Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Kantor



"Kenapa begitu?" tanya Lisa heran, sementara lelaki itu terlihat sangat senang sekali.


"Yang kau pesan pasti enak," jawabnya, membuat Lisa menaikkan kedua alisnya.


Tak berapa lama kemudian datang seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Dua porsi roti panggang dan dua cangkir cappucino panas kini telah menghiasi meja mereka.


Suasana dalam restoran ini sangat meneduhkan, alunan musik yang terdengar lembut memenuhi ruangan yang tidak terlalu banyak pengunjungnya. Mungkin karena hari masih pagi.


Restoran yang buka selama dua puluh empat jam penuh ini berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit yang berderet dari ujung jalan hingga pada lampu merah yang ada di pucuk jalan sana.


Suasana tenang ini justru membuat seorang Marvin menjadi senang karenanya. Pasalnya ia bisa berduaan dengan gadis yang telah berhasil merebut hatinya sejak beberapa hari lalu.


Dan lihatlah, ia saat ini masih memandangi gadis itu dengan pandangan memuja, mengagumi, serta ada ambisi ingin memiliki seutuhnya.


"Makanlah, Marvin. Kita bisa telat, nanti." Suara lembut dari Lisa membuyarkan lamunannya.


Ia tersenyum, seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi ia juga takut jika ia membahas hal itu, sikap Lisa akan berubah padanya.


Wanita mana yang akan sanggup menahan malu jika aibnya diungkit kembali?


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Marvin mengurungkan niatnya. Melihat Lisa bisa bersikap manis saja sudah membuatnya senang bukan kepalang.


Semenjak penolakan Lisa siang itu, Marvin menjadi semakin takut akan kehilangan sosok cantik itu darinya.


"Marvin, apa kau sakit?" tanya Lisa lagi, polos dengan ekspresi mata yang sangat menggemaskan bagi Marvin. Membuat lelaki itu tertawa karenanya.


"Tidak, kenapa kau lucu sekali?" ujarnya seraya menggelengkan kepalanya.


Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang percaya jika gadis semanis ini, sangat polos dan peduli dengan orang lain, bisa melakukan tindakan keji seperti ab*rsi.


Mana mungkin gadis se-polos ini bisa menjadi simpanan para bos?


Jika Lisa selicik itu, pastilah gadis itu sudah memepetnya duluan saat melihat Marvin membawa mobil mewah, memakai jas mewah.


Tapi Lisa justru percaya begitu saja saat ia mengatakan jika ia hanyalah seorang staf. Staf mana juga yang akan diberi fasilitas berupa mobil yang harganya bahkan mengalahkan harga sebuah rumah.


"Lisa, kenapa kau memilih bekerja?" tanya Marvin.


"Untuk apa lagi? Aku butuh uang untuk biaya hidupku. Lebih tepatnya, aku ingin mandiri." Lisa tersenyum di akhir kalimatnya, karena hal itu adalah impiannya saat ini. Ia ingin mandiri dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.


Uang yang tidak akan diungkit oleh siapapun, meski gajinya tidak akan sebanding dengan yang ia terima dari ayahnya. Tapi Elisa yakin ia bisa.


"Rumahmu cukup besar dan mewah, jadi kupikir kau adalah ...."


"Ada hal yang tidak bisa ku ceritakan, Marvin." Elisa memotong kalimat Marvin begitu saja. Ia tidak mungkin akan menceritakan kekacauan kehidupan keluarganya, apalagi kakaknya.


"Maafkan aku!" pinta Marvin menyesal.


"Tidak masalah. Baiklah, bisa kita berangkat ke kantor sekarang? Aku takut telat, kau tahu aku baru dua hari ini bekerja disana."


"Baiklah, ayo!" Marvin mengulurkan tangannya untuk membantu Elisa.


"Terimakasih Marvin, tapi aku bisa sendiri." Elisa pun berdiri kemudian berjalan sejajar dengan Marvin. Mereka tidak menyadari jika Boby juga ada direstoran itu, duduk di sudut ruangan dan mengamati mereka sejak tadi.


Matanya tak lepas dari Elisa, hingga gadis itu menghilang di balik pintu restoran bersama Marvin.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ke kantor yang hanya menyisakan beberapa menit perjalanan.


Sesampainya disana, Lisa langsung turun dan masuk ke gedung bersama Marvin. Yang kebetulan disana juga ada Bimo yang sedang berdiri di depan lift.


Sial bagi Marvin, ternyata Ken menunggunya di loby. Ada hal penting yang harus lelaki itu sampaikan, sehingga Marvin terpaksa merelakan Lisa naik lift bersama saingannya.


"Apa sih, Ken?" gerutunya setelah melihat Lisa masuk lift bersama Bimo.


"Tuan, ada tamu penting dari Jepang. Orangnya sekarang sedang menunggu di Cafe Amaris," ujar Ken menjelaskan.


"Kenapa pagi-pagi sekali? Kau tau aku masih sibuk! Kau juga bisa menemuinya sendiri, kan?" protes Marvin dengan kesal. Terlebih lagi tadi dia melihat Lisa sudah menyapa Bimo dengan akrab.


"Tidak bisa, Tuan. Tuan Kimura ingin menyampaikan sesuatu itu langsung pada, anda."


"Ya sudah! Ambilkan jas ku di mobil!" perintahnya lalu melenggang begitu saja dari sana.


Ken melakukan apa yang diminta oleh bosnya tadi. Ia berjalan tergesa ke arah mobil yang terparkir di tempat VIP dan mengambil jas mewah yang terbungkus plastik tebal dari sana.