Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Pertemuan 2



"Baiklah, mari silahkan duduk dulu, Tuan, Nyonya!" Hanggara mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Ya ... ya, terimakasih," jawab Wira tersenyum seraya mengambil posisinya, begitu pula yang lainnya.


Orang-orang tua itu mulai mengobrol satu sama lain, berbasa-basi kesana kemari. Mengobrolkan urusan bisnis masing-masing dan sesekali membahas tentang masa lalu mereka.


Sementara itu disisi lain, Marvin mencoba tersenyum pada Lisa yang memandangnya dengan tatapan yang lain dari biasanya. Terlihat menakutkan dimata Marvin.


Keduanya masih saling pandang hingga saat ini, saat dimana beberapa menit telah berlalu tanpa mereka sadari. Membuat seorang gadis dengan gaun hitam menjadi seperti obat nyamuk yang tidak laku dan teronggok begitu saja di bagian pojok sofa mewah.


Ia sesekali mencebik tak suka, karena merasa tidak ada yang memperhatikannya sejak tadi. Sudah dandan sedemikian rupa, mengenakan gaun khusus yang dirancang oleh desainer ternama, tapi tak sedikitpun orang yang menjadi aktor malam hari ini meliriknya.


"Hanggara, begini ... maafkan aku jika apa yang akan kukatakan ini akan sedikit mengecewakanmu," Wira memulai obrolannya kearah yang lebih serius. Ia merasa sangat tidak enak, namun bagaimanapun hal ini tetap harus disampaikan.


Semua orang pun juga berubah menjadi sedikit tegang karenanya. Terlebih lagi Stevi, ia nampak memasang wajah seriusnya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Tuan Wira.


"Tuan Wira ini bisa saja, silahkan jika ada yang ingin Tuan sampaikan pada kami. Tidak perlu sungkan atau merasa tidak enak." Hanggara mempersilahkan tamunya untuk berbicara.


"Begini," ujar Tuan Wira seraya menghela napas, "Cucuku, Marvin masih belum siap untuk menerima perjodohan ini. Jadi mohon maafkan kami, kami juga tidak bisa memaksanya," ujar Wira penuh penyesalan.


"Tuan Wira, tidak masalah jika memang begitu. Memang pada akhirnya anak-anak lah yang akan menjalani biduk rumah tangga itu. Jadi, ya sudahlah ... tidak menjadi masalah bagi kami," balas Hanggara diiringi tawa renyah di akhir kalimatnya.


Ia sendiri juga tidak tahu harus senang atau sedih mendengar hal ini. Tapi mungkin begini lebih baik daripada dua anaknya harus bermusuhan lebih dalam lagi karena urusan perjodohan ini.


Sementara itu, Marvin yang mendengarnya menjadi sedikit merasa terkejut dan bersalah. Ia tidak tahu jika yang akan dijodohkan dengannya adalah putri dari keluarga Hanggara yang salah satunya tak lain adalah Elisa.


Ia juga tidak tahu jika makan malam hari ini, selain makan malam, dua keluarga ini akan membahas hal ini.


Jika saja ia tahu, ia tidak akan menolak sedikit pun untuk dijodohkan. Justru malah dengan senang hati akan menerimanya. Ia juga akan mempercepat acara pertunangannya, juga pernikahannya. Memiliki Elisa dengan sepenuhnya.


Ia tidak perlu lagi takut akan tersaingi oleh Bimo atau siapapun. Tidak perlu lagi untuk takut kehilangannya.


"Sekali lagi maafkan kami Hanggara, kami tidak bermaksud mempermainkan keluargamu. Tapi, apa mau dikata. Bukankah lebih baik dibicarakan diawal dari pada nanti anak-anak kita menikah, tapi mereka tidak bahagia dan justru membuat jurang yang membuat hubungan kita menjadi renggang." Kali Morgan yang bersuara. Ia juga nampak menyesal karena hal ini.


"Tidak apa-apa Tuan Morgan. Kami sungguh tidak masalah dengan hal ini," ujar Hanggara tulus.


"Tapi malam ini, biarlah mereka saling berkenalan satu sama lain. Siapa tahu Dewi asmara akan hadir diantara mereka," kata Morgan menghibur, yang langsung disambut tawa renyah dari semua orang.


Dan lihatlah disana, ada dua orang yang secara tidak disadari sedang tersipu malu karena hal ini.


"Baiklah, mari kita mulai saja makan malamnya. Kita makan malam dibelakang, Tuan. Anggaplah kita sedang pesta kebun malam hari ini." Hanggara tersenyum dan bangkit dari tempatnya. Ia memandu tamunya untuk ke tempat yang telah dipersiapkan.


Orang-orang tua berjalan lebih dulu, Tuan Wira beserta istrinya, begitu pula Morgan dengan wanita yang ada disampingnya. Disusul Hanggara dan Maria, lalu Stevi yang berjalan sendirian.


Menyisakan dua orang yang saat ini masih pandang-pandangan, padahal masih ada Luisa yang juga belum beranjak dari tempatnya.


"Lisa, aku ... maafkan aku!" Marvin berkata dengan gugup. Belum apa-apa, tapi rasa takut sudah menyelimutinya sejak tadi.


"Kenapa?" tanya Lisa lembut. Mendapat respon seperti itu saja sudah membuat Marvin sedikit tenang.


"Kau pasti marah padaku, kan? Lisa kau pasti menganggap ku pembohong. Aku tidak bermaksud begitu, dan aku juga tidak sepenuhnya berbohong padamu. Aku memang benar bekerja disana, kan? Aku bekerja untuk kakekku." Marvin berusaha menjelaskan semampu yang di bisa. Dan lihatlah guratan ketakutan kembali nampak diwajahnya.