
Usai berbincang dengan Boby, wajah Stevi justru berubah menjadi lebih tidak bersemangat lagi.
Ia melangkah dengan gontai ke arah taman belakang, menyusul semua orang yang sudah menempati kursinya masing-masing.
Kenapa Marvin harus duduk berhadapan dengan Lisa, sih? gerutunya dalam hati.
"Stevi, sini ... duduklah!" Maria menepuk kursi kosong disebelahnya. Dan Stevi pun menurutinya dengan sedikit senyum.
"Ada apa? Apa kau sakit?" bisik Maria yang melihat ekspresi tak biasa dari anak pertamanya.
"Tidak, Ma. Stevi rasa angin malam ini, membuat Stevi sedikit tidak nyaman."
"Ya sudah, makanlah kalau begitu! Semua orang sudah menyantap makanannya."
Usai menyantap berbagai sajian yang sudah dihidangkan. Semua orang mulai mengambil tempat yang santai untuk mengobrol, dan mereka memilih mengobrol di dalam rumah karena kondisi Tuan Wira yang tidak tahan dengan udara malam.
Sementara mereka mengobrol, mereka tidak menyadari jika ada anggota mereka yang hilang.
Mereka adalah Marvin dan Elisa, yang saat ini tengah mengobrol dan duduk di tepi kolam sambil menikmati terpaan angin yang sesekali berhembus mengenai mereka.
"Lisa," panggilnya lembut.
Gadis yang ada disampingnya menoleh dengan wajah polos menaikkan kedua alisnya. Tatapannya lembut sekali, senyumnya sungguh menawan.
Mendapat tatapan seperti itu membuat Marvin hampir gila, antara gemas, grogi dan takut. Dan tanpa bisa dihalau, serangan keringat dingin datang begitu saja. Membuatnya semakin deg-degan dan canggung.
Ayo Marvin, kemana kemampuanmu? sebuah sisi dalam dirinya seolah ingin berteriak.
"Emm ... bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanyanya setelah beberapa saat mengumpulkan seluruh keberaniannya.
"Tentu saja," jawab Lisa dengan lembut.
"Berjanjilah untuk tidak marah, Lisa!" pintanya.
Lisa pun menjadi heran dan mengerutkan dahinya karena tidak mengerti arah pembicaraan dari Marvin.
"Lisa ... maukah kau menikah denganku?"
Tidak tahu siapa yang memberikan dorongan pada pria itu hingga akhirnya kalimat itu bisa lolos dengan mulus dari bibirnya.
Namun jangan ditanya, dia kini justru hampir diambang kematian karena sesak yang terasa menghimpit dadanya saat menantikan jawaban dari gadis cantik yang kini bertatap mata dengannya.
Lisa sungguh terkejut, lidahnya terasa kelu, hatinya juga terasa nyeri mendengar kalimat yang baru saja diungkapkan oleh Marvin.
Ia kembali teringat akan semua kejadian yang telah berlalu. Dimana ia pernah dilamar seperti ini, dan pada akhirnya harus kandas karena keluarga besar mempelai laki-laki tak merestuinya setelah mendengar rumor tentangnya.
Lisa menundukkan wajahnya dan menarik tangannya yang tadi digenggam oleh Marvin.
"Lisa ... kenapa?" tanya Marvin sedikit takut dan semakin khawatir saat buliran bening jatuh ke pangkuan Lisa nya.
"Marvin ... aku bukanlah wanita yang tepat dan pantas untuk itu," ujarnya dengan bibir yang bergetar.
Lebih baik dia menghindar agar tidak semakin berharap lebih, yang pada akhirnya Marvin juga pasti akan meninggalkannya. Sama seperti orang-orang yang telah datang sebelumnya.
"Kenapa? Apanya yang tidak pantas? Lisa, harus kukatakan. Mungkin ini terlalu cepat, tapi percayalah. Aku sangat mencintaimu, aku jatuh cinta padamu," kata Marvin meyakinkan. Ia meraih dagu gadis yang ada dihadapannya agar mereka bisa saling bertatap mata.
"Marvin, kau hanya belum tau saja. Suatu saat jika kau mengetahui semuanya, kau pasti akan menyesal pernah mengatakan ingin menikahi ku."
Kata-kata Lisa terdengar begitu pilu dan menyesakkan. Jika bukan disini, ingin sekali Marvin menarik gadis itu ke dalam dekapannya lalu mengambil semua beban yang ada padanya.
"Tentang apa, Lisa?" tanya Marvin serius, ia sedikit memancing.
"Lupakan saja! Dan ya, lupakan aku juga!"
Sungguh sakit sekali batin Lisa setelah mengatakannya. Ia akan berdiri dari tempatnya namun tangan Marvin menahannya.
"Apa tentang dirimu yang kabarnya sudah pernah beberapa kali melakukan tindakan ab*rsi? Atau kabar tentang mu yang sudah langganan menjadi simpanan para bos? Atau tentang kekejaman mu pada kakak kandungmu? Semua kenakalan mu? Lalu apa lagi?" tanya Marvin dengan santai. Tapi justru membuat Lisa dan seseorang yang sedang mengintai mereka menjadi terkejut sampai membelalakkan matanya.
Jadi Marvin sudah mendengar kabar itu? Lalu kenapa dia masih mau mendekati Lisa? gumam Stevi yang bersembunyi di balik dinding yang ada di dekat kolam.