
Beberapa waktu berlalu beriringan dengan debaran jantung yang tak seperti biasanya. Malam di Kota J terasa lebih indah bagi seorang Marvin Wiratmadja.
Senyumnya terus mengembang seiring dengan ketidak sabarannya untuk sampai ditempat tujuan.
Terkadang ia ingin mengumpat, kenapa waktu terasa lama sekali dan sejak kapan jalan dari rumahnya menuju rumah pujaannya menjadi terasa jauh sekali?
Beberapa kali ia nampak menengok arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya yang kekar. Apa waktu juga tidak bergerak malam ini? Kenapa terasa sangat lama?
"Cie gelisah," celetuk seorang gadis sambil cekikikan di sampingnya.
"Siapa?" tanyanya tak bersahabat.
"Kak Marvin lah, siapa lagi?" ejek adiknya.
"Ssttt! Berisik tau?" Marvin mengisyaratkan agar adik perempuannya diam.
Lalu keadaan kembali hening, dan akhirnya sampai juga di belokan terakhir menuju kediaman calon istrinya.
Perasaan suka cita membuncah tak terbendung di dalam hati pemuda tampan itu. Ia kembali mengulas senyumnya saat mobil yang membawanya memasuki gerbang rumah calon mertuanya.
Dibelakangnya, mobil yang membawa orang tua serta kakek neneknya juga telah tiba. Menyusul lagi dibelakangnya mobil Ken dan keluarganya juga baru saja sampai.
Semua orang turun, begitu juga dengan dirinya dan adiknya. Sementara keluarga Hanggara tengah siap menyambut kedatangan keluarga calon besannya. Mereka berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar.
Ada seorang gadis yang terlihat malu-malu, jantungnya juga pasti berdebar dan bisa dipastikan pipinya sudah berwarna merah sekarang. Sedangkan disisi yang lain, ada gadis lain yang juga ikut menyambut kedatangan keluarga terpandang itu namun dengan ekspresi wajah yang sedikit bingung tatkala melihat banyaknya barang bawaan dari keluarga tamu itu.
Ada acara apa ini? batinnya bertanya-tanya sendiri.
"Selamat malam, Tuan Wira, Tuan Morgan, selamat malam Nyonya," sapa Hanggara seraya mengembangkan senyumnya lebar-lebar, begitu pula istrinya.
Mereka menyalami satu persatu keluarga besar yang baru saja tiba itu. Sementara para pembantu dan juga sekuriti sibuk menerima banyaknya bingkisan yang dibawakan oleh keluarga Rey. Anak istri Rey juga ikut andil malam ini.
"Malam Hanggara! Senang bisa berkunjung kembali ke rumahmu," balas Morgan. Ia dan keluarga besarnya juga mengembangkan senyumnya.
"Tuan, kenapa banyak sekali bingkisan yang Anda bawa?" Hanggara juga nampak heran. Tadi sore Marvin tidak menyampaikan apapun padanya.
"Tidak apa-apa, ya ... memang bingkisan ini harus dibawa bukan?" Morgan hanya tersenyum.
Meski belum mengerti apa yang dimaksud oleh Morgan tapi Hanggara tetap manggut-manggut.
"Baiklah, kalau begitu silahkan masuk, Tuan!" Kembali ia fokus pada semua tamunya.
Sementara dua sejoli yang sama-sama berdebar hatinya, kini tengah saling pandang satu sama lain.
"Ayo masuk, Kak!"
Suara adik perempuannya membuyarkan aktifitas pandang memandang diantara keduanya. Lisa lalu terlihat menahan senyumnya.
Semua orang bergerak masuk ke dalam rumah Hanggara dan mengambil tempat duduknya masing-masing.
Sambil berbincang-bincang ringan dan berbasa-basi, mereka juga menikmati secangkir minuman hangat yang telah disajikan.
Morgan menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan, ia sedang menyiapkan dirinya untuk mulai berbicara.
"Hanggara!" panggilnya dengan ekspresi wajah yang sudah dalam mode serius.
"Iya, Tuan," sahutnya.
Lagi-lagi Morgan menghela napasnya. "Begini ... kedatanganku kemari bersama keluarga besar ku sebenarnya memiliki maksud yang sangat penting." Morgan menghentikan kalimatnya.
Sementara Hanggara hanya terdiam, ia tidak tahu harus merespon apa karena dirinya kini juga semakin deg-degan.
"Kedatangan kami kesini tak lain adalah untuk melamar salah satu putrimu," ujar Moegan seraya tersenyum, meredakan rasa deg-degan yang dirasakan oleh lawan bicaranya.
"Benarkah, Tuan?" Hanggara bertanya tidak percaya.
"Benar, ternyata Marvin telah lama mencintai putrimu. Sekarang Marvin bermaksud melangkah kejenjang yang lebih serius. Ia ingin menikahi Elisa dengan segera, ia takut kehilangan dan takut Lisa diambil orang, katanya." Morgan melirik putranya yang kini tengah salah tingkah di tempatnya.
Sementara Elisa, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia terharu, senang dan juga tidak menyangka jika Marvin benar-benar membawa keluarga besarnya dan benar-benar meminangnya malam ini.
"Tuan, jujur saya senang sekali. Justru bagi saya, ini adalah sebuah kehormatan jika memang nak Marvin benar-benar ingin menikahi Elisa. Tapi yang ingin saya tanyakan disini adalah, apakah nak Marvin memang benar-benar bisa menerima Lisa dengan segala kekurangannya?" tanya Hanggara.
Selama ini bukan hanya satu atau dua orang yang telah datang melamar putri keduanya itu. Hal itu tentu saja masih membuat Hanggara khawatir, terlebih lagi sekarang yang datang adalah keluarga dari orang yang sangat ia hormati.
"Saya siap menerima apapun kekurangan Elisa, Paman. Dimata saya, tidak ada yang salah di dalam dirinya. Bahkan menurut saya dia adalah gadis yang sangat sempurna dan memiliki hati yang sangat lembut dan mulia. Jika ada orang yang menilai Lisa itu buruk, bisa saya pastikan jika dia adalah orang yang tidak peka. Lisa adalah sosok wanita idaman dalam versi saya. Jadi bolehkah saya mempersuntingnya menjadi istri?" Marvin tanpa ragu bertanya balik pada ayah dari calon istrinya. Sekilas ia menatap penuh arti pada Lisa.
Gadis itu lalu tertunduk, ia semakin terharu dengan sikap Marvin. Ia sangat berharap, semoga niat baik lelaki itu akan direstui oleh orang tuanya.
Sedangkan Stevi, rasanya ia ingin sekali berteriak. Kenapa lagi-lagi harus Elisa yang mendapat lamaran? Apa orang-orang tidak bisa melihat keberadaannya? Dan Marvin, kenapa ia harus mengatakan hal seperti itu? Ia melirik tajam pada adik yang duduk tak jauh darinya. Sebal sekali rasanya.
"Jika memang itu sudah menjadi niat nak Marvin, saya pun tidak bisa menghalanginya. Semuanya saya kembalikan pada Elisa. Nak, bagaimana?" Hanggara memberi ruang untuk putrinya.
Semua orang saat ini tengah tersenyum dan menantikan jawaban dari gadis berparas cantik yang tengah malu-malu itu.
"Lisa ... Lisa bersedia, Pa," jawabnya sedikit canggung.
"Bersedia apa?" sahut Marvin. Banyak orang disana, tapi lelaki itu tidak bisa untuk tidak menggoda gadis yang sebentar lagi menjadi akan dia sahkan itu.
Lisa lalu menatapnya dengan tatapan heran dan terkejut.
"Katakanlah!" pinta Marvin dengan senyum khasnya, giginya yang putih dan rapi terlihat menghiasi senyumnya.
"Katakanlah, Nak. Nak Marvin mungkin hanya ingin mendengar jawaban darimu." Kali ini Morgan yang berbicara.
Semakin canggung saja rasanya, wajah Lisa sudah sangat merah saat ini. Dan Marvin senang sekali melihatnya.
"Tidak apa-apa Lisa, katakanlah!" Hanggara mengusap punggung putrinya dengan lembut.
Lisa pun akhirnya mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.
"Lisa ... bersedia menikah dengan Marvin," jawabnya seraya tersenyum diakhir kalimatnya sambil menatap sekilas pada Marvin.
Lelaki itu sekarang berdiri lalu berjalan dan berlutut dihadapan Lisa. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam, dan membukanya. Semua orang terkejut tapi juga tersenyum melihatnya.
"Kalau begitu bolehkan aku menyematkan cincin ini di jari manis mu, sebagai tanda jika kau adalah calon istriku?" tanyanya seraya menatap Lisa.
Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa, perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Ia hanya bisa mengangguk dengan tatapan haru pada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Marvin pun tanpa ragu memasangkan cincin dengan hiasan berlian kecil nan anggun ditengahnya. Nampak cantik sekali di jemari Lisa yang indah.
Suara tepuk tangan lalu memenuhi ruang tamu milik Hanggara itu, semua orang bersuka cita kecuali Stevi. Ia terlihat tidak bersemangat sekali saat ini.