Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Mencari Informasi



Setelah beberapa saat mengamati, akhirnya Marvin pun membalikkan badan dan memanggil ibu panti yang berada tak jauh darinya.


"Permisi, Bu Yuli," panggilnya.


"Iya, Tuan?" jawab bu Yuli seraya mendekat kearah orang yang memanggilnya.


"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Marvin tanpa basa-basi setelah orang yang tadi dipanggilnya berada di hadapannya.


"Silahkan, Tuan," ujar bu Yuli.


"Emm ... kalau boleh saya tahu, siapakah gadis yang sedang berada dibawah pohon itu?" Marrvin menunjuk ke arah gadis cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Stevi.


Bu Yuli nampak memicingkan matanya, karena ia sedikit terganggu dengan cahaya matahari yang mengarah ke arahnya.


"Oh ... itu namany Aruna, dia tinggal di dekat sini dan sudah menjadi bagian dari panti ini sejak lima tahun yang lalu," terang bu Yuli secara singkat.


"Aruna? Dia tinggal dekat sini?" tanya Marvin tak percaya. Mana mungkin ada orang yang bisa memiliki wajah serupa.


"Benar, Tuan. Dia gadis yang sangat baik sekali. Selama lima tahun pengabdiannya di panti ini, dia termasuk orang yang ikut bersusah payah mencari donatur kesana kemari." Bu Yuli memberikan keterangan sambil menatap Aruna dengan tersenyum.


Sementara Marvin dan Ken dibuat bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa Aruna? Kenapa wajahnya bisa sama persis dengan kakak dari Elisa?


"Bu Yuli, maaf jika saya bertanya lagi. Apa gadis itu masih memiliki orang tua?" tanya Marvin penasaran.


"Saya sendiri kurang tahu untuk urusan pribadi Aruna, Tuan. Hampir seluruh waktunya, dia habiskan di panti ini selama lima tahun terakhir, tapi sayangnya saya belum pernah menanyakan urusan itu padanya," jelas bu Yuli.


"Baiklah, terimakasih atas keterangannya." Marvin tersenyum mengambang. Ia jadi teringat Stevi. Sorot mata Stevi sangatlah liar dan penuh ambisi, sementara gadis yang ada dihadapannya justru terlihat sebaliknya.


Ia bahkan mungkin tidak menyadari jika Marvin dan Ken beserta ibu panti sedang memperhatikan dan membicarakannya.


Aruna masih asik dengan aktifitasnya bersama anak-anak yang bersamanya, mereka tertawa riang sambil bercanda satu sama lain.


"Maaf, Tuan, jika saya bertanya. Apakah Tuan mengenal Aruna?" tanya bu Yuli.


"Ibu kira, Tuan Marvin pernah mengenalnya. Maafkan saya, Tuan."


"Tidak masalah, saya hanya merasa pernah melihatnya saja." Marvin tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu mari kita ke dalam. Hari sudah semakin siang, sudah waktunya makan siang, Tuan." Bu Yuli mengajak tamunya untuk masuk ke ruang tengah.


Mereka berjalan melewati lorong panjang dari kamar-kamar penghuni panti asuhan.


Diruang tengah, anak-anak panti sudah duduk dengan rapi di karpet yang telah disediakan. Mereka sudah terbiasa hidup tertib di dalam panti ini.


"Silahkan Tuan! Kami hanya bisa menyajikan makanan ini," ujar bu Yuli sedikit merasa bersalah karena hidangan yang tersaji sangatlah sederhana. Sementara tamu yang datang bukanlah tamu sembarangan.


Di meja itu terhidang nasi putih, sambal, ikan asin, tahu, tempe goreng dan terong yang dipanggang. Tidak lupa pelengkap hidangan seperti daun kemangi dan mentimun. Menu yang sangat sederhana bagi seorang seperti Marvin, yang sudah terbiasa hidup mewah dan tinggal di luar negeri. Tapi tentu berbeda bagi para penghuni panti asuhan ini. Menu ini bagi mereka sangat spesial karena dihidangkan secara lengkap dengan lalapannya.


Mereka sudah terbiasa makan hanya dengan lauk tahu goreng atau tempe goreng saja, dengan tambahan sayur sop, sayur asam ataupun sayur lainnya.


Ibu panti memberikan jadwal makan ikan, telur atau ayam hanya dua kali dalam seminggu. Itupun jika ada dananya, jika tidak ada dananya, mereka lagi-lagi harus makan dengan lauk yang sama lagi seperti kemarin-kemarin.


"Bu Yuli, jangan seperti itu. Sejak tadi saya sudah menelan air liur saya saat melewati ruangan ini, tadi." Marvin berkata jujur. Ia memang belum pernah makan makanan seperti ini sebelumnya, tapi aroma dari hidangan ini cukup membuat dirinya penasaran dengan rasanya.


Setelah itu Marvin mengambil piringnya dan mengisinya dengan segala hidangan yang ada disana, begitu pula dengan Ken.


Saat berbalik dan akan berjalan ke tempat duduk yang sudah disediakan, Marvin lagi-lagi harus melihat Aruna. Gadis itu menggandeng anak-anak yang bersamanya tadi. Wajahnya sangat berseri dan terlihat penuh kasih.


Melihat wajah Aruna dalam jarak dekat membuat Marvin yakin jika gadis ini memang seperti duplikat dari Stevi. Tapi apa hubungan mereka? Tidak mungkin mereka bersaudara, kan? Jelas-jelas Stevi adalah putri pertama dari keluarga Hanggara, putri kandung keluarga itu. Lalu bagaimana ada orang lain yang bisa sama persis dengannya?


"Ken, ini tugasmu!" ujarnya seraya melirik kearah sekertarisnya.


"Baik, Tuan." Ken mengangguk dan berlalu begitu saja. Ia duduk dan mulai menikmati makan siangnya. Ia bukanlah Marvin yang terbiasa dilayani bak seorang raja. Makan makanan terbaik, berpakaian kualitas terbaik, tidur dikamar terbaik dan segala yang serba terbaik. Ken sering merasakan makanan seperti ini ketika ia ikut berkunjung di Indonesia. Ibunya sering memasak masakan sederhana seperti ini, ibunya juga bahkan berhasil membuat ayahnya yang tidak bisa makan pedas jadi ketagihan makan sambal buatannya.