Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
05. Yin Hua



Yin Zhen membeli rumah itu langsung di tempat sejumlah 700.000 yuan dengan bonus sebesar 50.000 yuan. Gao Chun yang menerimanya tentu saja senang, ditambah dengan bonus yang ditambahkannya, keuntungannya benar-benar besar.


Sedangkan untuk Hua Lian, Yin Zhen memberikan modal awal 4 juta yuan, untuk bayarannya sendiri, Hu Lian berkata dia bisa membayarnya saat tugasnya sudah selesai. Dengan modal 4 juta yuan, tidak diragukan lagi dia bisa membeli banyak bahan bangunan dengan kualitas terbaik.


Karena terik matahari semakin panas, Yin Mei merasa sedikit tidak nyaman terus berada di luar ruangan. Yin Zhen yang melihat itu merasa bahwa dirinya harus segera berteduh, dia juga berniat untuk makan siang setelah berpergian belanja nanti.


Gao Chun terus berterimakasih kepada Yin Zhen, begitu juga dengan Hu Lian.


"Terimakasih banyak tuan, karena sudah mempercayai saya untuk mengerjakan proyek ini. Saya akan mengerjakannya dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun."


Yin Zhen menganggukkan kepalanya santai, dia balas berkata, "aku akan mengirimkan sketsa desain rumah besok."


Mereka berdua berpamitan dan langsung pergi ke wilayah yang lebih ramai penduduk. Yin Zhen mengendarai mobilnya selama setengah jam sebelum akhirnya mereka berhenti di pusat perbelanjaan.


Yin Mei yang melihat itu penasaran, "papa, apa kita akan membeli sesuatu? Apakah itu makanan?"


Mendengar itu, Yin Zhen menganggukkan kepalanya, "kita akan makan siang di restoran, tapi sebelum itu kita harus membeli beberapa pakaian baru. Apa Mei'er suka membeli pakaian baru?"


"Pakaian baru? Mei'er suka, tapi mama tidak terlalu sering membelinya untuk Mei'er..."


"Karena sekarang sudah bertemu dengan papa, papa akan membelikan semua pakaian yang Mei'er suka, bagaimana?"


"Benarkah? Yeay!"


Yin Zhen membawa Yin Mei ke dalam pusat perbelanjaan yang di datangi banyak orang. Matanya yang tajam terus tertuju pada Yin Mei yang tertawa, terkadang dia akan menatap balik papa nya dan mencium pipinya.


Dia juga ingin bertemu dengan ibu kandung Yin Mei, Mei Qi. Bohong jika dia tidak tahu siapa ibu kandungnya, bagaimanapun malam itu adalah malam yang tidak akan pernah dia lupakan dalam hidupnya.


Kala itu, Mei Qi yang masih duduk di bangku kuliah harus menemani salah satu dosennya di sebuah bar karena nilai merah yang Mei Qi dapatkan. Penampilan Mei Qi yang sangat cantik tentu saja mengundang hawa nafsu para kaum pria, tidak terkecuali dosen bejatnya itu. Sampai akhirnya Mei Qi dicekoki dengan obat perangsang, untungnya saat itu Yin Zhen yang masih kuliah juga berada di tempat yang sama.


Karena kecantikan Mei Qi yang sudah diketahui semua orang di kampus, sosok Mei Qi sangat mudah dikenali, termasuk bagi Yin Zhen. Yin Zhen juga orang yang cukup terkenal, tapi jelas dia tidak se terkenal Mei Qi, keduanya juga hanya saling mengenal, tapi tidak akrab. Hanya sebatas berteman antar sesama 'selebriti'.


Karena dia tidak ingin melihat Mei Qi dilecehkan oleh dosen bejat itu, akhirnya dia memutuskan untuk membantu Mei Qi keluar dari situasi berbahaya itu. Namun naas, Mei Qi yang sudah termakan obat perangsang tidak bisa menahan gairahnya, Yin Zhen sebagai seorang pria normal tentu saja ikut bergairah melihat pergerakan sang Dewa kampus dengan erotis di depannya saat itu.


Kejadian itu memang tak sengaja, tapi hanya dalam sekali percobaan, Mei Qi mengandung Yin Mei. Karena itu, Mei Qi memutuskan untuk berhenti kuliah, karena keluarganya yang berkecukupan dan merasa kecewa dengan anak perempuannya yang telah hamil di luar pernikahan, tanpa pikir dia kali langsung mengusirnya dari rumah.


Membiarkan Mei Qi hidup sendirian mengandalkan uang tabungannya, tapi meski begitu keberuntungan menghampirinya. Dia berhasil menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar, meski posisinya tidak terlalu tinggi tapi gaji yang di dapatnya lumayan untuk menghidupi Yin Mei.


Namun sayangnya dia harus pergi untuk waktu yang cukup lama ke negeri orang lain karena tuntutan pekerjaannya. Jadi dia memutuskan untuk bertemu dengan ayah kandung anaknya, Yin Zhen. Saat itu adalah pertemuan pertama mereka setelah hampir empat tahun lamanya, meski canggung, Mei Qi merasa bahwa akrab dengan ayah dari anaknya adalah sesuatu yang harus di lakukan cepat atau lambat.


Jadi dia tanpa ragu menceritakan semua kisah hidup malangnya kepada Yin Zhen, Yin Zhen tentu saja bersimpatik, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menyemangati Mei Qi dengan beberapa patah kata semangat darinya.


Mengingat semua itu membuat Yin Zhen tanpa sadar mendesah pelan. Dia tidak bisa memuji kesabaran Mei Qi dalam mengurus Yin Mei seorang diri.


"Karena sekarang Mei'er sudah ada ditanganku, Mei'er tidak akan pernah merasa kekurangan. Aku akan mengabulkan apapun yang dia inginkan, sekalipun itu bulan..." gumamnya dalam hati sambil menatap Yin Mei penuh penyesalan.


Ada banyak orang pergi berbelanja begitu mereka memasuki pusat perbelanjaan. Mereka ber keluyuran membawa kantong belanjaan di tangan mereka.


Tujuan pertamanya adalah toko yang menyediakan pakaian anak-anak, tentu saja toko itu harus berkelas agar kualitasnya terjamin.


Setelah berjalan melewati eskalator dan pergi ke lantai kedua, akhirnya Yin Zhen menemukan pakaian anak-anak yang sesuai dengan usia Yin Mei.


Dia tanpa ragu memasuki toko pakaian itu bersama Yin Mei di gendongannya, beberapa orang tua yang melihat sosok manis Yin Mei terpesona. Kecantikan Yin Mei memang menonjol di antara anak-anak lainnya, tidak heran jika banyak orang tua terpesona karenanya.


Yin Zhen perlahan menurunkan Yin Mei, membiarkan gadis kecilnya itu berjalan memilih pakaian mana yang dia sukai. "Mei'er bisa memilih semua pakaian yang Mei'er suka, berapapun jumlahnya tidak masalah."


Mendengar itu, Yin Mei langsung bersemangat, "kalau begitu Mei'er akan memilih banyak pakaian!"


Dengan sepasang kaki kecilnya, dia berlarian di antara rak-rak pakaian yang berjejer di dalam toko. Sedangkan Yin Zhen hanya berjalan mengikutinya dari belakang.


"Mei'er ingin ini, Mei'er juga suka yang ini, lalu yang ini. Oh? Yang ini seperti nya cukup bagus, yang ini... Woah... Banyak sekali pakaian yang Mei'er suka, bagaimana Mei'er harus memilihnya?"


Setelah mengambil beberapa pakaian, Yin Mei kebingungan karena ada begitu banyak pakaian yang dia sukai di sana.


"Kalau begitu beli semuanya!" ujar Yin Zhen dengan santainya. Beberapa orang tua yang mendengar itu terkejut, mereka tidak mengira sepasang ayah dan anak perempuan itu akan menjadi orang yang sangat kaya.


Harga setiap pakaian di sini mencapai angka diatas 1.000 yuan, membeli semuanya berarti mengharuskannya untuk menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu yuan. Hanya orang-orang yang sangat kaya yang bisa mengeluarkan begitu banyak uang dalam sekali pembelian.


Mulanya kedua mata Yin Mei berbinar, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya, dia berkata, "tidak, mama mengatakan padaku bahwa Mei'er hanya boleh membeli sesuatu yang dibutuhkan. Meskipun Mei'er ingin semua pakaian yang ada di sini, memiliki beberapa saja sudah cukup. Bukankah papa akan membelikan Mei'er lebih banyak nanti?"


Yin Zhen yang mendengar itu sedikit terkejut, dia pikir Yin Mei akan langsung setuju dengan idenya, tapi nyatanya gadis kecil itu bertentangan dengan apa yang dipikirkannya. Dia kemudian mengelus rambut Yin Mei penuh sayang, "anak yang baik... Baiklah, kalau begitu kita akan mencari mainan setelah membeli beberapa pakaian, bagaimana?"


"Mainan? Mei'er ingin membeli boneka beruang yang besar!"


"Oke, kita akan membelinya setelah pergi dari sini."


Yin Mei dengan semangat mencium kedua pipi Yin Zhen. Meski banyak orang yang melihat interaksi mereka, Yin Zhen tidak merasa malu sama sekali. Justru dia bangga karena memiliki seorang putri yang amat mencintainya.


Setelah berkeliling hampir setengah jam, akhirnya Yin Mei memilih enam setel pakaian dan tiga dress kecil. Semua jenis pakaian itu di dominasi dengan warna-warna yang cerah, seperti biru muda dan kuning matahari.


Yin Zhen membayar semuanya dengan kartu rekeningnya dan membawa semua belanjaannya dengan santai. Yin Mei juga membawa satu kantong yang berisikan dress kesukaannya, dia memeluk kantong itu dengan erat seolah itu adalah harta karun nya.


Setelah membeli semua yang Yin Mei inginkan dan beberapa setel pakaian untuk dirinya sendiri, Yin Zhen dan Yin Mei langsung makan siang di restoran yang ada di lantai tiga.


Mereka berdua menghabiskan waktu hampir dua jam di dalam pusat perbelanjaan, mengingat ada begitu banyak barang yang dibelinya, dia rasa itu hal yang wajar untuk menghabiskan banyak waktu. Terlebih dengan Yin Mei di sampingnya, waktu tidak terasa berlalu begitu saja.


"Bagaimana? Mei'er suka setelah jalan-jalan tadi?" tanya Yin Zhen menatap gadis kecil di gendongannya.


"Mei'er suka! Mei'er juga telah membeli boneka beruang besar!"


Keduanya kembali ke mobil dan menyimpan semua barang belanjaan ke dalam mobil.


"Karena semua hal-hal kecil sudah teratasi, sekarang aku hanya perlu membereskan beberapa hal lagi di Beijing. Mulai besok mungkin aku bisa kembali ke sini dan menginap di salah satu hotel dekat rumah baru. Dengan begitu aku bisa memantau pembangunannya dengan mudah."


Dia memutuskan untuk kembali ke Beijing menyelesaikan beberapa hal mengenai masa kontrak apartemen lamanya. Selama di perjalanan, Yin Mei yang kelelahan tertidur pulas di samping Yin Zhen. Karena tidak ingin mengganggu tidur gadis kecil itu, dia mengendarai mobilnya lebih pelan.


Setelah hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di apartemen lama Yin Zhen. Yin Mei yang merasa mobil yang dinaikinya berhenti, terbangun dari tidurnya.


Yin Mei melihat sekelilingnya lalu dia menyadari kalau bangunan di depannya adalah tempat tinggal dia dan papanya.


"Papa, mengapa kita kembali? Bukankah papa sudah membeli rumah tadi?" tanya Yin Mei ingin tahu.


"Kita memang sudah membelinya, tapi masih harus diperbaiki dan mungkin akan memakan waktu cukup lama. Jadi kita kembali dulu dan mengemas semua barang yang akan dibawa."


Yin Mei hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Dia turun dari mobil dibantu oleh papanya lalu memasuki apartemen setelah membawa semua barang belanjaan ke dalam apartemen.


Yin Zhen membiarkan Yin Mei bermain dengan mainan barunya.


Dia kemudian teringat akan sesuatu.


Dia mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menekan salah kontak orang yang dikenalnya.


"Halo? Yin Hua?"


Orang yang di teleponnya tidak lain adalah adik perempuannya. "Kakak? Tumben kau menelepon ku?"


"Apa salah menghubungi adik sendiri?" balas Yin Zhen diakhiri dengan tawa kecil.


Dia merasa sangat bahagia setelah sekian lamanya, dia bisa kembali mendengar suara adik perempuannya. Setelah kepergian kedua orang tuanya, mereka berdua hidup saling menguatkan, meski akhirnya Yin Zhen memilih untuk menyerah.


"Tentu saja tidak masalah, justru aku senang menerima telepon mu."


"Baiklah, aku meneleponmu karena ingin memberitahumu beberapa hal. Besok mungkin aku akan pindah dari Beijing ke Chengdu. Aku juga ingin memberitahumu kalau kau tidak perlu lagi mengirimkan uang padaku, simpan uang itu untuk dirimu sendiri. Sekarang aku memiliki pekerjaan, jadi kau tidak perlu khawatir."


Di seberang sana, Yin Hua sedikit melebarkan kedua matanya, "benarkah? Kau sudah mendapatkan pekerjaan? Yah, aku juga tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu, adikmu ini memang sedikit mengalami kesulitan di Shanghai, tapi dalam beberapa hari mungkin akan kembali baik-baik saja."


"Memangnya masalah apa yang kau hadapi?" tanyanya.


"Ini terkait dengan pinjaman, dan aku harus membayarnya dalam waktu seminggu. Meskipun minggu ini aku akan gajian, uangnya tidak akan cukup untuk membayar semua uang itu. Tapi itu tidak masalah, aku akan meminjam uang temanku untuk sementara dan aku akan mengembalikannya nanti..."


Yin Zhen diam-diam menghela napasnya lega saat mendengar permasalahan Yin Hua. Setidaknya masalah ekonomi bisa dia bantu dari jarak jauh. Tidak mungkin juga dia pergi ke Shanghai hanya untuk memberikan uangnya kepada Yin Hua.


"Baiklah, hanya itu saja yang ingin aku beritahu. Aku akan menuliskan alamat rumahnya nanti setelah selesai pindahan," ucap Yin Zhen mengakhiri obrolan.


"Aku ingin tahu rumah seperti apa yang kau beli. Ngomong-ngomong selamat atas pekerjaan barumu, aku turut senang mendengarnya."


Yin Zhen langsung menutup teleponnya lalu membuka aplikasi lain untuk mengirimkan sedikit uang kepada adiknya itu. Setelah mengirimkan uang sebesar 1 juta yuan, dia juga mengirimkan sedikit pesan.


Yin Zhen: Anggap saja itu adalah pemberian ku, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya aku memberimu uang. Kau bisa menggunakannya untuk membayar hutangmu atau berbelanja beberapa pakaian atau kosmetik.


Yin Hua yang menerima uang itu di Shanghai, tak bisa berkata-kata. Dia ingin menangis seketika.


Jumlah satu juta yuan adalah jumlah yang sangat besar, setidaknya dengan uang sebanyak itu dia bisa membeli mobil maupun rumah yang cukup mewah. Tapi Yin Zhen yang merupakan kakak nya memberikannya kepadanya begitu saja. Meskipun dia ingin bertanya darimana uang itu berasal, dia urungkan niatnya. Mungkin dia akan menanyakannya langsung nanti.


Dia juga percaya kalau kakaknya tidak akan melakukan pekerjaan kotor untuk mendapatkan banyak uang.


"Terimakasih banyak, kak..."