Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Mengatakan Yang Sebenarnya



Perasaan berdebar-debar masih menghantui pria berusia dua puluh tujuh tahun itu hingga dirinya sampai di kediamannya.


Ia bahkan sampai tidak menghiraukan sambutan para pelayan yang berbaris rapi di depan pintu utama.


Bu Sus, kepala pelayan pun sampai terheran melihatnya. Tuan mudanya itu memang sedikit angkuh, tapi juga tidak pernah mengabaikan keberadaan para pekerjanya.


Sore itu juga Marvin berniat pergi menemui ayahnya, ia langsung bergegas ke lantai atas menuju kamar ayahnya.


Tanpa permisi, tanpa mengetuk pintu ia langsung membuka pintu ruangan pribadi milik kedua orang tuanya. Hal ini bukanlah kebiasaannya, tapi rasa gugup yang menderanya membuatnya sedikit hilang akal.


Ceklak ....


Seharusnya ia tidak melakukan ini, lihatlah kini dia sedang terpaku menyaksikan adegan tidak biasa dari kedua orang tuanya.


"Marvin!" Morgan melayangkan tatapan tajam pada putranya seperti menatap musuh.


Bagaimana tidak, ia saat ini sedang bercumbu dengan istri tercintanya dan anak kurang ajar itu mengacaukan aktifitasnya.


"Pi! Maafkan aku, Pi! Marvin benar-benar tidak sengaja," sesalnya seraya memegangi kedua telinganya.


"Sudahlah! Ada apa, Nak?" tanya Eylina, lalu menarik lengan anaknya dan mendudukkannya di sofa.


"Mami, maafkan Marvin," pintanya manja.


"Jangan dibiasakan berkelakuan seperti itu!" tegur Morgan yang masih merasa kesal.


Beruntung tadi ia hanya bermesraan biasa, tidak sampai melakukan hubungan suami istri.


"Baik, Pi." Marvin menunduk, menunjukkan penyesalannya.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Sampai wanita yang paling dihormati oleh Marvin angkat bicara.


"Nak, ada hal apa sampai kau tergesa-gesa seperti ini?" tanya Eylina dengan lembut seraya menatap kedalam mata putranya.


"Ada ... ada yang ingin Marvin bicarakan, Mi, Pi. Ini adalah hal penting," jawab Marvin sedikit ragu, karena ia masih tidak enak atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Hal penting? Hal penting apa?" Morgan lalu ikut duduk di sofa bersama anak dan istrinya.


"Begini, Pi ... Marvin ingin Papi dan Mami melamar seorang gadis untuk Marvin."


Mengingat hari sudah semakin sore, ia pun tidak punya waktu untuk berbasa-basi lagi. Marvin mengatakan niatnya secara lugas.


Sontak saja, Morgan dan Eylina otomatis mengernyitkan dahinya mendengar penuturan putranya itu. Gadis mana? Marvin bahkan tidak pernah terlihat menggilai seseorang selama ini. Putra mereka juga baru menetap disini belum genap satu bulan.


"Nak, kau serius dengan ucapan mu?" tanya Morgan tidak percaya.


"Tentu saja, Pi. Marvin mencintainya, dan ...."


Marvin menggantung kalimatnya, ia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Ingin sekali ia merahasiakan keadaan Lisa saat ini, tapi gadis itu meminta agar ia mengatakan semuanya dengan sejujurnya.


Sungguh pilihan yang sangat sulit untuk Marvin, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa mengingkari janjinya sendiri.


"Dan apa, Vin?" selidik Morgan hingga membuat putranya diserang keringat dingin saat itu juga.


Mata Morgan membelalak seketika saat mendengar pengakuan anaknya, begitu juga Eylina. Ia membungkam mulutnya sendiri, tidak percaya akan apa yang disampaikan oleh putra tercintanya.


"Papi tidak pernah mengajarimu untuk berbuat seperti ini, Marvin!" Suara Morgan menggelegar di seisi ruangan. Ia sangat kecewa mendengar semua ini.


"Katakan pada Papi! Anak gadis siapa yang telah kau nodai sampai menjadi hamil seperti ini? Perbuatan mu ini bisa mencoreng nama baik Papi, serta kakek mu, Marvin! Apa kau tidak pernah berpikir sebelum melakukan perbuatan terlarang seperti itu?"


Kemarahan Morgan terasa sudah berada di puncaknya. Apakah ia terlalu membebaskan putranya? Atau ia terlalu memanjakannya?


"Pi, tenanglah dulu! Jangan berteriak seperti itu! Jika papa dan mama mendengarnya mereka bisa syok, bicaralah baik-baik dengan Marvin!"


Eylina mengusap punggung suaminya agar amarahnya mereda.


"Apa yang diperbuat oleh Marvin sangat memalukan, Papi sungguh kecewa, Mi." Morgan menundukkan kepalanya. Bahkan meski selama ini mereka tinggal di luar negeri, ia dan istrinya selalu mengajarkan norma-norma dan budi pekerti yang baik pada putranya.


Ia dan istrinya sangat percaya karena sampai usia putranya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, anaknya tidak pernah terlibat kasus apapun apalagi bermain wanita, sungguh tidak pernah.


"Pi, maafkan Marvin. Marvin tahu hal ini salah, tapi tolong jangan membuat Marvin akan semakin merasa bersalah lagi! Marvin ingin bertanggung jawab atas perbuatan Marvin. Anak itu butuh Marvin sebagai ayahnya, Pi."


Marvin tertunduk di tempatnya, di dalam pikirannya kini hanya ada nama Lisa serta calon bayi yang sedang dikandung oleh gadis itu.


"Tentu saja! Kau pikir Papi akan membiarkanmu membuat kesalahan lebih jauh lagi? Katakan! Siapa gadis yang kau hamili itu?" tanya Morgan dengan nada suara yang sedikit lebih rendah dari sebelumnya.


"Namanya Lisa, Pi. Ia adalah putri dari paman Hanggara," jawab Marvin.


"Putri paman Hanggara?" Morgan terheran mendengarnya. Ia lalu mengambil sebuah majalah di meja dan menggulungnya.


Bug ....


Ia memukulkan gulungan majalah itu ke kepala putranya.


"Aw ... kenapa Papi memukulku?" protes Marvin.


"Itu hukuman untuk anak yang sedikit bodoh sepertimu. Untuk apa kau menghamilinya? Jika kau menyukainya, dari awal kau bisa mengatakan pada Papi agar meminangnya untukmu. Tidak perlu membuat dosa seperti ini."


Pletak ...


Morgan menambahkan lagi hadiah sentilan keras di kepala putranya, hingga membuat Marvin mengaduh dan mengusap bagian kepalanya yang sedikit terasa panas karena sentilan itu.


"Papi! Jangan memainkan kepalaku terus! Jika aku hilang ingatan bagaimana? Lisa nanti diambil orang lain!"


Sementara Morgan dan Eylina hanya terkekeh melihat putranya.


"Jadi kapan kami harus melamar Lisa untukmu?" tanya Morgan kemudian.


"Malam ini, Pi! Tadi Marvin sudah menyampaikan pada paman Hanggara jika Papi malam ini akan datang kesana."


"Apa? Mendadak sekali! Apa kau sudah menyiapkan cincin, juga barang untuk diserahkan pada keluarga mereka?" Morgan sampai berdiri dari tempatnya.


Sementara Marvin hanya menggeleng dengan rasa tidak berdosa sama sekali.


"Dasar bocah! Kau pikir tidak butuh persiapan? Ya sudah, cepat telepon Ken dan paman Rey. Suruh mereka menyiapkan beberapa barang dan juga cincin untuk dibawa nanti malam!" Morgan memijit kepalanya. Ia tidak menyangka jika putranya akan se-menyusahkan ini.