Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Berita di TV



Selesai dengan sarapan paginya, Marvin meraih remote TV dan menyalakannya. Tidak berniat apa-apa, hanya untuk mengisi kesunyian di dalam ruangan kamar yang ia tempati dengan istrinya saat ini. Sambil menunggu bidadarinya menyelesaikan sarapannya.


Namun apa yang terpampang di depan matanya benar-benar membuatnya murka setengah mati. Dalam sebuah tayangan infotainment tengah menayangkan sebuah berita tentang dirinya dan pernikahannya.


Membeberkan identitas istrinya dan segala rumor yang mengelilinya selama ini. Menunjukkan foto Elisa, yang Marvin tau itu adalah hasil jebakan dari Stevi, si rubah betina.


Sontak dengan tanpa sadar Elisa pun menjatuhkan sendok yang ada ditangannya. Beriringan dengan hal itu, tatapan Lisa nampak sangat kabur karena lapisan bening yang menutupi kelopak matanya.


Hanya dengan sekali berkedip saja cairan itupun tumpah seketika membanjiri wajahnya yang polos tanpa pulasan make up.


Marvin yang tersadar akan hal itu pun langsung bergegas turun dari tempat tidur dan menghambur kearah istrinya yang duduk di sofa. Sementara televisi masih dalam keadaan menyala dan terus memberitakan tentang istrinya.


"Sayang." Marvin meraih wajah istrinya yang berusaha disembunyikan. Menangkupnya dengan kedua tangannya dan mengangkatnya perlahan.


Tangan Marvin menyeka sisa lelehan air mata yang masih basah di pipi Elisa dengan lembut, lalu meraih tubuhnya kedalam pelukannya.


"Kau tidak perlu bersedih akan berita itu, aku akan segera membereskannya hari ini juga. Kau tenang saja." Usapan lembut dari tangan suaminya di puncak kepala Elisa membuatnya sedikit lebih nyaman.


Elisa mengangguk perlahan dan membalas pelukan suaminya. Sungguh, bersama Marvin adalah sebuah anugerah tersendiri baginya. Ia tidak pernah merasa senyaman dan seaman ini sebelum-sebelumnya.


"Jangan pernah meneteskan air matamu lagi untuk sesuatu yang tidak perlu kau tangisi. Semua orang boleh menilai mu semau mereka. Tapi ingatlah, bahwa aku selalu mempercayaimu meskipun seluruh dunia menghujatmu. Percaya padaku!"


Marvin meleraikan pekukannya dan menatap mata Elisa dengan penuh keyakinan. Hingga tak berselang lama kemudian ponselnya yang ada diatas nakas pun berdering.


Lelaki itu lalu berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati benda tersebut dan memeriksanya. Ada nama maminya dilayar ponselnya.


Begitulah yang terdengar di telinga Elisa sebelum suaminya melangkah ke arah balkon kamar. Setelah itu tidak terdengar apapun lagi hingga beberapa saat berlalu dan Marvin kembali masuk kedalam.


Saat ini ia begitu khawatir, mungkinkah keluarga besar Marvin juga baru saja melihat acara di televisi itu? Bagaimana tanggapan mereka? Akankah pernikahan mereka terancam karena hal ini? Mengingat keluarga Marvin bukanlah orang sembarangan.


Keluarga yang sangat dikagumi dan dihormati banyak orang ini, akankah mampu menanggung malu yang seperti ini? Mengetahui kenyataan jika namanya telah begitu buruk di mata masyarakat. Lalu bagaimana hubungan antara keluarganya dan keluarga Marvin nantinya?


Mata Elisa menatap dengan penuh kekhawatiran saat suaminya berjalan mendekat kearahnya. Bibirnya ingin berbicara dan bertanya, tapi kenapa justru bibirnya terasa terkunci seperti ini.


"Mami menanyakan mu, Sayang. Apa hari ini sebaiknya kita pulang saja?" tanya Marvin tanpa beban seraya kembali duduk disamping istrinya yang mematung.


"A-apa keluargamu juga melihat berita di TV itu?" tanya Elisa sedikit ragu.


"Ya, tapi kau tenang saja. Sama halnya sepertiku, orang tuaku dan semua orang dirumah termasuk kedua bibi ku sudah tahu kebenarannya. Tadi aku juga menelepon Ken dan memintanya untuk membuat klarifikasi atas isu yang beredar itu. Kau tenang saja, aku juga memintanya untuk mencari siapa orang yang telah bosan hidup dan memaksakan diri untuk menyebarkan berita bohong ini."


Apa yang baru saja dikatakan oleh Marvin benar-benar seperti hembusan angin surga yang terasa begitu menyejukkan bagi Elisa. Seluruh kekhawatiran dan beban yang tadi terasa menghimpit dadanya pun terasa terangkat dari tubuhnya.


Tanpa ia sadari ia menghambur dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, hingga membuat lelaki itu terkejut karenanya. Untuk pertama kalinya, wanita yang sangat ia cintai memeluknya dengan suka rela.


Marvin pun membalasnya dengan mendekap tubuh Elisa dengan sangat erat. Beberapa kali ia menciumi puncak kepala Elisa dengan penuh cinta.


Ia tahu, istrinya pasti sangat merasa lega saat ini. Setelah tahu jika keluarga besarnya sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya. Dan semua itu berkat kerja keras Ken dan Gary. Mereka sangat berhak untuk diberi medali penghargaan atas jasanya.