
Sepanjang berjalan melalui loby kantor, Lisa dan Marvin tentu menjadi pusat perhatian karena perlakuan manis yang ditunjukan oleh Presdir muda itu.
Bahkan para resepsionis menatap dengan memuja pada dua sosok yang baru saja melewati mereka.
Andai saja, andai saja mereka juga bisa menggapai Marvin seperti Elisa, betapa bahagianya, batinnya.
Siapa yang tidak ingin diperlakukan semanis itu oleh pemuda paling berkuasa di Globalindo. Muda, tampan, perawakan atletis dan memiliki segalanya.
Sayangnya mereka hanya bisa berandai-andai, tanpa bisa mewujudkan apapun. Jangankan Tuan Presdir, sekertarisnya saja belum tentu bisa mereka dekati. Sungguh kenyataan yang memilukan kaum hawa.
"Marvin, tunggu sebentar!" Lisa memundurkan badannya dan menyenderkannya pada dinding.
"Kenapa? Kau merasa pusing lagi? Atau mual?" tanya Marvin cemas.
"Mataku tiba-tiba gelap." Lisa mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menggelengkan kepalanya.
"Sini!" Marvin menariknya dan akan mengangkat tubuhnya. Namun Lisa cukup tau diri jika ini adalah wilayah publik. Ia tidak ingin ada seseorang atau siapapun yang akan mengambil kesempatan untuk mengambil gambar kebersamaan Marvin dengannya.
"Tidak perlu, Marvin. Aku bisa berjalan sendiri," tolak Lisa seraya menepis tangan kekasihnya.
"Baiklah, kau yakin?" Sedikit ragu, tapi ia juga tidak ingin memaksa kekasihnya.
Lisa mengangguk dan mulai berjalan ke arah mobil Marvin yang berada tak jauh dari sana. Ia masuk setelah pemuda itu membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih," ujarnya pelan. Tapi Marvin hanya tersenyum geli mendengarnya.
Terimakasih? Perlukah mengucapkan kata itu untuk kekasihnya sendiri? Seperti itu saja sudah membuat lelaki itu gemas pada Lisa. Apa kesehariannya seformal itu? Ingin sekali ia mengajari gadis itu tentang suatu yang tidak terlalu formal tapi bisa sangat berkesan. Sebuah kecupan mungkin.
Setelah menutup pintu Lisa, ia pun segera masuk dan mengambil posisinya. Ia mulai menyalakan mesinnya dan membawa mobilnya turun ke jalanan yang sangat terik.
"Sayang apa kau ingin makan sesuatu dulu?" tanya Marvin, karena pasti perut Elisa tengah kosong saat ini.
"Tidak usah, aku sedang tidak ingin makan apapun." Lisa menutup mulutnya padahal Marvin baru bertanya, bukan menawarkan makanan ke hadapannya.
"Baiklah, maafkan aku!"
Marvin lalu kembali fokus pada jalanan dihadapannya setelah tadinya tersenyum pada kekasihnya.
Untuk sepanjang perjalanan ke rumah sakit, hanya hening yang tercipta karena Lisa nampak tidak begitu sehat. Gadis itu menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
Sesampainya di rumah sakit, Marvin memberhentikan mobilnya di depan lorong bertuliskan UGD. Nampak dua orang berbaju serba putih datang sambil mendorong kursi roda.
"Sayang, kau bisa turun?" tanya Marvin ragu-ragu.
Lisa tersenyum dengan wajahnya yang sedikit pucat. Ia lalu turun dan segera duduk di kursi roda yang telah dibawa oleh perawat tadi.
"Katakan pada kepala rumah sakit ini jika Marvin Wiratmadja datang kemari!" perintah Marvin seraya berjalan beriringan dengan kursi roda yang diduduki oleh Lisa.
Sementara dua perawat itu saling pandang, nama belakang yang menggunakan Wiratmadja berarti adalah nama keluarga besar dari Sang Empunya gedung ini.
Sedangkan perawat yang mendorong kursi roda Lisa langsung membawa pasiennya ke ruangan khusus yang selalu digunakan oleh keluarga besar Wiratmadja.
"Nona, silahkan tunggu disini dulu!" ujar perawat itu dengan ramah.
Elisa mengangguk saja, ia masih tercengang karena ruangan yang ia tempati begitu mewah. Seperti halnya nyonya Eylina yang dulu, gadis itu pun tidak menyangka ada ruangan spesial seperti ini disini.
"Marvin, kenapa aku dibawa kesini? Ini ruangan apa? Kenapa mewah sekali?" tanya Lisa dengan raut wajah polos dan heran.
"Karena kau sebentar lagi akan jadi nyonya muda di keluargaku, jadi kau harus terbiasa dengan segala sesuatu yang spesial seperti ini."
Mendengar penjelasan Marvin, Elisa hanya menggelengkan kepalanya dan mencebik.
Tak berselang lama setelah itu, seorang dokter yang masih muda dan tampan datang ke ruangan itu bersama dengan beberapa perawat.
"Selamat siang Tuan Marvin," sapa dokter itu.
"Siang, apa kau kepala rumah sakit disini?" tanya Marvin sedikit tidak suka karena melihat dokter itu masih sangat muda seperti dirinya, lebih lagi wajahnya tampan dan sangat segar sekali.
"Benar, Tuan. Saya Nicko, kepala rumah sakit sekaligus seorang dokter kandungan di rumah sakit ini." Dokter Nicko memperkenalkan dirinya dengan sopan seraya tersenyum ramah pada Marvin dan juga Lisa.
Sementara Marvin semakin tidak suka saja mendengarnya. Kenapa pria seperti ini harus jadi dokter kandungan? Pikir Marvin.
"Ya, sudah. Sudah cukup kau memperkenalkan dirimu. Lalu mana dokter yang akan memeriksa istriku?" tanyanya dengan wajah tak bersahabat.
Lisa menoleh dan mendelik mendengar perkataan Marvin. Menikah saja belum, sudah seenaknya saja mengakuinya sebagai istrinya.
"Baik, Tuan. Perawat! Tolong panggilkan dokter Sonia kemari!" pinta dokter Nicko pada seorang perawat.
Perawat yang ditunjuk itupun lalu melaksanakan tugasnya untuk memanggil dokter umum yang sedang bertugas saat ini.
Hingga beberapa saat yang tidak menyenangkan bersama dokter Nicko berlalu, akhirnya dokter yang dipanggil tadi pun datang seraya tersenyum.
"Selamat siang, Tuan Marvin," sapa dokter Sonia dengan ramah.
"Siang! Oh ya, tolong periksa istriku! Dia mual muntah sejak tadi, apa dia salah makan atau keracunan makanan?"
Marvin menunjukkan kemesraannya dengan membelai lembut pucuk kepala Lisa. Sungguh Lisa malu sekali rasanya. Haruskah seperti ini?
"Baik, Tuan."
Dokter Sonia lalu memeriksa gadis yang sedang terbaring itu dengan seksama.
"Melalui pemeriksaan umum seperti ini, keadaan istri Tuan baik-baik saja. Tapi jika Tuan ragu, kita bisa melakukan test darah di laboratorium," saran dokter Sonia.
"Kalau begitu lakukanlah! Tunggu apa lagi?" perintah si penguasa itu dengan enteng.
Lalu sesuai dengan perintah Marvin perawat itu membawa Lisa ke ruang pengambilan sampel darah. Kemudian ia diantarkan lagi ke ruangannya untuk menunggu hasil lab keluar.