
"Inalillahi!" seru penjaga kos saat baru saja membuka pintu kamar mandi. Lelaki kurus itu langsung nampak panik dan takut seketika.
Saat itu juga Gary menghentikan aktifitasnya yang sedang membuka laci meja yang ada disamping tempat tidur.
"Ada apa, Pak?" tanyanya dengan perasaan yang semakin tidak enak.
"I-ini, Mas. Ma-mas Bimo ...," ucap penjaga kos dengan terbata-bata setelah melihat tubuh Bimo yang menyender di sudut dinding kamar mandi. Tubuh itu nampak sudah membiru.
"Uhuk ... uhuk," Gary terbatuk-batuk mencium aroma busuk yang kian merebak di ruangan itu.
"Lelaki ini bunuh diri, Pak." Gary menyimpulkan karena melihat di tangan lelaki itu terdapat bekas darah yang sudah mengering.
"Terus bagaimana ini, Mas. Saya takut, saya nggak pernah berurusan dengan hal seperti ini." Penjaga kos itu terlihat semakin pucat dan ketakutan.
"Bapak tenang saja, kita semua adalah saksi dari kejadian ini. Kita semua menemukan Bimo sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Kalian, cepat telepon pihak berwajib!" perintah Gary pada anak buahnya, yang langsung mendapat tanggapan sigap dari mereka.
Sementara itu, Gary dan penjaga kos pun berjalan keluar. Selain karena sudah tidak tahan dengan aroma busuk yang menyengat, juga karena hal ini sekarang bukan ranah mereka lagi. Lebih baik menunggu pihak berwajib dan membiarkan mereka mengurus semua ini.
Dan akhirnya setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mobil polisi pun datang. Beberapa orang pun langsung menuju tempat kejadian perkara, sementara beberapa orang yang lain mencoba mengumpulkan informasi dari penjaga kos dan juga Gary.
Namun Gary melimpahkan kesaksiannya pada anak buahnya yang juga berada disana. Tentunya setelah ia menjelaskan dengan detail alasannya.
Dan begitulah kekuatan pihak orang-orang yang memiliki kekuasaan, segalanya serba dipermudah.
Setelah pihak berwajib mengijinkannya, Gary pun langsung menuju ke lokasi dimana sekertaris Ken berada. Ia dan sekertaris Ken pun bergegas untuk menemui tuan mudanya di hotel tempatnya menginap.
Ken mengetuk pintu kamar ketika sang empunya kamar baru saja selesai bersiap-siap hendak makan malam.
"Maaf saya mengganggu, Tuan," ujar Ken melihat tuannya yang sudah rapi.
"Ya, apa kalian sudah menemukan dimana lelaki itu berada?" tanya Marvin serius. Ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut dan membuat Elisa nya merasa tidak bebas dan nyaman.
"Begini, Tuan-"
"Kalian masuklah!" perintahnya.
"Baik, Tuan." Ken dan Gary pun mengikuti Marvin untuk masuk dan duduk di teras dimana ia dan istrinya menikmati senja tadi.
"Sekarang katakan!" perintah Marvin seraya duduk menyilangkan kakinya serta tangannya memeluk istrinya yang ada disampingnya.
Mendapat perintah seperti itu, Gary pun menceritakan dengan detail apa yang ia dapatkan hari ini. Mulai dari informasi pribadi Bimo, orang tuanya, hingga ditemukannya pria itu dalam keadaan tak bernyawa.
Elisa sangat terkejut mendengar semua penuturan dari Gary, terlebih lagi saat Gary mengatakan jika lelaki itu telah bunuh diri.
"Perasaanku sudah tidak enak sejak awal melihat lelaki itu, caranya menatap Elisa dan juga tatapannya terhadapku benar-benar tidak seperti orang biasa." Marvin berbicara sambil mengingat masa dimana dirinya berada diantara Elisa dan Bimo.
"Tapi aku tidak melihat keanehan itu," sangkal Elisa.
"Sayang, kau tidak mengerti. Cara dia menatapmu itu terlihat sangat mengerikan. Sepertinya dia merasa nyaman padamu, hingga akhirnya dia tidak bisa mengendalikan perasaannya padamu." Marvin masih tidak habis pikir jika Elisa nya masih tidak percaya atas apa yang terjadi.
"Benar, Tuan. Ibunya Bimo mengatakan pada saya jika putranya tidak pernah mendapat perlakuan baik sebelumnya. Dia selalu dikucilkan karena dianggap culun dan tidak bisa bergaul. Tapi saat dia bertemu nyonya muda, dia mendapatkan apa yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, karena nyonya muda adalah orang pertama yang tidak memandangnya sebelah mata, diapun merasa nyaman dan tidak ingin kehilangan nyonya muda. Lebih tepatnya ia jadi terobsesi ingin memiliki nyonya muda seutuhnya. Tapi harapannya hancur ketika mengetahui nyonya muda akan menikah dengan Tuan muda," terang Gary.
Mendengar hal itu sebenarnya Marvin pun juga kasihan. Karena Bimo dan dirinya sebenarnya juga tidak beda jauh. Sama-sama menginginkan Elisa seutuhnya dan tidak ingin ada orang lain yang mengganggunya.
"Baiklah, lupakan tentang Bimo dan perasaannya! Sekarang pikirkan bagaimana caranya nama Elisa bisa kembali bersih." Marvin memandang kedua orang yang ada dihadapannya.
"Tuan tenang saja, saya pastikan besok pagi nama nyonya muda akan bersih seperti seharusnya. Saya sudah meminta tim untuk membuat klarifikasi atas pemberitaan tadi pagi, semua saluran televisi akan menyiarkannya besok." Gary mengatakan dengan yakin.
"Bagus, terimakasih karena kau bekerja dengan sangat baik. Ken, berikan bonus padanya!"
"Baik, Tuan."
Begitulah cara Marvin dan keluarganya menghargai kerja keras orang-orang kepercayaannya. Dan karena hal itulah, semua orang yang bekerja pada keluarga Wiratmadja bisa begitu setia pada keluarga itu. Keringat mereka benar-benar dihargai dengan sangat layak disini. Mereka semua diberikan fasilitas dan jaminan hidup yang tidak main-main di dalam keluarga ini.