Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Nostalgia (Mami & Papi)



"Bukankah sebaiknya kita meminta baik-baik pada Marvin agar dia mencari jodohnya sendiri, Pi?" tanya Eylina yang sedang berada di teras kamarnya.


Setelah makan malam tadi, Eylina tidak bisa berhenti memikirkan putra pertamanya.


"Tapi apa Papa bisa menunggunya? Kita tidak tahu berapa lama lagi Papa bisa bertahan melawan usianya yang semakin hari terus berkurang? Apa salahnya kita berusaha membahagiakannya di penghujung usianya?" Morgan yang sedang berdiri disamping istrinya pun meraih tangan Eylina yang mulai dihiasi guratan halus. Meski berbagai perawatan telah dijalaninya, namun menua tidaklah bisa dilawan.


"Tapi tidak adil jika kita memaksa Marvin untuk menuruti kemauan kita, bukankah kita juga pernah muda? Kau tahu sendiri bagaimana rasanya dijodohkan, bukan? Dulu kau juga menolak mentah-mentah hal itu. Jadi sekarang jangan buat Marvin mengalami dilema yang sama seperti yang kau rasakan, dulu." Eylina menatap wajah teduh suaminya yang masih terlihat tampan meski beberapa uban sudah menghiasi rambutnya, juga garis halus yang tidak bisa dihindari telah menghiasi wajahnya.


"Aku masih mengingatnya. Dan aku lebih memilihmu waktu itu." Morgan membelai rambut Eylina yang panjang.


Mereka berdua lalu terkekeh bersama mengingat semua kenangan masa muda yang penuh warna itu.


"Mami, hingga sekarang pun aku masih sangat mencintaimu. Kau adalah orang yang sangat sempurna di mataku. Terimakasih sudah menjadi istri yang baik untukku juga menjadi ibu yang penuh kasih sayang untuk anak-anakku," ujar Morgan tulus seraya mengulas senyum di wajahnya.


Ia lalu mendekap tubuh Eylina ke dalam pelukannya. Rasanya masih hangat dan penuh cinta, sama seperti Morgan muda dulu.


"Luisa sepertinya butuh satu orang teman lagi," celetuk Morgan yang langsung dibalas dengan cubitan di pinggang oleh istrinya.


"Jangan sembarang bicara! Kita sudah sama-sama tua sekarang. Tidak mungkin aku akan mengandung lagi. Biarkan Marvin dan Luisa yang meneruskan tongkat estafet itu," kata Eylina.


"Tapi aku masih kuat, kau mau mencobanya?" tanya Morgan dengan kerlingan matanya yang nakal.


"Kau ini! Kenapa tidak pernah berubah?" Eylina membulatkan matanya, namun tersenyum malu-malu seperti seorang remaja yang baru saja dirayu oleh gebetannya.


"Ku anggap itu adalah sebuah persetujuan." Morgan meraih dagu istrinya dan menghadiahinya dengan lum*tan lembut dan hangat.


Tidak peduli berapa usia mereka saat ini, bagi Morgan gelora tetaplah gelora. Tidak bisa dibendung meski tubuh mereka tak lagi se-kokoh dulu. Jika sudah dalam situasi seperti ini, ia merasa masih muda seperti dulu. Ia menyelinapkan tangannya di sela-sela baju yang dipakai istrinya.


"Jangan disini!" cegah Eylina saat tangan suaminya mulai tak terkendali.


"Baiklah, kita masuk kedalam," ajak Morgan seraya menggandeng mesra tangan istrinya.


Seperti sepasang pengantin baru, Morgan membaringkan Eylina perlahan dan menghujaninya dengan banyak ciuman.


Wajah yang ada dihadapannya masih nampak cantik meski serangan penuaan telah menyerbunya.


seseorang mengetuk pintu saat keduanya baru saja akan menyatukan kedua senjata mereka.


Dengan tergesa-gesa Eylina memakai kembali pakaiannya dan membuka pintunya.


"Luisa?" tanya Eylina heran melihat anak gadisnya mengetuk pintunya malam-malam.


"Mami udah tidur ya? Maaf Mi, Luisa cuma mau tanya, Mami masih punya stok pembalut tidak?" tanya Luisa polos dan mengiba, berharap Maminya masih punya barang yang dicarinya. Karena sepengetahuan Luisa, Maminya memang belum mengalami masa menopause.


"Ada, sayang. Sebentar Mami cari dulu, ya? Sini masuklah!" ajak Eylina seraya menggandeng tangan putrinya.


Setelah Luisa duduk di sofa, Eylina pun segera mencari barang yang tadi diminta oleh putrinya. Sementara Morgan berpura-pura tidur lelap di bawah selimutnya.


Baru jam segini, Papi udah tidur aja sih? gumam Luisa.


"Ada, Mi?" tanya gadis itu saat melihat Mami tercintanya keluar dari ruang ganti.


"Ada, sayang. Nih bawa semua!" Eylina menyerahkan beberapa bungkus pembalut pada putrinya.


"Thankyou Mommy." Luisa mencium pipi Maminya kemudian bergegas pergi dari kamar itu.


Dan Morgan beranjak dari tempatnya, kemudian mengunci pintu kamarnya.


"Kita lanjutkan ya, Mi?" tanyanya antusias.


"Hari sudah malam, Pi. Sebaiknya kita istirahat!" Eylina menatap teduh pada suaminya.


"Satu kali saja, Mi. Please!" pinta Morgan.


Eylina menghela napasnya kemudian tersenyum, yang oleh Morgan dianggap sebagai tanda persetujuan.


Usia boleh tua, tapi kalau tentang surga dunia, kakek uzur juga masih menginginkannya, gumamnya seraya tersenyum girang dan mengekor dibelakang istrinya.


Malam syahdu mereka pun dimulai. Memadu kasih seraya mengingat perjalanan cinta mereka membuat malam yang dingin ini menjadi hangat dan penuh warna.