
Setiap sepuluh kilometer di atas langit, gumpalan awan berwarna ungu tua terlihat. Lubang raksasa yang ada di tengah gumpalan awan itu seolah dapat menarik apa saja ke dalamnya.
Debu berwarna ungu tua menyebar ke berbagai arah dj seluruh dunia, berbagai media pada malam itu melaporkan kejadian yang sama, dimana awan berlubang hitam itu muncul di setiap negara, bahkan di setiap penjuru kota.
Munculnya awan ungu itu mengejutkan semua orang, mereka bersembunyi di dalam rumah mereka karena di waktu yang sama pula, gempa hebat terjadi. Meski tidak ada retakan tanah atau pergeseran tanah, longsor di beberapa bukit dan daratan yang cukup tinggi tidak dapat dihindari. Banyak perumahan juga ambruk karena gempa yang muncul tiba-tiba itu.
Yin Zhen yang ada di halaman depan rumahnya menatap langit kota Chengdu. Karena susunan formasi yang dia pasang, hanya sedikit getaran gempa yang semua orang di Chengdu rasakan.
Saat itu, Mei Qi memanggil kedua orang tuanya dan meminta untuk tinggal di rumahnya, bersamaan dengan Jiang Yalan yang sama-sama terkejut juga meskipun dia sudah melihat pemandangan yang serupa berkat Yin Zhen tempo hari.
"Ibu! Lebih baik ibu dan ayah tinggal di sisiku, meskipun aku bukan anak yang berbakti dan mengecewakan kalian berdua, aku mohon tetaplah di sisiku," ujar Mei Qi di depan penginapan dimana kedua orang tuanya tinggal.
Mei Zhang dan Hua Xin menghela napas mereka, keduanya memeluk tubuh rapuh Mei Qi dengan erat. "Kau tak pernah mengecewakan kami, justru sebaliknya, kami lah yang mengecewakan kamu, nak. Sedangkan untuk anakmu, itu sudah menjadi tanggung jawab pria yang membuatnya, kalau saja dia ada di hadapan ku sekarang, aku sudah mencabik-cabiknya sekarang."
Kedua mata Hua Xin memerah ketika dia ingat betapa tersiksa nya anak semata wayangnya karena pria yang menghamili nya itu. Cita-cita anaknya tinggi, nilainya bagus dan masa depannya terjamin. Namun karena pria itu, Mei Qi terpaksa harus putus pendidikan demi mengurus anaknya.
Mei Qi tersenyum saat mendengar perkataan ibunya, memang, yang harusnya disalahkan disini adalah Yin Zhen, tapi di sisi lain dirinya juga salah. Itu lah alasannya kenapa dia berani mengambil keputusan yang gegabah dan tidak mengejar cita-citanya lebih lanjut.
Di lain tempat, kedua orang tua Jiang Yalan juga ikut bersama anak perempuan mereka untuk tinggal di perumahan dekat rumah Yin Zhen. Di saat seperti ini, tinggal bersama orang-orang terdekat mereka memang harus dilakukan. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.
Yin Mei kini berada di pangkuan papanya, keduanya berada di halaman depan rumah yang sangat ramai. Bagaimana tidak? Long Hu, Bian Lu, Zi Tian, Hu Lian, mereka semua membawa kerabat mereka ke sini. Bisa dibayangkan sekarang ada berapa banyak orang yang berkumpul di depan rumahnya, setidaknya lebih dari 100 orang.
Zi Tian, Long Hu dan Bian Lu mendekat ke arah Yin Zhen, ini adalah pertama kalinya Zi Tian bertemu dan berhadapan langsung dengan Yin Zhen, penyelamatnya. Dia yang sedang dirawat di rumah sakit terpaksa harus menghentikan perawatannya karena kondisi aneh yang melanda di seluruh dunia.
Zi Tian membungkukkan kepalanya diikuti oleh semua bawahannya, "tuan Yin, saya berterimakasih sekali lagi atas kemurahan hati anda. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan semua orang-orang yang saya sayangi jika saya tidak mendengarkan perkataan anda. Meskipun saya ingin tahu darimana tuan Yin mengetahui semua ini, tapi saya pikir alasan apapun itu, asal semua keluarga dan kerabat saya selamat, maka semuanya baik-baik saja."
Tidak lama kemudian rombongan Mei Qi dan Jiang Yalan datang, kedua orang tua Jiang Yalan memeluk Yin Zhen karena rindu akan sosoknya yang telah lama tidak mereka lihat. Hubungan antara keluarga Jiang Yalan dan kedua orang tuanya dulu sudah seperti saudara, wajar bagi kedua orang tua Jiang Yalan untuk merindukan Yin Zhen dan Yin Hua.
Jiang Xu menatap gadis kecil yang ada di pelukan Yin Zhen, dia bertanya, "nak, apa ini anakmu?"
Yin Zhen sedikit mengangkat alisnya ketika mendengar pertanyaan itu, "benar, ini anakku." Dia mengalihkan pandangannya ke arah Yin Mei dan berkata, "perkenalkan dirimu kepada kakek Jiang."
Yin Mei tersenyum dan berkata dengan ramah, "halo, kakek Jiang. Aku Yin Mei, papa dan mamaku memanggilku Mei'er."
Jiang Xu balas tersenyum dan membalas, "Hai, Mei'er. Senang bertemu denganmu juga. Kau anak yang sangat cantik, kakek iri dengan papamu. Dia pasti sangat bahagia memiliki gadis cantik sepertimu."
Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, Hua Xin datang dengan langkah lebar. "Kau kah yang menghamili anakku?! Dasar brengsek! Sini, biarkan aku membunuhmu! Bajingan tengik, berani berbuat tercela di saat anakku mengejar impiannya, sini kau!"
Yin Mei yang terkejut dengan apa yang terjadi langsung menangis memeluk leher papanya, Mei Qi yang ada di sisi Hua Xin untuk menenangkan ibunya terpaksa harus mengambil alih Yin Zhen untuk menggendong anaknya.
Jiang Xu dan ibu Jiang Yalan berusaha untuk menahan amukan Hua Xin. Mei Qi yang melihat ibunya itu marah besar hanya bisa meringis, mungkin dia juga akan bertindak seperti ibunya di saat dia tahu anaknya dikotori oleh pria lain.
"Maafkan aku, Yin Zhen..." ujarnya lemah sambil membawa Yin Mei yang menangis menjauh.
Yin Zhen hanya menggelengkan kepalanya pelan dan mendekati Hua Xin dan Mei Zhang. Dia membungkukkan kepalanya memberi hormat, "saya Yin Zhen, ayah kandung Yin Mei. Maafkan saya karena kesalahan yang saya perbuat beberapa tahun silam, Mei Qi harus putus kuliah. Sekali lagi, maafkan saya."
Dengan tatapan matanya, dia meminta kedua orang tua Jiang Yalan untuk melepaskan Hua Xin. Saat itu juga, Hua Xin menyerang Yin Zhen tanpa ampun, sedangkan Yin Zhen hanya diam menerima amukan ibu Mei Qi dengan sabar.
"Brengsek! Kau merusak anakku! Kau... Kau menghancurkan impiannya! Kau membuatnya menderita selama ini! Aku akan menghancurkanmu!" Tanpa henti Hua Xin memukul tubuh Yin Zhen.
Yin Zhen sama sekali tidak merasa sakit bahkan setelah dipukul beberapa kali, tapi hatinya ikut sakit saat mendengar kata-kata penuh amarah Hua Xin. Dia untuk sejenak melirik ke dalam rumah dan bergumam dalam hatinya, 'se menderita itukah kau selama ini, kenapa kau tidak membicarakannya? Maafkan aku, Mei Qi.'
Mei Zhang yang berdiri di samping istrinya memilih untuk melerai pertengkaran itu setelah dia biarkan istrinya mengamuk. Pria paruh baya itu juga marah dengan apa yang dialami oleh anaknya, tapi dia harus berpikir lebih tenang daripada istrinya.
Dia juga melihat ketenangan pria yang menghamili anaknya itu, bagaimana dia berlapang dada menerima semua amukan istrinya, diam saat dicaci maki. Meskipun begitu, tidak ada tatapan kebencian di kedua matanya yang setajam elang itu, tapi tatapan menyesal dan simpatik lah yang Mei Zhang lihat.
"Ibu, sudahlah. Tidak baik bagi kesehatanmu jika kau terus marah seperti ini..." ujar Mei Zhang sambil menjauhkan Hua Xin dari Yin Zhen.
Hua Xin yang sekarang ada di pelukan sang suami hanya menangis keras. Semua kekecewaannya dia tumpahkan saat itu juga.
Yin Zhen memandang ayah Mei Qi, dan berkata, "saya akan berusaha untuk bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan. Tapi saya juga tidak bisa memaksa Mei Qi untuk menikah dengan saya, saya pikir, akan lebih baik jika kita berdua tetap dalam hubungan seperti ini sampai kami berdua benar-benar siap."
Berhubungan seksual dengan Mei Qi adalah bukti bahwa Yin Zhen menyukainya, tapi kadar suka itu belum sampai pada titik dimana dia mencintainya sampai rela mengorbankan nyawanya.
Mei Zhang mendengus kasar, "aku hanya berharap kau memperlakukan anak kami dengan baik. Bayar semua penderitaan yang Mei Qi lalui..."
Yin Zhen menganggukkan kepalanya mantap.
Di waktu berikutnya, semua orang yang ada di sana terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan mereka.
[Mulai dari sekarang, Bumi menjadi salah satu planet dari Dunia Sihir.]
Suara sistem berdering di kepala setiap orang, mereka yang baru saja melihat ini tentu saja terkejut. Nama serta statistik kekuatan mereka diperlihatkan di sana.
Jiang Yalan juga terkejut, dia hendak bertanya kepada Yin Zhen tentang apa yang terjadi, tapi auman keras yang berasal dari dalam hutan di sekelilingnya membuatnya mengurungkan niatnya.
Yin Zhen yang mendengar itu langsung berteriak, "semuanya berkumpul! Kalian semua tidak boleh membelakangi hutan, atau makhluk mutan akan memakan kalian!"
"Apa?!"
"Makhluk mutan? Apa yang dia bicarakan?"
"Yin Zhen, apa itu makhluk mutan?"
Tiba-tiba saja tiga serigala berbulu merah darah yang ukurannya dua kali lipat dari mobil biasa muncul dari kedalaman hutan. Deretan giginya yang tajam dia pamerkan kepada semua orang yang ada di sana.
"Grghh..."
Yin Zhen yang melihat itu langsung meminta Jiang Yalan untuk menertibkan orang-orang yang ada di sekitarnya, "Jiang Yalan, aku harap kau bisa menertibkan semua orang yang ada disini. Bian Lu, Hu Lian, kalian lakukan hal yang sama."
Ketiga orang itu langsung menganggukkan kepalanya dan melaksanakan apa yang Yin Zhen perintahkan.
Sedangkan Yin Zhen di sisi lain kini tengah berhadapan langsung dengan tiga serigala bertubuh raksasa itu. "Tampaknya ini hanya serigala biasa sebelumnya, tapi setelah berevolusi, ukuran tubuhnya menjadi berkali-kali lebih besar."