
"Jadi kau sudah tahu? Bukankah itu sangat menjijikkan? Lalu kenapa kau masih menginginkanku?" tanya Lisa. Ia masih berusaha menguatkan hatinya agar tidak jatuh dan sakit.
Marvin meraih kedua tangan gadis itu dan menatap kedalam mata Lisa yang terlihat sendu, "Lisa, dengarkan aku! Orang lain mungkin akan dengan mudah percaya tentang hal itu, tanpa mencari tahu tentang kebenarannya karena mereka semua bodoh. Anggaplah begitu! Tapi aku, kau pikir aku bisa dibodohi hanya dengan kabar seperti itu? Hah ... meskipun kau sendiri yang mengatakannya padaku, jangan harap aku akan mempercayainya!" Marvin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan orang-orang yang bisa dengan mudah dibodohi dengan adanya rumor murahan seperti itu. Tapi dia bersyukur juga dengan adanya rumor itu, karena jika tidak rumor itu mungkin Lisa nya sudah dipinang dan menjadi istri orang lain.
"Apa kau lupa? Kita pernah melakukannya, mataku tidak buta dan aku tidak bodoh sehingga aku bisa melupakan bercak merah yang tersisa di sprei hotel itu. Bukankah itu bercak kesucian mu?" tanya Marvin yang seketika membuat Lisa nya menjadi sedikit tersipu mengingatnya.
Sementara orang dibalik tembok, yang tak lain adalah Stevi, dibuat ternganga mendengar penuturan dari lelaki yang belakangan ini menjadi targetnya. Sejak tadi ia sudah ingin mengobrak-abrik sesuatu dan kini ia justru mendengar sesuatu yang benar-benar tidak pernah terpikirkan sama sekali olehnya.
Marvin sudah tau semuanya, dan Marvin tahu rumor itu adalah berita bohong. Dan sialnya justru lelaki itu sendirilah yang berhasil merenggut kesucian adiknya. Yang harusnya Boby lah yang melakukannya.
Boby adalah lelaki yang paling tidak diinginkan oleh Stevi, karena Stevi tahu lelaki mengidap penyakit kelam*n yang tidak diketahui banyak orang.
Tapi rencananya sekarang gagal total, malam yang harusnya menjadi malam paling sial bagi Elisa justru membawa keberuntungan untuknya.
Stevi terhenyak saat mendengar adiknya mulai berbicara.
"Tapi Marvin, semua orang kalangan atas sudah tau hal itu. Aku tidak ingin kau menanggung malu suatu saat nanti," ujar Lisa meyakinkan.
"Malu? Untuk apa? Untuk apa merasa malu atas segala sesuatu yang tidak pernah kau lakukan? Apa kau juga masih berharap jika aku percaya bahwa kau adalah simpanan para bos?" Kali ini Marvin nampak mengulas senyumnya, namun hal itu justru membuat pipi Lisa menjadi merona dibuatnya. Elisa merasa tersipu dan terharu secara bersamaan. Sekian lamanya, baru sekarang ada laki-laki yang justru tertawa mendengar rumor tentangnya.
"Lihatlah! Mana ada simpanan bos yang modelnya sepertimu? Kau terlalu polos untuk jadi makanan buaya, Lisa. Dan kau terlalu berkelas untuk menjadi sebuah simpanan. Kau lebih pantas menjadi Nyonya. Jadi maukah kau menjadi Nyonya Marvin?" Marvin tersenyum penuh arti diakhir kalimatnya pertanyaannya.
"Aku ... aku," Lisa menatap mata Marvin, namun ia tidak bisa fokus karena tatapan mata lelaki itu terlalu dalam kepadanya. Sekarang dia jadi salah tingkah sendiri karenanya. Lidahnya juga tiba-tiba menjadi kelu. Beberapa kali ia berkedip karena berpikir.
Lisa ... Lisa, andai bukan disini. Aku akan mencubit pipimu dengan gemas saat ini. Tidak, mungkin aku akan menggigitnya. Apa itu? memerah seperti tomat, dan matanya ... astaga, aku benar-benar gila hanya karena melihatmu seimut ini.
Marvin masih memandangi gadis itu sambil berangan-angan. Tidak tahu kenapa ia bisa se-jatuh hati ini dengan gadis bernama Elisa.
"Marvin," panggil Lisa yang sudah merasa sedikit risih dengan tatapan dari lelaki disampingnya.
"Jangan melihatku seperti itu!" lirih Lisa.
"Kalau begitu jawablah!" kata Marvin dengan tanpa beban, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Marvin, tapi ...." Baru akan protes tapi kata-katanya terhenti saat matanya bertemu tatap dengan orang yang memandanginya sejak tadi. Dan sialnya lelaki itu justru tersenyum padanya.
Runtuh sudah pertahanannya. Lisa memang sedikit menaruh simpati pada Marvin karena kebaikan lelaki itu, tapi ia tidak menyangka jika Marvin telah lebih dulu jatuh hati dan menyerahkan hati itu padanya.
Dan sekarang, mungkin hatinya juga sudah jatuh pada lelaki itu.
Terkadang ucapan orang tua memang seperti sebuah do'a. Beberapa saat yang lalu Morgan mengatakan jika ia berharap Dewi asmara turun ke bumi dan memilih pasangan untuk dibuat saling mencintai.
Dan Lihatlah saat ini, ucapan itu telah menjadi kenyataan. Sepasang pria dan wanita ini terlihat saling terpaut satu sama lain.
"Katakanlah Lisa!" pinta Marvin seraya mengecup punggung tangan gadis itu.
"A ... aku, aku perlu memikirkannya," jawab Lisa seraya menarik tangannya.
"Memikirkan apa lagi? Baiklah ku tunggu disini, dan aku tidak akan pulang sebelum kau menjawabnya."
"Marvin, baiklah aku ...."
"Yes!" seru Marvin, padahal kalimat Lisa belum selesai. Gadis itu belum menjawab apapun, belum mengatakan ya atau tidak.
Lisa juga terkejut melihat respon Marvin, ia sampai terbengong tapi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Maaf, Lisa. Aku tidak ingin mendengar penolakan darimu.