Beloved Daddy In Apocalypse

Beloved Daddy In Apocalypse
08. Yin Mei Ketakutan



Di sebuah rumah tua di pinggiran kota Beijing, sekelompok pria berkelompok di sana. Setidaknya 120 orang berkumpul di dalam gedung kosong itu.


Di sebelah barat mereka, setumpuk senjata api terlihat. Seorang pria duduk di kursi yang tersedia sambil menatap setiap orang dengan dingin, "semua orang sudah berkumpul, bukan?"


Beberapa orang pria itu menjawab, "kami sudah berkumpul bos."


Salah satu diantara mereka bertanya, "mengapa bos mengumpulkan kami? Apakah ada misi khusus yang harus kita selesaikan?"


"Diam, kau akan tahu nanti."


Bai Ming merenggangkan kedua tangannya, dia mengambil pistol yang berisikan amunisi di dalamnya. Tanpa ragu, dia menarik pelatuk pistol itu membuat kebisingan di dalam gedung reda seketika.


"Perhatian semuanya... Ada misi khusus untuk kalian semua dari bos besar. Kalian ditugaskan untuk membunuh seseorang yang sekarang sedang ada di Chengdu. Kalian bebas bisa membunuhnya kapan saja, lebih cepat lebih baik. Dan siapa yang berhasil membunuhnya, dia akan mendapatkan 10 juta yuan."


Bai Ming mengambil selebaran kertas yang ada di sisi kursinya, lalu dia melemparkannya kasar. "Itu adalah potret target kita. Meski aku bilang tidak ada batas waktu untuk membunuhnya, usahakan untuk membunuhnya dalam waktu satu minggu."


Semua orang langsung mengambil selebaran itu dan melihat potret seorang pria yang harus mereka bunuh. Kening mereka sedikit mengerut saat melihat potret itu tidak hanya menampilkan seorang pria, tapi juga ada gadis kecil di dalamnya yang tengah target gendong.


"Bos, bukankah dia hanya sendirian? Mengapa bos besar memerintahkan kami semua untuk membunuhnya? Seharusnya beberapa diantara kita sudah cukup untuk berurusan dengannya..."


Mendengar itu, Bai Ming menggelengkan kepalanya. "Tidak sesederhana itu. Regu utama Dunia Bawah yang merupakan kelompok kuat kemarin ini ditugaskan untuk membunuhnya, tapi kemarin semua kelompok regu ini menghilang tanpa ada kabar. Seolah mereka semua ditelan bumi begitu saja. Sebagai Regu Utama, kekuatan mereka seharusnya cukup untuk menjadi ancaman anggota penting negara, tapi begitu berurusan dengan pria ini, mereka semua tidak menunjukkan taring mereka atau pria ini memiliki zirah yang kuat untuk menangkis taring mereka. Dan skenario terburuknya adalah, pria ini membunuh semua anggota kelompok Regu Utama."


Dia memiliki posisi yang cukup tinggi di Dunia Bawah, Bai Ming tahu bahwa hanya segelintir orang yang bisa memerintahkannya, termasuk Direktur Perusahaan Yanxi.


Bai Ming mendapatkan relasi antar Dunia Bawah dengan usahanya sendiri, semua orang yang bekerja dalam kegelapan pasti tahu siapa dia. Sedangkan di sisi lain, Direktur Perusahaan Yanxi adalah orang yang sangat sukses dengan kekayaan berlimpah, tidak ada yang tidak mengenalnya di seluruh daratan China.


Dengan kekuatan yang digenggam pengusaha terkaya, mendapatkan atau menghancurkan sesuatu hanyalah sesuatu yang mudah. Tapi jika sampai Direktur Perusahaan Yanxi itu meminta bantuannya secara pribadi, maka sudah dipastikan target bos besar itu memang bukan orang yang mudah dihadapi.


Terlebih Regu Utama yang bisa dibilang sebagai tangan kanan bos besar, menghilang begitu berurusan dengan targetnya.


Tiba-tiba saja salah seorang diantara anggota kelompok berkata, "sepertinya aku pernah melihatnya..."


Bai Ming sedikit mengerutkan keningnya, "kau pernah melihatnya?"


"Ya, tapi aku tidak yakin apakah orang ini sama dengan orang yang aku lihat. Saat itu aku sedang bertugas di daerah utara Beijing, dan aku sempat bertemu dengannya beberapa kali mengingat saat itu aku menyewa sebuah apartemen kecil sebagai tempat tinggal. Orang yang aku lihat hanyalah seorang pria yang menyedihkan, bahkan terkadang pemilik gedung membantunya karena betapa menyedihkannya dia. Jika ini adalah orang yang sama dengan yang aku lihat, rasanya mustahil bahwa orang selemah itu membutuhkan ratusan orang untuk menangkapnya."


Beberapa orang saling berbisik, sedangkan Bai Ming menghela napasnya pelan, "kau tidak salah lihat. Orang yang ada dipotret ini memang orang yang sama dengan orang yang kau lihat. Setelah aku mencari informasi mengenai dirinya, dia memang tinggal di apartemen kecil di sebelah utara Beijing. Tapi mengenai dia hidup dalam kesusahan, aku tidak menyelidikinya sejauh itu. Setelah aku tahu ini, aku jadi khawatir tentang siapa sebenarnya pria ini. Mengalami perubahan yang begitu drastis sampai membuat bos besar marah jelas harus dipertanyakan. Apakah dia sebelumnya memang hidup dalam kesusahan atau dia pura-pura hidup seperti itu. Apapun itu, kita harus membunuhnya."


"Siap, bos!"


***


Dua hari berlalu begitu cepat, Yin Zhen dan Yin Mei menjalani hari-harinya seperti biasanya. Terkadang mereka bermain, bercanda, berkeliling kota maupun berbelanja.


Satu hari sebelumnya, Yin Zhen telah mengirimkan dua box botol air yang mengandung Air Suci di dalamnya ke pada kotak pos terdekat. Dia sendiri mengirimnya kepada alamat yang tertera di situs yang sebelumnya dia temui di internet.


Air Suci adalah salah satu dari sedikit harta tertinggi yang diperebutkan oleh para dewa sekalipun. Di luasnya alam semesta, hanya Yin Zhen seorang yang memiliki Kolam Dewa terluas sepanjang sejarah dewa.


Kini dia sedang menyisir rambut panjang Yin Mei sambil menonton televisi yang seperti biasa menampilkan setiap kartun. Kehidupannya kini jauh dari kata membosankan seperti kehidupan ketika dia menjadi Dewa Tertinggi.


Dulu yang biasa dia lakukan hanyalah menanam harta tertinggi dengan Air Suci dan bermain catur dengan Dewa-dewa lainnya. Membosankan, tak ada yang lebih membosankan daripada itu semua.


Tapi di kehidupannya yang sekarang, bahkan jika dia menatap Yin Mei seharian, tak ada kata bosan baginya.


"Papa, Mei'er ingin itu..." ujar Yin Mei tiba-tiba sambil menunjuk ke arah televisi. Di sana terlihat seorang anak tengah bermain sepeda bersama kedua orang tuanya.


"Kau ingin sepeda?"


"Iya, Mei'er ingin sepeda!"


Yin Zhen tersenyum, "baiklah, kalau begitu kita akan membelinya."


"Yeay! Papa yang terbaik! Mei'er sayang papa!" Yin Mei langsung menghujani Yin Zhen dengan ciuman. Mengekspresikan berapa bahagianya dia.


Sedangkan Yin Zhen, dia hanya tersenyum melihat gadis kecilnya bahagia. Dia juga senang mendapatkan pujian dari gadis kecilnya, lebih-lebih dari mendapatkan pujian semua makhluk hidup di Alam Semesta.


Keduanya langsung bersiap-siap untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Setelah berganti pakaian, keduanya keluar dari hotel dan menuju lokasi tujuan.


Begitu mereka sampai di tempat parkir, Yin Zhen sedikit mengerutkan keningnya. Dia merasakan tatapan beberapa orang dari jarak yang cukup jauh, insting serta inderanya yang tajam mengatakan kalau sesuatu yang tidak menyenangkan akan segera terjadi.


Tapi dia mengabaikannya, meskipun dia khawatir Yin Mei akan terluka karenanya, dia cukup percaya diri untuk melindungi gadis kecilnya dengan kekuatannya sekarang.


Setelah mereka memasuki mobil, mobil bermerk BMW itu keluar dari parkiran. Beberapa meter di belakang mereka, tiga motor yang masing-masing memboncengi satu orang mengikutinya dari belakang perlahan, seolah berusaha untuk menjaga jarak aman.


Tak lama kemudian Yin Zhen dan gadis kecilnya sampai di pusat perbelanjaan. Keduanya memasuki salah satu toko sepeda yang cukup besar di sana.


"Papa, ada begitu banyak sepeda di sini..."


"Kalau hanya ada sedikit, maka namanya bukan toko sepeda. Mei'er bisa memilih sepeda mana yang Mei'er suka."


Dari arah berlawanan, seorang pria yang cukup gemuk dan pendek menghampiri Yin Zhen. Dia mengenakan pakaian berlogo yang tampak seperti seragam, dia mengulas senyum begitu melihat Yin Zhen.


"Tuan, apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu? Kami memiliki sepeda keluaran terbaru, apakah anda ingin melihatnya?"


"Tidak perlu, aku datang membelikan sepeda untuk anakku. Bisa kau tunjukkan sepeda terbaik untuk anak-anak seusianya?"


"Tidak masalah tuan, silakan ikuti saya..."


Yin Zhen menghampiri Yin Mei dan menggandeng tangannya, dia membawa Yin Mei untuk melihat beberapa sepeda berkualitas tinggi untuk dia pakai.


Begitu Yin Mei memasuki tirai berwarna merah di bagian belakang toko, dia terkejut. "Woahh! Bagus sekali sepeda-sepeda itu!"


Yin Zhen senang melihat Yin Mei bahagia, dia melirik karyawan toko itu dan berkata, "aku akan membeli apa yang dia inginkan."


"Baiklah, tuan."


Tidak lama kemudian Yin Mei kembali, "papa, Mei'er ingin sepeda yang itu..."


Kedua mata Yin Zhen langsung tertuju ke arah barat, di sana terdapat beberapa sepeda cantik yang dihiasi motif kesukaan anak-anak. "Yang mana yang kau suka?"


Yin Mei memegang tangan Yin Zhen dan menggiring nya ke dekat sepeda yang disukainya, "Mei'er suka yang ini..." ujarnya sambil menunjuk ke arah sepeda bermotifkan bunga.


"Baiklah, kalau begitu kita ambil yang ini."


"Yeay! Mei'er sayang papa!"


Karyawan toko yang mengerti maksud perkataan Yin Zhen langsung menggiring sepeda itu ke area pengemasan, tak lupa Yin Zhen juga meminta dua roda kecil tambahan agar Yin Mei bisa memakainya dengan nyaman. Bagaimanapun di usianya, mengendarai sepeda beroda dua masih akan terlalu sulit.


Setelah proses transaksi selesai, Yin Zhen kembali menggendong Yin Mei sambil membawa sepeda bermotif bunga di samping kirinya. Tak banyak yang mereka lakukan di dalam pusat perbelanjaan selain membeli sepeda dan dua cup eskrim vanila.


Begitu mereka sampai di parkiran pusat perbelanjaan, Yin Zhen memasukkan sepeda itu ke dalam bagasi mobil yang untungnya bisa masuk. Namun, saat Yin Zhen hendak membuka pintu depan mobil, tiba-tiba ledakan terjadi.


'Duar!'


Yin Zhen yang menggendong Yin Mei langsung mundur dengan cepat. Mobil yang baru saja di dapatkannya beberapa hari yang lalu sekarang meledak tepat di depan matanya.


Yin Zhen yang melihat itu, marah. Jika bukan karena fakta bahwa dia telah membuka segel pertama, mustahil baginya untuk bergerak secepat itu menghindari ledakan yang tiba-tiba.


Sedangkan di sisi lain, Yin Mei langsung menangis karena terkejut. Kedua tangan kecilnya memeluk erat leher papanya. "Papa, Mei'er takut..."


'Sialan! Berani kalian membuat gadis kecilku menangis?! Tak akan aku biarkan kalian semua!' batinnya berteriak penuh amarah. Siapapun yang berani membuat gadis kecilnya menangis, akan menerima siksaan yang jauh lebih mengerikan daripada neraka.


Lengan besarnya memeluk balik gadis kecil di gendongannya, dia berkata lembut, "tidak apa-apa, sayang. Mei'er sekarang menurut sama papa, oke?"


"He'em..." Yin Mei menganggukkan kepalanya dalam tangisannya.


"Sekarang Mei'er menutup kedua mata Mei'er. Mei'er tidak boleh membuka matanya sebelum papa memberikan ijin, mengerti?"


Tanpa keraguan, Yin Mei langsung menutup kedua matanya. Yin Zhen yang melihat itu segera melesat ke dalam kegelapan secepat mungkin.


Di sudut parkiran, tiga motor dan enam orang pria saling tertawa, menertawakan nasib target mereka yang sekarang mungkin sudah mati.


"Aku tidak mengira kalau misi akan berakhir semudah ini. Sekarang kita semua mendapatkan 10 juta yuan!"


"Aku tidak paham dengan bos besar. Padahal hanya perlu merancang jebakan kecil untuk membunuhnya, mengapa dia memerintahkan semua orang untuk mengejarnya?"


"Yah, kau benar. Tapi jika tidak begitu, kita mungkin tak akan bisa membunuhnya. Bisa dikatakan ini juga kesempatan untuk kita menjadi orang kaya!"


"Tapi sayang nya kalian semua gagal..."


Mereka dikejutkan dengan suara berat yang tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Begitu mereka semua berbalik, mata mereka hampir terjatuh karena betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka lihat.


"K-kau... Bukankah kau sudah mati tadi? Mengapa kau masih disini?!"


Sebelumnya dia melihat dengan jelas dari CCTV yang mereka pasang dekat mobil target. Mereka tak melihat pria di depannya menghindar setelah ledakan itu terjadi, jadi mereka berasumsi kalau pria itu sudah mati di lahap api.


Mendengar itu, Yin Zhen terkekeh pelan. "Anggap saja aku sebagai roh gentayangan yang akan memangsa kalian mulai sekarang. Bisa dikatakan sebagai balas dendam juga..."