
Setelah malam hari yang syahdu mereka lewati kembali, keesokan harinya tepat saat Marvin mengerjapkan matanya, ponselnya pun bergetar diatas nakas.
Ia segera mengumpulkan kesadaran dan tenaganya setelah pertempurannya semalam. Lalu dengan malas ia mengambil benda yang kembali bergetar itu.
"Ada apa, Ken?" tanyanya malas.
"Infotainment kembali menayangkan berita tentang nyonya muda, Tuan."
Setelah mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh sekertarisnya, Marvin pun meraih remote TV dan melihat salah satu saluran yang sedang menayangkan berita tentang istrinya.
Ia pun lalu menutup saluran teleponnya secara sepihak dan membangunkan istrinya yang masih terlelap di bawah selimut.
"Sayang ...," bisiknya ditelinga Elisa, sementara tangannya sudah menyusup kebawah selimut dan bergerilya disana. Membuat Elisa mau tak mau pun harus membuka matanya meskipun ia baru tidur menjelang subuh tadi.
"Bisakah aku tidur lebih lama lagi?" tanyanya dengan suara yang masih parau.
"Tentu saja, Sayang. Tapi lihatlah dulu, apa yang diberitakan di televisi itu." Marvin menarik kembali selimut Elisa yang digunakan gadis itu untuk menutupi kepalanya.
Mendengar hal itupun, Elisa membuka matanya dan memasang telinganya. Ia pun langsung duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Menyaksikan bagaimana mereka sendiri yang membuat klarifikasi atas berita yang mereka tayangkan kemarin sekaligus mengucapkan permohonan maaf kepada semua pihak yang dirugikan atas beredarnya isu tidak benar tersebut.
Selain itu, mereka juga mengemukakan alasan dibalik foto Elisa yang beredar kemarin, juga menarik segala benang merah yang terhubung dengannya. Termasuk di dalamnya Bimo dan Stevi.
Elisa bisa bernafas lega sekarang, ia tidak banyak berharap. Sekalipun masyarakat mempercayai klarifikasi itu atau tidak, baginya yang terpenting keluarganya, suaminya serta keluarga mertuanya percaya padanya. Itu saja sudah cukup. Elisa sudah terlalu lelah selama ini, lebih lagi jika harus memikirkan mantan teman baiknya yang sampai meregang nyawa hanya karena tidak bisa memiliki dirinya.
Namun disela-sela apa yang sedang ia pikirkan, ia merasakan sesuatu mengusik benda membusung di dadanya.
"Marvin!" serunya seraya melotot melihat lelaki itu sudah bermain-main kembali disana.
"Aku sedang melindungi barang kesayanganku yang kau biarkan terbuka begitu saja," ujarnya seraya menghentikan aktifitasnya.
"Tunggu! Kau mau apa lagi?" Elisa sedikit panik melihat suaminya kembali mendekatkan wajahnya. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi dadanya.
"Melanjutkan apa yang baru saja tertunda," jawabnya tanpa dosa.
"Marvin, aku sedang mengandung. Apa ini tidak berbahaya?"
Bukankah sepanjang malam kau sudah melakukannya?
"Kemari lah!" Marvin yang sudah beralih posisi dan bersandar di kepala tempat tidur itupun meraih bahu istrinya agar Elisa bersandar di dadanya.
Ia mengecup perlahan puncak kepala Elisa. "Maafkan aku, aku selalu lalai jika sudah terbakar oleh hasrat ku," sesalnya.
Elisa mendongak, berusaha melihat wajah suaminya dan tersenyum. Ia lalu beringsut dari posisinya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Semalam ia dan Marvin merencanakan akan pulang ke rumah keluarga besar Marvin dan memulai kehidupan barunya disana. Menyandang statusnya sebagai istri seorang tuan muda dan menyandang gelar nyonya muda disana.
Setelah menyantap sarapan di restoran hotel, ia dan suaminya pun memulai perjalanannya. Sepanjang perjalanan ia sungguh sangat merasa deg-degan. Ia terus memikirkan apa yang akan ia ucapkan nanti ketika ia bertemu dengan mertua dan semua keluarga Marvin.
Elisa jelas kesulitan mengingat ia selama ini adalah orang yang tertutup dan tidak pernah basa-basi dengan banyak orang.
Menit-menit mendebarkan belum berlalu, bahkan kini ia semakin gugup saat mobil yang membawanya dan suaminya memasuki gerbang yang menjulang tinggi menuju halaman luas kediaman Wiratmadja.
"Ayo, Sayang!" Marvin mengulurkan tangannya dan mengajak istrinya untuk masuk.
"Apa mereka menyambut kita?" tanya Elisa saat melihat deretan orang-orang berseragam pelayan yang berbaris rapi dari teras hingga ke dalam.
"Tentu saja," jawab Marvin dengan tanpa beban.
Lelaki itu akhirnya meraih tangan istrinya yang sejak tadi belum menyambut uluran tangannya. Menggandeng Elisa dengan mesra melewati para pelayan yang menundukkan kepalanya.
Semua anggota keluarga menyambutnya dengan hangat dan mengajaknya untuk mengobrol di ruang keluarga.
Beruntung sekali keluarga ini begitu banyak bicara sehingga Elisa tidak mati kutu dan kekurangan tema untuk dibicarakan. Terlebih lagi bibi-bibi Marvin juga masih disini.
Hari itu menjadi hari yang baru bagi Elisa, ia menjalani hidup yang penuh cinta dan kasih sayang dari keluarga Marvin. Diperlakukan layaknya seorang putri di dalam istana Wiratmadja. Ia berbahagia menjalani sebuah kehidupan yang mungkin menjadi impian setiap wanita di berbagai belahan bumi manapun. Memiliki ibu mertua yang sangat lemah lembut dan perhatian serta adik ipar yang tak henti-hentinya membuatnya tertawa serta opa yang selalu bijak dan menuntunnya serta memberikan banyak nasehat padanya.
Hal itu seperti sebuah paket lengkap yang Tuhan hadiahkan padanya atas kesabarannya selama ini.
*****
Say good bye pada mereka semua teman² ...
Sebenarnya Nthor udah punya novel baru, silahkan cek aja di profil Nthor ya. Nthor tunggu kalian di cerita yang baru, dengan tema dan pemeran yang baru.