Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Janggal



KOTA B


Hari ini Marvin menghadiri acara khusus di sebuah panti asuhan yang cukup terkenal di Kota B.


Panti asuhan yang bahkan pernah menjadi tempat tinggal bagi ayahnya Ken.


Ken sendiri sudah mengetahui tentang ini, karena mendengar ceritanya langsung dari ayahnya. Ia tidak pernah menyangka jika kehidupan ayahnya begitu keras semasa dulu. Tapi kini ia sangat bersyukur atas segalanya, Tuhan menyelamatkan kehidupan ayahnya melalui tangan mendiang kakek dan neneknya.


Walaupun masa itu hanya sekejap, tapi pasti itu sangat berarti bagi ayahnya. Tuhan masih terus memberikan kemurahannya, dengan mempertemukan ayahnya dengan tuan Wira. Hingga akhirnya ayahnya bisa tumbuh menjadi lelaki yang hebat dan disegani oleh lawannya.


Sebuah kebaikan yang tidak akan dilupakan dan akan dibalas pengabdian dari ayahnya untuk seumur hidupnya. Bahkan dirinya pun mewarisi tugas itu sekarang. Yah meski tuan mudanya ini sedikit menjengkelkan, tapi tidak menjadi masalah baginya. Karena bagaimanapun keluarga Marvin lah yang sudah begitu berjasa akan kehidupan kedua orang tuanya.


Dulu panti asuhan ini tidaklah sebersih ini kondisinya. Bahkan kabarnya panti asuhan ini hampir ditutup karena kesusahan mendapatkan donatur. Hingga akhirnya kabar tersebut sampai ke telinga keluarga Wiratmadja. Dan tidak lama lagi panti asuhan ini akan dibangun kembali, menjadi lebih besar. Mungkin akan menjadi yang terbesar di seluruh negeri ini nantinya.


Saat ini Marvin baru saja turun dari mobilnya, setelah Ken membukakan pintu untuknya.


Pihak panti menyambutnya bersama anak-anak yang tinggal disana. Mereka terlihat antusias dan senang sekali. Entah apa yang ibu panti mereka katakan sebelum kedatangannya, sehingga membuat anak-anak ini begitu senang menyambutnya.


Marvin dan Ken dibuat terharu karenanya. Seribu kali ucapan syukur menggema dalam batin Marvin. Ia tidak bisa membayangkan betapa kerasnya kehidupan mereka. Tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, bahkan sejak mereka membuka matanya.


Sementara Ken, ia membayangkan betapa kerasnya perjuangan ayahnya semasa kecil. Berjuang melewati hari-hari berat tanpa tangan dari orang yang bisa dipanggil ibu ataupun ayah.


"Selamat datang di Panti Asuhan Cahaya, Tuan Marvin, Tuan Ken," sapa ibu panti seraya menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya, disusul oleh para pengurus panti yang lainnya.


Marvin hanya mengangguk seraya mengulas senyum ramah pada mereka, lalu pada anak-anak yang juga tersenyum polos ke arahnya.


"Mari-mari ... silahkan masuk kedalam." Ibu panti mempersilahkan dan memandu mereka untuk melihat-lihat bagian dalam gedung panti.


Di sana rupanya pihak panti sudah menyiapkan meja panjang, beserta banyak hidangan sederhana namun aromanya cukup menggoda, bahkan tercium hingga ke indera penciuman Marvin dan Ken.


Meski secara kebersihan, panti ini sudah jauh lebih bersih dari pada saat foto pertama dari panti ini diterima oleh keluarganya. Namun kondisi gedungnya sudah cukup rapuh dan bisa membahayakan penghuninya jika tiba-tiba turun hujan lebat atau ada angin kencang.


"Sudah cukup, Bu! Saya sudah melihat semuanya. Begini, proyek pembangunan gedung baru disini akan saya percepat karena dinding juga tiang-tiang penyangganya juga sudah sangat memprihatinkan," ujar Marvin pada ibu panti.


"Terimakasih, Tuan, atas segala kemurahan hatinya. Semoga semuanya dilancarkan oleh Tuhan," balas bu Yuli dengan wajah haru. Karena sebentar lagi anak-anak asuhnya akan bisa tinggal di gedung baru yang lebih layak.


"Amin, dan untuk sementara, Ibu dan juga anak-anak bisa menempati rumah kakek saya yang ada di Kota J. Nanti saya akan suruh orang untuk menjemput kalian semua," Tersenyum ramah.


"Terimakasih,Tuan. Terimakasih sekali lagi atas semuanya." Ibu panti hampir tidak bisa menahan rasa harunya.


Mereka lalu melanjutkan room tour di dalam gedung yang sudah berumur itu.


Namun saat dibelakang, Mata Marvin menangkap sosok wanita yang terasa tidak asing baginya. Beberapa saat ia mengingat-ingat, siapa gerangan wanita itu.


"Ken, kau lihat wanita itu?" tanyanya pada sekertarisnya yang ada disampingnya, sambil menunjuk seseorang yang sedang berbincang dan tertawa riang di bawah pohon bersama beberapa orang anak kecil.


"Itu ... Nona Stevi, Tuan." Ken mengatakan setelah memastikan wajah wanita itu memang mirip sekali dengan nona dari keluarga Hanggara.


"Kau yakin? Untuk apa dia disini? Kita tidak ada urusan dengan perusahaan paman Hanggara untuk pembangunan panti ini," tegas Marvin.


Sementara Ken masih mencoba mengamati gadis itu dari bawah hingga atas. Dan memang ada yang berbeda, yaitu penampilan gadis itu. Penampilannya jauh dari kata glamor ataupun mewah, sedangkan Stevi yang Ken tahu adalah orang yang suka kemewahan. Sedangkan gadis yang ada disitu justru berpenampilan sangat sederhana, juga raut wajahnya memancarkan aura lain. Sangat teduh, berbeda sekali dengan Stevi. Rambut mereka juga berbeda, yang disini rambutnya hitam legam. Sedangkan Stevi memiliki rambut berwarna coklat.


"Saya akan cari tahu tentang ini, Tuan," ujarnya kemudian, saat merasa ada kejanggalan disini.


Ken lalu mengambil ponselnya dan memotret gadis itu beberapa kali.


"Ya, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa memiliki wajah sama persis, bagai pinang dibelah dua seperti ini," sahut Marvin.