanya, "benar. Mungkin nyonya akan sulit percaya, tapi kondisi tuan Yin jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun saya hanya melihatnya sekali secara langsung, dia sangat menyayangi putrinya."


Kejutan terlihat di mata Mei Qi. Dia tahu kalau Yin Zhen adalah seorang tuan muda dari keluarga besar Yin dari Shanghai. Namun sayangnya status 'tuan muda' itu hanya bertahan sebentar sampai dia dan adiknya diusir dari keluarga Yin oleh para penatua keluarga.


Mengenaskan memang, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Tentu saja akan lebih baik bagi anaknya nanti untuk tinggal se-sejahtera mungkin, tapi setelah Yin Zhen dikeluarkan dari daftar keluarga Yin, harapan untuk membahagiakan anaknya semakin menipis.


Bahkan terakhir dia bertemu dengan Yin Zhen, kondisi Yin Zhen berantakan. Tinggal sendirian di apartemen kumuh sambil melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan walau akhirnya terus menerus ditolak. Kehidupan macam apa yang lebih buruk dari itu semua?


Karena situasinya mendesak, Mei Qi terpaksa harus menitipkan anaknya kepada Yin Zhen. Sebagai seorang ayah, Yin Zhen tidak akan setega itu 'kan untuk menelantarkan anaknya?


Tapi setelah mendengar bahwa hidup Yin Zhen jauh lebih baik dari sebelumnya membuatnya puas. Itu artinya dia Mei'er bisa merasakan kasih sayang seorang ayah tanpa kendala ekonomi. Setidaknya anaknya itu tidak akan kelaparan.


"Ngomong-ngomong, kenapa dia mencariku?" tanyanya kembali kepada Bian Lu.


"Itu... Saya juga tidak tahu. Tapi sepertinya sesuatu yang penting mengingat tuan Yin bahkan meminta bantuan tuan Long untuk mencari nyonya."


Mendengar itu, Mei Qi hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Dengan menggunakan alat transportasi udara seperti helikopter, Mei Qi dan yang lainnya sampai di Tiongkok lebih tepatnya di Chengdu setelah empat jam perjalanan.


Di saat Mei Qi baru saja sampai di Tiongkok, Yin Zhen tengah menyiapkan sarapan untuk putri kecilnya karena hari sudah mulai pagi. Dia merasa bahwa hotel bergaya suit room ini terasa seperti rumahnya sendiri setelah tinggal hampir seminggu lamanya.


"Mei'er, bangun sayang..."


Kedua mata Yin Mei perlahan terbuka, "selamat pagi, papa... Hoamhh!"


"Selamat pagi juga sayang. Bangun, papa sudah menyiapkan sarapan untuk Mei'er."


"Bantu Mei'er..." ucap Yin Mei sambil mengulurkan kedua tangannya untuk Yin Zhen tarik.


"Baiklah, satu dua tiga!"


Yin Mei terbangun dari tidurnya dan langsung mencuci mukanya dibantu oleh Yin Zhen sebelum memulai sarapan pagi. Keduanya sarapan dengan tenang di meja makan, Yin Mei seperti biasa melahap roti isi telur dan salad itu dengan lahap.


"Hm? Memangnya kenapa kalau papa tidak memiliki apa-apa?" tanya balik Yin Mei.


"Papa tidak bisa membelikan Mei'er makanan enak, membelikan banyak mainan, atau mengajak Mei'er untuk liburan. Bagaimana jika papa adalah orang yang seperti itu?"


"Papa tidak bisa membelikan Mei'er makanan enak? Permen tidak bisa? Es krim?"


"Benar, papa tidak bisa membeli semua itu. Apa yang akan Mei'er lakukan?"


Yin Mei tampak kebingungan sejenak, "tapi... Mei'er ingin es krim dan permen. Tapi jika papa tidak bisa membelinya, Mei'er tidak apa-apa."


"Benarkah? Mei'er tak akan marah atau meninggalkan papa, 'kan?"


"Bagaimana bisa Mei'er meninggalkan papa? Hanya ada satu papa Mei'er di dunia ini dan papa adalah papa Mei'er."


Jawaban yang dilontarkan Yin Mei membuat Yin Zhen menarik sudut bibirnya, tersenyum. Dia mengusap pucuk kepala gadis kecilnya itu dengan penuh sayang.


Gerbang Mana atau kiamat akan datang dalam waktu kurang dari lima hari lagi, kehidupan yang Yin Mei rasakan sekarang akan berbanding terbalik setelah lima hari kemudian. Tidak ada lagi cemilan atau permen untuk dia makan, tidak ada tempat bermain yang cantik seperti alun-alun kota.


Yang tersedia hanyalah tanah dan ratusan tanaman rambat dan pohon yang menjulang tinggi. Akan ada banyak hotel serta gedung terbengkalai mengingat populasi manusia akan musnah lebih dari setengahnya.


Pada dasarnya kehidupan tentram dan damai yang sekarang mereka alami akan hilang dan digantikan dengan situasi dimana kematian bisa datang kapan saja.


Dia juga tidak bisa selamanya memanjakan putri kecilnya, pasti akan ada situasi dimana dia harus berpisah dengan putrinya, skenario terburuk yang berarti kematian bisa saja menimpanya kapan saja.


Dia ingin membiarkan Yin Mei merasakan surganya dunia, tapi di satu sisi, dia juga tidak ingin gadis kecilnya tumbuh menjadi orang yang lemah dan mudah untuk dimangsa oleh makhluk lain.


"Mungkin aku harus membeli banyak coklat, permen, susu dan berbagai macam cemilan untuk Mei'er."


Meskipun begitu, dia akan berusaha membiarkan putri kecilnya merasakan apa itu kenikmatan. Dia tidak akan membiarkan Yin Mei merasakan kelaparan yang pasti akan dialami oleh semua orang di seluruh dunia setelah kiamat tiba.


Setelah menyelesaikan sarapannya, dia menelepon Yin Hua dan memintanya untuk menjaga Yin Mei seharian ini. Karena ada banyak hal yang harus dia lakukan, salah satunya adalah memasang susunan formasi untuk brangkas bawah tanahnya.


Untungnya Yin Hua memang sedang menuju ke Heaven Garden Hotel untuk bermain bersama keponakan kecilnya itu.


Usai kedatangan Yin Hua, Yin Mei dengan patuh mendengarkan perkataan papanya dan bermain bersama bibinya. Yin Zhen sendiri berjanji akan membelikan banyak cemilan setelah pulang nanti.


Saat di perjalanan menuju lokasi brangkas bawah tanah, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama 'Mei Qi' tertera di sana, dan itu jelas mengejutkan Yin Zhen.


"Halo, Mei Qi!"


"Yin Zhen, terimakasih banyak karena sudah menolongku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kau tak mencari ku saat itu, mungkin aku sudah mati sekarang."


Suara merdu Mei Qi terdengar dari seberang sana. Yin Zhen bisa merasakan kalau kali ini Mei Qi merasa benar-benar berterimakasih kepadanya. Bagaimanapun situasi yang dihadapi oleh Mei Qi memang sangat berat untuk orang awam sepertinya.


"Sama-sama, Yin Mei juga merindukanmu. Aku mencarimu karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi sayangnya masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan sekarang, rasanya akan sangat disayangkan jika di abaikan begitu saja. Bagaimana kalau kau bertemu Mei'er terlebih dulu? Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu. Kita akan berbicara saat aku pulang nanti."


"Tidak masalah. Aku juga ingin bertemu dengan Mei'er, bagaimana kabarnya sekarang? Kau mengurusnya dengan baik, kan?"


"Mengenai itu sebaiknya kau tanyakan sendiri kepada Mei'er. Aku yakin dia punya jawaban yang ingin kau dengar. Kalau begitu aku akan menutup teleponnya lalu mengirimkan alamat tempat tinggal ku sekarang kepadamu."