
Ditengah perbincangannya dengan ayahnya, Ken merasakan ponsel di dalam saku jasnya bergetar. Namun karena hal yang tengah dibicarakannya adalah hal penting, jadi ia mengabaikannya dan memilih melanjutkan obrolannya dengan ayahnya.
Tak berselang lama ponsel itu kembali bergetar dan membuat Ken penasaran, siapakah orang yang sedang menghubunginya itu?
Ia lalu merogoh ponselnya dan melihat ada nama salah satu anak buahnya disana, Gary.
Kebetulan sekali, batinnya. Dia berniat menghubungi lelaki itu setelah selesai berbincang dengan ayahnya, tapi nyatanya justru Gary duluan yang menghubunginya.
Ia menatap ayahnya dan mengisyaratkan jika ia akan menerima telepon itu dulu, kemudian menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.
"Ya, Gary?"
"Sekertaris, Ken. Saya sudah menyelesaikan tugas saya, sekarang saya sedang menuju Kota J bersama dua orang wanita yang akan menjadi kunci dari permasalahan keluarga tuan Hanggara. Saya sudah memperoleh semua keterangannya."
Di ujung telepon sana, Gary sedang tersenyum bangga dengan hasil yang ia dapatkan.
"Bagus, Gary! Tapi disini sedang ada masalah baru. Nona Stevi membawa nona Elisa pergi di hari pernikahan ini. Jadi aku minta agar kau juga ikut mencarinya!" jelas Ken.
"Nona Stevi ...." Gary nampak berpikir beberapa saat dan berusaha mengingat sesuatu.
"Gary, kau masih disana?" tanya Ken setelah terciptanya keheningan diujung sana.
"Ya, tenang saja, Sekertaris Ken! Aku pernah memasang alat pelacak di mobil nona Stevi saat kau menugaskan ku mencari informasi tentangnya. Akan segera ku periksa, semoga alat itu masih terpasang disana dan berfungsi dengan baik." Gary tersenyum.
"Baguslah! Ku harap juga demikian. Cepat periksa dan segera kabari aku lagi jika kau sudah berhasil menemukannya!"
Ken bisa bernapas sedikit lega sekarang, setidaknya ia memiliki harapan agar calon nyonya muda keluarga tuannya bisa segera ditemukan dan acara pernikahan tetap bisa berjalan meski tidak tepat waktu.
Tidak salah jika ia selalu mengandalkan Gary, lelaki yang usianya masih muda darinya, tapi sangat cerdas dan punya banyak taktik. Urusan mengorek informasi, dialah jagonya. Terkadang ide dan pemikirannya juga membuat orang geleng-geleng.
Sementara itu, waktu pernikahan semakin dekat. Para tamu juga mulai berdatangan satu persatu.
"Bagaimana ini?" teriak Marvin yang sudah hampir gila karena memikirkannya. Lebih dari sekedar rasa malu yang akan ditanggung keluarga besarnya yang ia takutkan, ia sangat takut jika calon istrinya akan terluka karena ulah kakaknya yang tidak waras itu.
"Marvin, minumlah dulu!" Eylina mengusap punggung putranya dan mengajaknya untuk duduk serta menyerahkan segelas minuman.
Lelaki itu sudah ingin menangis saja rasanya. "Mi, Lisa dalam bahaya sekarang. Ia pasti sangat ketakutan, dan bagaimana dengan calon bayiku, Mi? Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada mereka?"
Eylina mengusap bahu putranya dengan lembut. "Tenanglah, dulu! Ken dan anak buahnya pasti akan menemukannya."
"Calon bayi?"
"Iya, Paman. Elisa mengandung calon anakku sekarang. Aku takut sekali jika Stevi akan melukainya, nanti." Sudah tidak ada rasa takut lagi yang mampu membuat Marvin begitu kacau melebihi ketakutannya membayangkan dua nyawa yang sedang ia perjuangkan sekarang. Bahkan mengakui jika putri Hanggara telah hamil pun, ia tidak takut lagi.
Hanggara tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya terlihat menutup mulutnya dengan tangan terkepal. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia rasakan di dalam dirinya. Tadinya bahagia, lalu terkejut, heran dan sekarang ia mendengar putrinya tengah hamil dan tidak diketahui dimana keberadaannya. Lebih parahnya lagi, Stevi yang membawanya. Ada apa sebenarnya?
"Tuan, para tamu sudah mulai bertambah. Apa Tuan tidak ingin menyambut mereka terlebih dahulu?"
Terdengar suara Ken melaporkan pada Morgan tentang keadaan di dalam area gedung yang akan dijadikan tempat pernikahan itu.
"Ya, kau benar. Aku akan menyambut kedatangan mereka. Kau dan ayahmu, serta yang lainnya, usahakan agar cepat menemukan keberadaan calon pengantin wanitanya. Paman percaya padamu, Ken." Morgan menepuk bahu pemuda itu, yang langsung dibalas anggukan kepala.
Ia melihat orang yang sangat dihormati ayahnya itu pergi dengan langkah yang tetap dibuat tenang. Sebelumnya, Morgan juga mengajak istrinya untuk ikut menemui para tamu. Sementara tuan Wira dan istrinya diminta untuk tetap ditempatnya sampai situasi dan waktunya kembali kondusif.
Baru akan berbalik, tapi terasa ponsel didalam sakunya kembali bergetar. Saat ini Ken belum menginstruksikan pada anak buah yang lain karena ia menunggu kabar dari Gary. Yang sekarang juga sedang berusaha menghubunginya.
Dengan cepat, Ken mengusap layar ponselnya. "Ya, Gary, bagaimana?"
"Nasib baik memihak pada nona Elisa, Sekertaris Ken. Saya menemukan titik koordinat dimana mobil itu berada sekarang. Bahkan kurang dari tiga puluh menit lagi saya bisa menjangkau tempatnya." Gary mengatakan dengan penuh keyakinan.
"Bagus! Kau memang selalu bisa diandalkan. Kirim lokasinya sekarang! Aku akan menuju kesana, segera."
"Baiklah." Setelah mendengar jawaban dari Gary, Ken menutup ponselnya dan segera menghampiri tuan mudanya yang terlihat kacau sekali dengan ditemani oleh ayah dan ibunya.
"Tuan muda, saya membawa kabar baik tentang nona Elisa," lapornya.
Marvin, Rey dan istrinya pun tersenyum mendengarnya.
"Benarkah? Dimana Lisa? Kau sudah menemukannya?" Sudah seperti habis kesabarannya, Marvin mengguncang bahu sekertarisnya guna menemukan jawaban.
"Ya, Tuan. Gary yang telah menemukannya. Ini adalah lokasi dimana nona Elisa berada sekarang." Ken menunjukkan isi pesan dari Gary di aplikasi pengirim pesan. Di sana terpampang jelas titik lokasi yang baru saja dikirimkan oleh anak buah Ken itu.
"Tunggu apa lagi? Bawa aku kesana!" Marvin berdiri dan segera bergegas melalui jalan lain agar kepergian mereka tidak terlihat oleh para tamu.
Sementara, sambil berjalan mengikuti tuan mudanya, Ken menelepon salah satu pentolan The Lion agar mengirimkan beberapa anak buah untuk ikut bersamanya.
Rey serta istrinya, juga Hanggara pun ikut serta bersama mereka untuk menjemput pengantin wanita yang sedang disandera oleh perempuan bernama Stevi itu.
Sedangkan semua anggota keluarga yang lain, tetap berada diruang tunggu. Termasuk disana, oma Santi serta putri dan menantunya. Tak ketinggalan juga Emily, Luna serta keluarga mereka.