
Deru mesin mobil yang baru dinyalakan oleh Ken begitu menggema di basement gedung itu, dan dalam hitungan detik mobil tersebut sudah melaju kencang meninggalkan bangunan megah yang di dalamnya sudah dihias dengan berbagai dekorasi mahal dan berkelas.
Hari yang harusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi semua orang kini berubah menjadi sedikit tegang, mengingat Stevi bisa melakukan apa saja untuk melancarkan ambisinya.
Dibelakang mobil yang dibawa oleh Ken, nampak beberapa mobil lain mengikutinya. Mobil khas yang diperuntukkan bagi para pengawal serta orang-orang anggota The Lion itu nampak melaju tak kalah kencangnya. Menarik perhatian para pengguna jalan yang lain.
Menghadapi Stevi mungkin akan lebih mudah, tapi mungkin juga bisa saja lebih rumit. Gangguan mental yang dideritanya sungguh menjadi kekhawatiran tersendiri bagi seorang Marvin. Masih lebih baik jika harus baku hantam atau baku tembak dengan orang-orang yang mahir beladiri juga mahir bersenjata daripada harus menghadapi wanita gila macam Stevi.
Ia menyesal, kenapa harus mendengarkan Hanggara. Seharusnya, bagaimanapun juga ia tidak boleh mengabaikan celah sedikitpun yang bisa mengancam keselamatan calon istri dan calon anaknya.
Pikirannya begitu kacau, hingga nyaris tak bisa berpikir dengan jernih.
"Tidak bisakah kau lebih cepat, Ken?" gerutunya secara tidak sabar.
"Maaf, Tuan, tapi ini adalah jalan umum. Banyak kendaraan lain yang melintas. Kecepatan kita saat ini bahkan sudah jauh diatas kecepatan yang seharusnya, Tuan."
"Haaaaahhh!" teriaknya frustasi.
Meski jarak yang ditempuh tinggal sedikit lagi, tapi Marvin rasanya tidak bisa sesabar itu menunggunya. Ia meninju benda didepannya, yang digunakan bersandar oleh sekertarisnya.
Ken hanya diam saja, dan membiarkan lelaki itu melampiaskan kekesalannya. Ia tahu betul kecemasan yang sedang dirasakan oleh tuannya itu.
Tak berselang lama, ponselnya kembali bergetar. Dengan segera Ken menghubungkannya dengan earphone yang ada di telinganya. Sambil tetap fokus, ia menjawab panggilan telepon itu.
"Ya, Gary?"
"Sekertaris Ken, saya saat ini sudah berada di lokasi." Gary melaporkan keberadaan dirinya.
"Bagus, aku dan tuan muda juga akan sampai sebentar lagi. Apa mobil gadis itu ada disana?"
"Benar, tapi saya tidak bisa melihat keberadaan nona Stevi. Disini sangat minim penerangn. Saya ingin memantau ke dalam tapi saya sendiri tidak bisa meninggalkan dua orang wanita yang sedang bersama saya, Sekertaris Ken." Gary sendiri merasa bersalah karena tidak melibatkan tim khusus untuk bersamanya sejak berada di Kota B.
"Tidak masalah, aku sebentar lagi sampai. Kau lakukan saja tugasmu dan tunggu kedatangan kami!"
Setelah mengucapkan kalimatnya, Ken pun menutup saluran teleponnya. Ia menambah laju kecepatan mobil yang dikemudikannya karena jalanan yang ia lewati saat ini begitu sepi.
Mungkin jalanan ini memang sudah jarang dilalui oleh orang, karena hanya mengarah ke kawasan pabrik dan pergudangan tua yang entah sudah berapa tahun tidak beroperasi lagi.
Sementara itu, Marvin yang baru tersadar akan jalanan yang ia lewati pun menjadi semakin cemas.
"Maaf, Tuan. Tapi nona Stevi memang membawa nona Elisa kekawasan ini." Sambil menjelaskan, Ken memicingkan matanya ke sekitarnya karena hari yang sudah mulai gelap.
Kini ia dan tuannya telah sampai di sekitaran tempat dimana Stevi berada. Ken sengaja memberhentikan mobilnya sedikit agak jauh dari lokasi pergudangan itu agar kedatangannya tidak diketahui oleh gadis gila itu.
"Kita harus berjalan kaki, Tuan." Lelaki itu melepas sabuk pengamannya, begitu juga dengan Marvin. Tak lupa mereka melengkapi diri dengan senjata.
Ia dan tuannya beserta para orang-orang yang tadi mengikutinya pun segera bergegas menuju lokasi penyekapan calon nyonya muda Wiratmadja.
Mereka kemudian berpencar dan menjadi tiga tim. Marvin bersama sekertaris dan juga Hanggara memilih untuk mencari lewat depan sementara yang lain mengintai dan menyebar dibeberapa lokasi untuk memastikan jika gadis itu menyewa bodyguard atau tidak.
Keadaan yang sudah mulai gelap juga menjadi berkah tersendiri dan mempermudah mereka untuk menemukan bangunan mana yang sedang dipakai oleh Stevi untuk menyekap Elisa.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Marvin dan sekertarisnya segera memeriksa keadaan.
Rupanya, Stevi juga terlalu bodoh. Ia membiarkan pintu bangunan itu tanpa terkunci sama sekali, juga tanpa penjaga satu pun. Sehingga orang lain bisa masuk tanpa perlu repot mendobraknya.
"Nak, tolong lepaskan kami! Apa yang kau inginkan, katakan saja! Aku dan papamu pasti akan berusaha memenuhinya. Tapi tolong jangan buat hal seperti ini." Sambil tergugu, Maria mencoba bernegosiasi dengan putrinya yang tengah berkacak pinggang dihadapannya.
"Tapi sayangnya, aku sudah tidak menginginkan apapun lagi selain melihat gadis murahan ini menderita," ujarnya dengan santai.
Hal itu tentu saja terdengar oleh telinga Marvin dan dua orang yang sedang mengendap-endap bersamanya. Rasanya ia geram sekali, ingin segera membekuk wanita itu tapi Ken masih menahannya
"Apa lagi yang ingin kau ambil dariku? Bukankah semua sudah kau miliki sejak dulu? Perusahaan, kasih sayang papa dan mama, harga diri, ketenaran, semua sudah ada dalam genggaman mu. Lalu apa lagi yang kurang?" Kali ini Lisa yang membuka suara.
Gadis itu sudah nampak sedikit kacau keadaannya. Tatanan rambutnya yang indah sudah tidak berbentuk lagi karena sejak berdebat dengan kakaknya tadi ia sudah mendapat perlakuan kasar. Rambutnya dijambak, serta gaunnya sudah sobek disana sini.
"Aku ingin menghancurkan wajahmu yang menyebalkan itu, Lisa sayang. Sudah sejak lama aku ingin melakukannya, tapi aku mencoba menahannya. Dan sekarang, setelah mengambil tuan Marvin dariku, aku tidak bisa lagi menahan diriku." Stevi menyeringai licik.
"Apa ... apa yang akan kau lakukan?" Lisa sedikit ketakutan saat Stevi melangkah maju dan mengangkat benda tajam ditangannya.
"HENTIKAN KEGILAAN MU!" teriak Marvin saat melihat gadis itu bermain-main dengan benda itu. Ia tidak bisa lagi menahan dirinya. Persetan dengan Hanggara, jika sampai disini ia masih tidak bisa melihat kebenaran tentang Lisa, itu benar-benar keterlaluan.
Suara Marvin yang begitu keras sontak saja membuat ketiga wanita itu menoleh kearahnya. Bukan hanya Stevi yang terkejut. Maria dan Elisa pun sama terkejutnya. Tapi ada sedikit rasa lega yang tetasa menyelimutinya. Setidaknya sekarang ia memiliki harapan atas kedatangan Marvin.
Tapi sayangnya, Stevi dengan cepat berpindah kebelakang Elisa dan melingkarkan tangannya yang memegang benda tajam itu dileher Lisa. Maria pun langsung berteriak histeris karenanya.