Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Hasil Lab



Menunggu hasil lab keluar membuat Lisa merasa berdebar-debar. Entah kenapa ia merasa ini adalah sesuatu yang buruk, tapi semoga saja tidak, begitu harapnya.


Selama menunggu di ruangan itu, Marvin terus berada disampingnya. Sudah seperti pasangan suami istri sungguhan, ia begitu setia menemani Lisa.


Mereka berdua menoleh secara bersamaan saat seseorang mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


"Permisi, Tuan." Seseorang datang dengan senyum ramahnya, namun terlihat menjengkelkan di mata Marvin. Dia lagi, dia lagi. Kenapa harus datang lagi?


Apa dia sengaja tebar pesona? batinnya kesal melihat senyum dokter Nicko.


"Ya, ada apa?" tanya Marvin dingin.


"Saya kemari ingin membacakan hasil lab yang baru saja keluar, tadi dokter Sonia mengantarkannya pada saya, Tuan."


"Ya sudah, cepat bacakan!" perintah Marvin tanpa menatap dokter Nicko.


Sungguh aku tidak pernah merasa serendah ini, batin dokter Nicko meronta. Begini kah nasibnya jika bertemu dengan tuan muda sang pewaris tahta itu? Serasa tidak ada harganya, padahal dia adalah kepala rumah sakit disini. Oh ya, sebut saja dia Putra Mahkota.


Dokter Nicko kembali ke mode profesionalnya setelah sedikit membiarkan batinnya meronta.


"Begini Tuan, jadi berdasarkan hasil test darah istri Anda disini, diketahui jika ada hormon kehamilan di dalam tubuh istri Anda. Namun begitu, kadarnya masih rendah. Dengan kata lain kesimpulannya adalah istri Tuan saat ini tengah mengandung."


Deg ...


Lisa langsung memucat seketika, terasa tersambar petir yang langsung menghujam ke jantungnya. Hamil? Bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan pada orang tuanya? Ini sama saja seperti membenarkan rumor yang telah beredar itu. Lalu jika orang tua Marvin tau bagaimana?


Sementara Marvin, ia terlihat sangat senang sekali. Lelaki itu tersenyum-senyum setelah mendengar penuturan dari dokter Nicko. Seolah ia adalah sosok suami yang begitu bahagia atas kehamilan istrinya.


"Maaf, jika boleh saya tahu kapankah hari terakhir Nyonya ...." Dokter Nicko mengernyitkan dahinya dan menggantung kalimatnya.


"Elisa," sahut Marvin.


"Kapankah terakhir kali Nyonya Elisa mengalami haid?"


"Sayang, dokter tanya kapan kau terakhir haid?" Marvin menyadarkan kekasihnya yang masih syok.


"Tanggal 10 bulan 7, Dok," jawab Lisa setelah beberapa saat mengingatnya.


"Jika dihitung dari tanggal terakhir haid, usia kehamilannya belum genap lima minggu, Tuan. Masih sangat muda sekali, saya sarankan agar Nyonya Elisa banyak-banyak istirahat. Kalau bisa jangan beraktifitas yang berlebihan."


"Jadi benar istriku hamil?" Wajah yang tadi menatap tidak suka pada dokter muda itu kini berubah antusias dan berbinar. Marvin segera meraih dan menciumi tangan Lisa seraya tersenyum bahagia.


"Sayang, kau benar-benar hamil!" seru Marvin dengan tidak tahu malu.


Sementara Elisa hanya bisa tersenyum kaku, wajahnya masih pucat pasi.


"Ya, ya ... jika sudah tidak ada kepentingan lagi, pergilah cepat!" perintah Marvin.


"Baik, Tuan. Nyonya ... saya permisi!" pamit dokter Nicko pada Lisa.


"Tidak perlu tersenyum manis seperti itu! Istriku tidak tertarik padamu!" ujar Marvin kesal karena Lisa juga membalas senyum pada dokter muda itu.


Mendengar hal itu, dokter Nicko hanya mengangguk pasrah dan melipir dari ruangan itu.


"Marvin, kenapa kau bilang jika aku adalah istrimu? Kita belum resmi menikah!" protes Lisa.


"Kenyataannya sebentar lagi kau juga akan menjadi istriku, kan? Apa kau menaruh hati pada dokter tadi?" selidiknya.


"Tidak, Marvin! Aku tidak punya waktu untuk itu, sekarang aku hamil. Bagaimana aku akan menjelaskan pada orang tuaku?"


Lisa mulai gelisah sambil berpikir, ia terlihat murung dan bingung.


"Untuk apa dijelaskan? Aku akan langsung meminta keluargaku untuk melamar mu dan segera menggelar acara pernikahan kita. Biarkan saja kabar ini tersimpan, dan hanya kita yang tahu."


Marvin meyakinkan Elisa, ia menggenggam tangannya dan menatap ke dalam matanya.


"Tapi ... aku tidak bisa menyimpan semua ini begitu saja, hubungan pernikahan adalah hubungan yang suci. Bagaimana hubungan suci akan dimulai dengan sebuah kebohongan? Bagaimana jika keluargamu pada akhirnya mengetahui semua ini, nantinya?"


"Tenanglah, itu akan menjadi urusanku. Mami adalah orang yang sangat baik dan berpikiran luas, begitu juga Papi. Aku yakin mereka akan bisa memakluminya, Sayang. Lagipula ini semua adalah perbuatan ku, sudah sewajarnya aku bertanggung jawab."


Marvin lalu meraih tubuh kekasihnya kedalam pelukannya. Ia tahu, Lisa nya adalah orang yang berhati baik. Tapi ia juga merasa harus memberikan perlindungan pada gadis itu. Sekian lama Lisa hidup dibawah penindasan kakaknya sendiri, sekarang sudah saatnya gadis itu bahagia bersamanya.


"Aku sangat mencintaimu, Lisa. Percayalah padaku! Aku akan menyelesaikan semuanya. Kau tidak perlu mengatakan apapun pada orng tuamu. Biarkan aku yang mengatakannya pada mereka. Nanti malam bersiaplah! Aku dan keluargaku akan datang kerumah mu. Kau siap menjadi istriku?"


Marvin meleraikan pelukannya dan menangkup wajah Lisa yang terlihat sendu. Gadis itu mengangguk dengan haru, ia tidak menyangka akan ada lelaki yang rela menanggung semuanya seperti ini. Memuliakannya serta menghormatinya meski mereka sudah pernah saling melepaskan hasrat dalam sebuah hubungan terlarang.


Lisa juga tidak menyangka jika Marvin akan memperlakukannya seistimewa ini, tidak pernah melakukan tindakan kurang ajar dalam keadaan sadar selama menjalin hubungan dengannya.


"Terimakasih, Sayang. Aku bahagia sekali. Terimakasih sudah percaya padaku."


Sekali lagi Marvin memeluk erat tubuh Lisa. Kali ini bukan hanya tidak ada penolakan, tapi Lisa juga berinisiatif untuk membalas dekapan calon suaminya.


Tidak pernah ia merasa senyaman dan seaman ini. Ia merasa seperti menemukan sandaran hidup yang begitu kokoh yang akan melindunginya selama sisa hidupnya. Semoga saja, begitulah harapan Lisa.


____________


Pada nungguin kah???


Maaf ya teman² 🙏 Nthor nya baru sempat up. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Ya ... intinya nthor nya lagi hancur moodnya.