
Pagi telah menjelang, mengusir gelap dan dinginnya malam yang menyelimuti bumi.
Kesibukan di kediaman Wiratmadja masih sama seperti dulu. Banyak pelayan yang hiruk pikuk beraktifitas sesuai dengan tugas mereka masing-masing.
Kali ini Marvin sengaja bersiap-siap dengan bangun lebih awal karena ia ingin menjemput bidadari pujaannya. Ia mandi sambil bersiul riang, melupakan tentang rencana perjodohannya semalam.
Bodoh amat mau dijodohkan dengan siapa, yang penting dia sudah mengutarakan isi hatinya jika dia tidak ingin menerima perjodohan itu.
Kalau pun dipaksa, ia juga bisa kabur dan memaksa Ken untuk menggantikannya, atau menyuruh siapa saja, menyewa orang juga bisa. Anak buahnya cukup banyak, mereka pasti dengan senang hati akan menerima tawarannya.
Marvin mengganti pakaiannya di ruang ganti pribadinya, memakai kemeja berwarna biru lengkap dengan dasinya.
Lisa, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu menjauh dariku. Hahaha ... boleh dikatakan aku jahat? Aku akan mendekatimu dengan cara pemuda-pemuda pada umumnya. Tapi jika kau menolak ku, maafkan aku ... aku mungkin akan tetap memaksamu.
Marvin tersenyum di depan cermin nya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, menyemprotkan parfum dan selesai. Sempurna! Gumamnya seraya menepuk tangannya saat melihat tampilan akhir dirinya.
Ketampanan? Jangan ditanya lagi, mewarisi sebagian pesona ayahnya, juga paras ibunya, membuat wajah Marvin begitu mempesona.
Sudah banyak wanita yang hampir gila karenanya, tapi selama ini dia selalu tertutup, misterius dan arogan. Dia juga selalu mengenakan kaca mata hitam saat pergi kemanapun. Hal itu untuk menghindari kontak mata pada siapapun.
Karena Marvin hanya ingin seorang istri dari tanah air, dimana ia dilahirkan.
Selesai dengan urusannya, Marvin pun menelepon sekertarisnya agar pria itu tidak datang menjemputnya.
Ia lalu bergegas menuruni anak tangga satu persatu. Niat hati, ia ingin melewatkan sarapan pagi ini karena ingin mengajak Lisa sarapan bersama.
Tapi baru saja ia menuruni anak tangga terakhir, suara seseorang yang datang dari arah kanan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Marvin? Tumben pagi-pagi sekali kamu sudah rapi?" Itu adalah suara Maminya.
"Mami? Ini Marvin ada janji dengan seseorang. Jadi Marvin harus cepat-cepat," ujar Marvin dengan asal.
"Mami ... muah, Marvin buru-buru Mi. Jadi Marvin langsung berangkat saja. Bye ... Mami, i love you!" Marvin melambaikan tangannya dan melakukan adegan kiss bye ke arah ibunya.
Sementara Eylina hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan putranya.
"Senyum sama siapa?" tanya Morgan saat bayangan Marvin sudah menghilang dari pandangan.
"Marvin, Pi. Dia masih sama seperti dulu. Ya sudah, ayo kita ke ruang makan," ajak Eylina seraya menggandeng tangan suaminya.
"Oh ... ya, mengenai perjodohan Marvin, sebaiknya dibicarakan lagi dengan Papa. Banyak yang harus dipertimbangkan." Eylina memulai obrolannya. Diruang makan belum ada siapa-siapa selain mereka berdua.
"Baiklah, nanti aku akan membicarakannya pada Papa," ujar Morgan seraya tersenyum.
"Membicarakan tentang apa, Morgan?" tanya Wira yang baru saja datang. Ia hanya mendengar sedikit pembicaraan antara putra dan menantunya.
"Papa, silahkan duduk dulu, Pa." Morgan dengan cekatan membantu Papa dan Mamanya duduk di kursinya.
"Apa ada hal penting, Morgan?" Wira bertanya setelah ia berhasil duduk dengan sempurna.
"Ya, Pa. Begini, Morgan dan Eylina pikir, rencana perjodohan itu hanya akan membuat Marvin tertekan, Pa. Lagipula Marvin juga belum pernah bertemu ataupun mengenal wanita yang akan dijodohkan dengannya. Kita juga tidak tahu, apakah sekarang Marvin memiliki kekasih atau tidak. Kalau dia memiliki kekasih, bagaimana perasaan mereka?" Morgan mulai mengutarakan maksudnya.
"Morgan, Papa memilih keluarga Hanggara juga bukan tanpa alasan. Papa merasa bersalah atas kejadian lebih dari dua puluh enam tahun yang lalu. Dimana Jordan meregang nyawanya saat itu." Wira berbicara sambil mengingat memori saat itu.
"Pa, sudah berapa kali Morgan katakan. Jordan dan Hendrawan bukan terbunuh karena anak buah Morgan, Papa ataupun anggota The Lion. Mereka berdua saling membunuh satu sama lain, Pa. Jordan bukanlah seorang manusia normal seperti kita. Dia memiliki gangguan mental yang serius, oleh karena itu Hendrawan saat itu ingin melepaskan diri darinya. Morgan mengetahui semuanya dari Rey, Pa. Hendrawan sudah menyerah dan ingin meminta maaf pada keluarga kita juga keluarga sekertaris Ji. Tapi Jordan tidak terima dan merasa dikhianati. Dari sejak itu, Jordan menyekap keluarga Hendrawan bahkan membunuh istrinya dengan keji saat anggota The Lion datang memberi bantuan untuk membebaskan keluarga Hendrawan.
Hendrawan yang melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri, menjadi murka karenanya. Ia lalu mengambil senapan yang ada ditangan salah satu anggota The Lion dan menembakkannya tepat di dada Jordan."
Morgan menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.