Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Identitas Stevi



Melihat yang diajak bicara hanya diam dan menunduk, Hanggara rasanya tidak bisa menahan kesabaran dan rasa penasarannya.


Dengan kilatan mata yang menanggung amarah, ia beranjak dari tempatnya dan hendak bertindak kasar pada wanita yang ada dihadapannya.


"Jangan sakiti mama, Paman!" pinta seorang gadis yang sejak tadi berada tak jauh di belakang Sovia. Aruna menangkupkan kedua tangannya seraya memohon. Ia tentu tidak tega melihat ibunya yang sudah sangat tidak berdaya mendapatkan perlakuan kasar dari Hanggara.


Meskipun ia sangat tahu jika ibunya pernah berbuat keji di masa lalu, tapi Aruna juga tahu betapa menderitanya ibunya selama ini. Menanggung penyesalan selama puluhan tahun bukanlah hal yang mudah untuk dilewati.


"Aruna, tidak masalah, Nak. Mama memang pantas mendapatkan amarah darinya. Perbuatan Mama dimasa lalu memang tidak bisa dimaafkan begitu saja. Mama adalah orang yang sangat jahat dan keji, jadi biarkanlah mama menanggung dosa-dosa mama," ujarnya seraya menatap putrinya dengan tatapan sayu.


Sovia lalu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mulai menatap adik kandung satu ayah, yang telah lama sekali tidak ia jumpai lagi.


"Dimas, maafkan aku. Aku sungguh tidak menyangka jika pada akhirnya kehadiran Stevi di tengah keluargamu akan memberi masalah sampai seperti ini. Maafkan putriku yang telah menyusahkan mu dan juga hampir mencelakai putrimu sendiri. Ku pikir, jika aku memberikan salah satu putriku padamu, maka akan memberi kebahagiaan di dalamnya. Tapi rupanya aku salah."


"Apa maksudmu, Sovia?" Hanggara dan istrinya benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan dari wanita itu.


Sovia menunduk dan memejamkan matanya, seolah sedang mengingat semua memori yang tersimpan di dalam otaknya selama ini. Dengan perlahan ia kembali mengangkat kepalanya dan merangkul gadis yang berdiri sejajar dengannya.


"Ya, ini adalah putriku, Aruna. Dan yang selama ini tinggal bersamamu juga adalah putriku. Mereka adalah putri kembar ku."


"Apa kau bilang? Tidak mungkin! Jika dia adalah putrimu, kalu dimana putriku, hah? Apa kau menculiknya dan mencelakainya? Dasar wanita licik! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Sovia?" Hanggara sudah mengangkat tangannya dengan tubuh yang bergetar hebat karena amarah yang telah menguasai dirinya. Ia tidak habis pikir, bagaimana caranya wanita itu bisa melakukannya, sementara mereka bahkan tidak pernah bertemu sama sekali.


Namun lagi-lagi ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya lantaran Aruna memasang badan untuk melindungi orang yang biasa dipanggilnya mama itu.


Sementara Elisa, entah apa yang ia rasakan sekarang. Haruskah ia senang karena pada akhirnya wanita berhati busuk itu bukanlah kakak kandungnya? Atau justru kesal karena ternyata selama ini orangtuanya telah membuang begitu banyak waktu mereka untuk melindungi dan menyayangi orang yang ternyata bukanlah putri kandung mereka itu?


"Dimas, berikan aku kesempatan! Aku akan menjelaskan semuanya. Dadaku sangat sesak menahan semua ini sendirian selama ini." Sovia mengatupkan kedua tangannya dan mulai memohon sambil berlutut dihadapan lawan bicaranya.


"Apalagi yang bisa ku percaya darimu, Sovia? Dan siapa yang akan menjamin jika kau mengatakan hal yang benar?" Masih dengan matanya yang merah menahan amarah, Hanggara berbicara dengan geram.


Dengan posisi masih berlutut, Sovia tetap membuka suaranya. Ia tidak peduli lagi akankah adiknya akan mendengarnya atau tidak. Dadanya sudah terasa sakit sejak lama, dan sekarang adalah waktu yang tepat baginya untuk membeberkan semuanya.


"Aku telah datang menemui mu sekitar dua puluh lima tahun yang lalu untuk mengakui semua kesalahanku. Tapi ternyata aku kurang beruntung, seorang tukang kebun mu yang sudah tua mengatakan jika kau sedang mengantarkan istrimu yang tengah hamil tua untuk pergi kerumah sakit. Aku berniat menyusul mu, tapi rupanya tubuhku sendiri sudah sangat kelelahan hingga akhirnya air ketubanku pecah sesaat sebelum aku sampai kerumah sakit. Dan pada hari itu juga aku melahirkan disana, di tempat dimana istrimu juga sedang berjuang untuk melahirkan keturunanmu. Tapi Tuhan ternyata memudahkan urusanku. Aku bisa melahirkan bayi kembarku dengan normal dan selamat. Hingga keesokan harinya, setelah aku bisa turun dari ranjang ku, aku masih berusaha mencari keberadaan mu serta istrimu. Di rumah sakit yang tak terlalu besar itu, aku bisa dengan mudah menemukan dimana kalian berada. Tapi saat aku akan mengetuk pintu ruangan kalian, telingaku tidak sengaja menangkap suara isak tangis seseorang. Orang itu adalah perawat atau mungkin seorang bidan, aku tidak tahu pasti. Aku berusaha mendekatinya dan mencari tahu sedikit informasi. Aku tidak menyangka jika orang itu akan mau bercerita padaku. Dia bilang dia baru saja merawat bayi yang baru saja lahir beberapa saat lalu, yang tak lain adalah bayi dari istrimu. Tapi dia begitu ketakutan karena bayi yang baru saja ia rawat ternyata tidak bisa bertahan hidup. Entah karena sebuah keteledoran atau karena sebab lain. Hal itu jujur saja membuatku ikut sedih mendengarnya. Memikirkan istrimu pasti akan sangat terpukul atas kematian bayinya, akhirnya aku memutuskan untuk memberikan salah satu bayiku padamu dan membawa jasad bayimu yang telah tiada itu bersamaku. Karena ku pikir hal itu akan mampu menggantikan sebuah duka menjadi kebahagiaan bagi kalian."


"Tidak, tidak mungkin putriku meninggal! Kau pasti menyembunyikannya, kan? Dimana putriku, Sovia?" Hanggara merasa sangat frustasi sekali sekarang, begitu pula istrinya.


"Katakan! Dimana putri kami?" pinta Maria.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Dimas. Aku sudah tidak punya waktu untuk berbohong lagi, karena umurku hanya tinggal menghitung bulan, bahkan mungkin tinggal menghitung hari. Aku ingin pergi dengan tenang. Aku sudah melepaskan semuanya, mengatakan semuanya padamu. Maafkan aku karena telah salah memilih keputusan waktu itu." Sovia tergugu sambil menunduk dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Tidak mungkin putriku meninggal. Tidak mungkin, Ma." Hanggara pun sama halnya dengan wanita yang tadi bicara dengannya. Tulangnya terasa lemas sekali hingga membuat tubuhnya merosot begitu saja. Ia pun tak kuasa membendung rasa sesak yang terasa menghimpit dadanya. Hingga tumpah lah cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Ia memeluk istrinya yang juga sama terpukulnya dengan dirinya. Mereka meratapi nasib, juga menyesal karena telah mengabaikan satu-satunya putri kandung mereka yang selama ini menjadi korban fitnah atas kakak yang bukan darah daging mereka.