
Elisa keluar dari gerbang rumahnya setelah pak Timan membukakannya untuknya.
"Terimakasih, Pak Timan," ucapnya seraya tersenyum. Sementara pak Timan menganggukkan dan menundukkan kepalanya dengan sopan.
Elisa terus berjalan ke arah mobil mewah yang terparkir di depan gerbang rumahnya.
"Marvin? Kenapa pagi sekali?" tanyanya heran pada seorang lelaki tampan yang berdiri seraya mengulas senyum padanya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Marvin ceria. Ia mengabaikan pertanyaan dari Lisa.
"Marvin, kumohon jangan berlebihan!" protes Lisa sambil melotot ke arah lawan bicaranya. Ia merasa tidak enak jika pak Timan ataupun orang lain akan mendengar percakapan mereka.
"Baiklah, baiklah ... silahkan masuk!" Lelaki itu membukakan pintu untuk Lisa.
Setelah Lisa masuk, Marvin pun menyusul masuk kedalam mobilnya.
"Sayang, kita berangkat sekarang?" tanyanya tanpa malu-malu atau takut mendapat penolakan dari kekasihnya.
"Marvin, tolong jangan berlebihan seperti ini!" protes Lisa yang merasa sedikit risih atas panggilan dari Marvin.
"Apanya yang berlebihan? Aku hanya memanggilmu sayang karena aku memang menyayangimu, Lisa." Tersenyum kearah Lisa dengan pandangan yang terasa mengunci gerak gerik Lisa.
"Tapi kita kan hanya-"
"Tidak, Sayang. Kita sudah menjadi sepasang kekasih. Jadi bisakah aku juga memintamu untuk memanggilku dengan panggilan yang sama?" tanya Marvin seraya meraih tangan lembut yang berada dipangkuan Lisa.
"Marv-" baru saja akan menjawab dan menawar, tapi rupanya Marvin memang ahlinya menyihir lewat matanya. Lisa bahkan langsung tak berkutik dibuatnya, ia menundukkan wajahnya.
"Itu ... aku tidak pernah memanggil dengan sebutan seperti itu," lirih Lisa secara malu-malu. Wajahnya sudah bersemu merah saat ini. Ia juga menggigiti bibirnya sendiri.
Melihat hal itu, Marvin tidak bisa untuk tidak tertawa.
"Hahaha ... kau ini, jangan bertingkah seperti itu, Lisa. Kumohon!" Karena aku takut, aku tidak bisa mengendalikan diriku jika kau semenggemaskan ini setiap waktu, lanjut Marvin dalam hatinya.
"Kenapa?" Lisa justru dengan polosnya bertanya lagi. Kali ini dengan ekspresi lucu disertai kedipan matanya yang khas ala gadis itu.
Oh Tuhan ... ujian apalagi ini? Kenapa kau malah bertanya dengan wajah seperti itu, Lisa? Kau benar-benar menguji kesabaran ku sebagai seorang lelaki.
"Karena ... karena aku gemas sekali melihatmu seperti itu," jawab Marvin dengan jujur, yang saat itu juga justru membuat wajah Lisa kembali merona dibuatnya.
Nah ... kan, jika tidak dijawab kau pasti penasaran. Tapi ketika dijawab, ekspresi mu justru menggemaskan seperti itu.
Marvin menghela napasnya untuk mengurangi ketegangan dan juga rasa sesak di balik celananya.
Tapi Marvin juga tertawa dalam hati. Antara kasihan, senang dan juga merasa lucu jika mengingat tentang rumor yang tidak jelas sumbernya, yang justru dipercaya oleh banyak orang.
Mana ada simpanan bos sepolos ini, batinnya. Sambil menggeleng Marvin lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Hanggara. Ia juga sempat melambaikan tangan pada pak Timan dan rekannya satu lagi.
Marvin juga sempat melirik sekilas sesosok wanita yang sedang menuju ke arah mobilnya namun pandangannya terus mengawasinya.
Wanita aneh, gumamnya lirih setelah melirik dan menangkap ekspresi wajah Stevi.
Pagi itu Marvin dan Elisa menyempatkan diri untuk sarapan di cafe yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Setelah itu mereka langsung menuju ke kantor.
"Tunggu sebentar, Sayang!" pinta Marvin saat Lisa akan berjalan duluan.
"Ada apa?"
"Aku akan mengantarmu ke ruangan mu," ujar Marvin ringan. Ia lalu menggenggam tangan Elisa dan mengajaknya berjalan beriringan, seolah sedang memamerkan kemesraannya pada semua orang. Dan benar saja, semua mata tertuju pada mereka berdua. Tidak ketinggalan juga sekertaris tuan muda itu. Ken sampai mengedipkan matanya, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bos nya menggandeng mesra salah satu pegawainya dengan ekspresi wajah yang sangat ceria dan bangga.
"Marvin, tapi semua orang melihat kita," ujar Lisa lirih, setengah berbisik.
"Biarkan saja, mungkin mereka adalah para jomblo," jawab Marvin dengan tanpa beban.
Ia tampak tidak peduli walau ada karyawannya mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Aku naik sendiri saja!" pinta Lisa saat keduanya berada di depan lift, dan ada Bimo juga disana.
"Tidak boleh! Nanti kau mencuri kesempatan dengan dia," tolak Marvin seraya melirik pada seorang lelaki yang berdiri sedikit menjauh dari mereka.
Mungkin Bimo cukup tau juga akan posisinya, jika lift itu sekarang hanya boleh dinaiki kedua sejoli itu. Makanya ia memilih untuk menunggu lift yang sebelahnya lagi.
"Ayo!" Marvin menarik tangan Lisa agar masuk ke dalam lift yang sudah terbuka untuk mereka.
Dilantai tempat Lisa bekerja, semua teman-teman Lisa masih berdiri dan bercanda di koridor. Namun tawa mereka langsung terhenti saat melihat pemandangan yang berada di ujung.
"Itu pak Marvin, kan?" ujar salah satu dari mereka. Sementara yang lain hanya mengangguk cepat.
"Sayang, bekerjalah dengan baik. Jaga dirimu dan jangan lupa makan siang. Aku ada urusan di Kota B, mungkin baru akan kembali nanti sore. Jangan dekat-dekat dengan Bimo, oke?" Marvin mewanti-wanti kekasihnya dihadapan rekan-rekan Lisa. Membuat tiga orang yang masih jomblo itu baper setengah mati. Sumpah demi apa, mereka ingin segera menculik Lisa dan memburunya dengan banyak pertanyaan.
"I ... iya, hati-hati!" jawab Lisa yang masih malu-malu