
Prok ... prok ... prok
Suara tepuk tangan masih menggema dan bersahutan seolah membentuk sebuah irama merdu yang mengiringi kebahagiaan yang kini tengah dirasakan oleh dua orang yang baru saja mendapat restu dari kedua orang tua masing-masing.
Rona bahagia tergambar jelas, bukan hanya di wajah calon mempelai, tapi juga di wajah semua orang yang turut hadir disana.
Marvin tersenyum lebar seraya memegangi tangan Lisa dan menunjukkan apa yang baru saja ia sematkan di jemari lentik calon istrinya. Ia terlihat sangat senang dan bangga karena pada akhirnya ia berhasil maju hingga dititik sekarang ini. Kurang selangkah lagi dirinya akan benar-benar bisa bersanding dengan sang pujaan hati dan saling mengucapkan janji suci pernikahan.
"Selamat, Marvin, Elisa, semoga hubungan kalian berdua juga direstui oleh Tuhan, dan semoga semuanya lancar sampai hari bahagia kalian nanti," ujar Morgan yang sedikit terharu.
Lalu ucapan-ucapan itu saling terucap dari semua orang yang hadir disana, tak ketinggalan juga Stevi. Ia juga mengucapkan selamat pada Marvin dan juga adiknya. Meskipun dalam hatinya berkata lain.
"Baiklah, Tuan-tuan semua serta Nyonya, bagaimana kalau kita makan malam sekarang?" tanya Hanggara.
"Ya ... kurasa itu ide yang bagus." Morgan menyambut ajakan calon besannya dengan tersenyum lebar. Sementara yang lain hanya mengangguk menanggapi ajakan Hanggara.
Mereka yang ada di ruangan itu lalu berdiri dan melangkah mengikuti tuan rumah ke arah taman belakang. Di sana sudah disiapkan makan malam untuk acara hari ini. Sayangnya Hanggara tidak tahu jika acara malam hari adalah acara spesial. Jika ia tahu, tentu akan mempersiapkannya dengan lebih meriah.
Malam itu banyak sekali yang mereka perbincangkan, terkait perusahaan, hingga rencana kapan akan dilangsungkannya pernikahan Marvin dan Elisa. Semua orang sangat antusias, hanya ada satu orang yang terlihat tidak berminat sama sekali dengan obrolan itu. Ia terlihat tidak bersemangat, bahkan cenderung sebal mendengarnya dan nampak ingin pergi.
"Kau tahu aku senang sekali malam ini. Akhirnya sebentar lagi kita akan benar-benar menjadi sepasang suami istri." Marvin memulai percakapannya dengan calon istrinya. Saat ini mereka tengah memisahkan diri dari rombongan keluarga besar mereka.
Duduk disebuah bangku yang juga mereka pakai tempo hari saat Marvin menyatakan cintanya untuk pertama kali. Menikmati indahnya malam yang seolah sengaja mengiringi kebahagiaan mereka.
Lisa menoleh dan tersenyum pada lelaki disampingnya, tanpa mengatakan apapun tapi Marvin cukup tau jika perempuan yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya juga tengah merasakan kebahagiaan yang sama.
"Marvin, bagaimana jika aku akan mengecewakanmu suatu saat nanti?" tanya Lisa asal.
"Seperti apa contohnya?" tanya Marvin yang terdengar seperti sebuah tantangan.
"Aku tidak tahu, tapi aku tidak yakin jika aku adalah orang baik."
"Kau tahu, seandainya dari awal mataku buta sekalipun, aku tetap bisa merasakan jika kau adalah perempuan istimewa. Kau memiliki sesuatu yang tidak semua wanita memilikinya. Dan karena hal itulah aku sangat mencintaimu." Sebuah kecupan mendarat dengan manis di punggung tangan Lisa, lalu sebuah senyuman terukir indah menghiasi wajah pria itu.
Mendengar ocehan Lisa yang terasa menggelitik membuat pria paling disegani di Globalindo itu menghela napasnya. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu.
"Sayang, calon istriku yang sangat kucintai. Kita sama-sama tahu atas dasar apa hal itu terjadi. Kau melakukan hal itu karena kau berada dibawah pengaruh obat. Kau juga sudah tahu hal itu, jadi jangan pernah merasa dirimu bagaimana-bagaimana. Kau sangat berharga dan aku tahu itu. Yang paling penting saat ini adalah, kau dan aku saling mencintai. Dan satu hal lagi yang harus kita prioritaskan saat ini. Ada nyawa berharga yang sekarang sedang tumbuh di rahimmu. Tolong jaga dia baik-baik, karena kita saat ini belum bisa tinggal bersama." Marvin tersenyum penuh arti. Ia lalu membelai wajah Lisa yang terlihat sangat cantik malam ini.
Meski sebenarnya ia juga merasa sedikit khawatir, tapi ia tidak ingin menunjukkannya. Entah kenapa rasanya ia ingin membawa Lisa pulang malam ini juga. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya jika mengingat bagaimana sifat Stevi.
"Jangan pernah pikirkan apapun yang memang itu tidak penting. Percaya lah padaku! Oke?"
"Terimakasih, Marvin!" Hanya itu yang terucap dari bibir Lisa sebelum akhirnya sebuah pelukan hangat dan menenangkan dirasakan oleh Lisa. Begitu hangat dan nyaman.
"Jadi Lisa hamil?" gumam Stevi yang sejak tadi mengintai mereka. Ia mengikuti kedua sejoli itu sejak mereka meninggalkan meja makan tadi.
Kenapa harus berakhir seperti ini? Kenapa? Dasar tidak berguna! Harusnya jika rencana malam itu berhasil, gadis jelek itu pasti sudah menderita sakit yang sama dengan Boby. Kenapa dia lahir dan mendapat takdir seberuntung ini? Kenapa? Kenapa harus dia yang bersama Marvin, kenapa harus dia yang selalu dilirik oleh para lelaki? Apa kurangnya aku, hah?
Stevi meremas gaunnya sendiri, lalu pergi dari sana. Ia memilih masuk ke kamarnya, entah apa yang sedang dilakukannya.
Beberapa saat berlalu, Lisa meleraikan pelukan Marvin dan menatap lembut calon suaminya.
"Marvin, besok kau tidak usah menjemput ku. Aku bisa berangkat ke kantor sendiri," ujar Lisa tanpa dosa.
"Apa? Ke kantor? Tidak! Kau tidak boleh kemana-mana! Kau harus banyak istirahat, Sayang. Apa kau tidak ingat, dokter bilang apa, tadi?" Marvin menolak mentah-mentah.
"Tapi ada banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan," protes Lisa.
"Banyak staf di kantorku, Sayang. Mereka bisa mengatasinya dengan mudah. Kau adalah calon istriku, bagaimana kau masih berpikir untuk tetap bekerja sebagai staf disana?"
"Baiklah." Lisa hanya pasrah karena berdebat juga dia tidak akan menang.
"Jangan marah, ini semua juga demi dirimu dan juga calon anak kita." Begitulah ucapan terakhir Marvin sebelum akhirnya ia mereka bersatu dalam sebuah pelukan. Sebenarnya lelaki itu ingin sekali saja merasakan kelembutan bibir Lisa yang nampak merah delima. Tapi entah kenapa, ia tidak sanggup memintanya. Nanti saja, batinnya. Jika mereka sudah terikat pernikahan, ia mungkin tidak akan ragu lagi untuk memintanya.
______