Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Pertemuan



"Mama harap kali ini Stevi yang dipilih, Pa." Maria berujar seraya tersenyum.


"Papa juga berharap demikian, Ma. Bagaimanapun Stevi lebih tua dari Lisa. Papa harap kali ini dia yang dipilih oleh pihak laki-laki." Hanggara melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam rumah bersama istrinya.


"Stevi," panggil Maria saat gadis itu akan menghampirinya.


"Mama, Stevi baru saja akan menyusul ke taman belakang. Apa persiapannya sudah siap?" tanya gadis itu dengan antusias. Terlihat cantik dan anggun dengan gaun berwarna hitam.


"Sudah, sayang. Kau sudah selesai bersiap-siap? Keluarga Tuan Wira sedang dalam perjalanan. Semoga hari ini adalah hari keberuntungan mu," ujar Maria seraya membelai rambut Stevi yang bergelombang.


"Terimakasih, Ma. Sudah mendoakan Stevi. Stevi tidak mengharapkan apapun, jadi siapapun yang akan dipilih oleh Tuan Marvin, Stevi sudah berlapang dada." Stevi berkata dengan lembut seperti saat-saat perjodohan yang sebelumnya.


"Sayang, Mama bangga sekali padamu. Kau sungguh anak yang sangat baik dan manis." Maria tersenyum haru setelah mendengar penuturan anak gadisnya.


Sementara itu dari arah belakang, Elisa tengah berjalan dengan malas. Wajahnya terlihat tidak bersemangat dan tidak berminat akan acara malam ini.


Ia memakai gaun lengan panjang berwarna mauve dengan detail mutiara di bagian perpotongan lehernya.


Meski tampilannya nampak sederhana, namun aura kecantikannya masih terpancar dengan jelas dimata lawan jenisnya.


Hal itu membuat kakak perempuan yang baru saja menoleh kearahnya menjadi mencebik karena tak suka melihatnya.


Namun dia adalah Stevi, bisa berubah ekspresi dalam waktu hanya beberapa detik saja.


"Lisa, kau cantik sekali malam ini," pujinya seraya meraih lengan adiknya. Tapi Lisa menepisnya, ia merasa muak dengan segala sandiwara ular berbisa yang sialnya adalah kakaknya sendiri.


Entah bagaimana ibunya bisa mengandung anak seperti dia waktu itu.


"Lisa, jangan seperti itu! Mama mohon untuk kali ini jaga sikapmu, Nak. Keluarga yang datang kali ini adalah keluarga nomor satu dalam dunia bisnis, Lisa. Tolong jangan permalukan kami lagi!" pinta Maria seraya meraih dan mengusap punggung tangan Elisa.


"Kalau begitu biarkan Lisa dikamar saja. Jika kalian takut akan menanggung malu atas sesuatu yang tidak pernah Lisa lakukan," jawab Lisa dingin.


"Tidak, Lisa. Kau juga adalah putri kami, Mama hanya mohon kau bisa menjaga sikapmu, itu saja." Maria menegaskan sekali lagi.


Mendengar ibunya berkata dan terlihat mengiba, Lisa pun hanya bisa menghela napasnya. Tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan orang tuanya. Ia hanya sudah lelah walau hanya sekedar menjawab ya atau tidak.


Lisa pergi dari sana karena ia melupakan sesuatu. Anting, ya dia lupa memakai antingnya. Baru sadar saat ia meraba tengkuknya dan tidak menyenggol benda itu di telinganya.


Sementara Lisa masih dikamarnya, terdengar suara bel pintu berbunyi yang menandakan ada seseorang yang datang.


"Selamat malam dan selamat datang, Tuan Wira, Tuan Morgan," ucap Hanggara seraya menyalami tamunya satu persatu.


"Selamat malam Hanggara, senang bisa mengunjungi kediaman mu," balas Wira saat acara jabat tangan usai.


"Justru saya yang sangat berterimakasih karena Tuan bersedia menerima undangan makan malam dari kami." Hanggara tersenyum ramah.


"Baiklah, Nyonya, Tuan ... silahkan masuk! Beginilah keadaan rumah kami," ujar Maria merendah. Karena ia tahu, rumahnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kediaman tamunya yang super megah dan besar, meski bangunan itu telah berdiri puluhan tahun lamanya.


Semua orang pun langsung di pandu menuju ruang tamu khusus yang ada di rumah Hanggara. Ruang tamu itu sengaja dibuat dengan kesan elegan dan mewah untuk menerima tamu penting seperti malam hari ini.


Tamu itu belum duduk, namun ada seorang wanita anggun yang sedang berjalan kearah mereka. Ia mengeluarkan segala pesona yang dimilikinya untuk menyapa tamu dari ayahnya.


"Stevi ... sini, Nak!" panggil Hanggara saat melihat putrinya melenggang kearahnya seraya mengulas senyum bak Putri Indonesia yang berjalan diatas panggung.


"Tuan, Nyonya, ini adalah putri pertama saya. Namanya Stevi. Sayang, perkenalkan dirimu pada keluarga Tuan Wira!" pinta ayahnya dengan berbisik.


"Selamat malam Tuan, Nyonya," sapanya seraya tersenyum manis dan mengulurkan tangannya untuk menyalami keluarga terpandang itu.


Semua orang tersenyum, hanya Marvin yang terlihat tak bersemangat menanggapinya. Membuat Stevi merasakan sesak yang menghimpit dadanya.


Mata Marvin justru lari kemana-mana sejak tadi, mencari sosok yang selalu mengisi hatinya sejak tatapan pertama.


Itu dia!


Jantung Marvin semakin berdebar saat gadis pujaannya berjalan ke arahnya dengan menunduk dan terlihat murung.


"Lisa ... kemari lah!" panggil ibunya. Membuat Lisa mempercepat langkahnya.


Marvin? Kenapa dia ada disini? gumam Lisa saat melihat lelaki itu berdiri diantara tamu undangan.


"Lisa, ini adalah keluarga Tuan Wira. Ayo perkenalkan dirimu!" Maria mengusap punggung putrinya dengan tulus.


Lisa tersenyum kaku, tidak se-lugas kakaknya, "Selamat malam Tuan, Nyonya, saya Elisa senang bertemu dengan kalian," sapanya seraya menyalami satu persatu. Tapi sorot matanya menjadi lebih tajam saat bertatapan dengan Marvin.


Apa dia juga anggota keluarga ini? gumam Lisa. Ia sampai tak menyadari ada Luisa yang berusaha menyapanya dari tadi.