Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Berangkat bersama



Astaga ... gadis ini memang benar-benar boneka hidup, menggemaskan sekali.


Marvin hampir tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Batinnya sungguh tersiksa, hanya bisa memandangi paras cantik dihadapannya tanpa bisa menyentuhnya. Untuk beberapa saat matanya tak lepas dari sosok Lisa.


"Marvin," panggil Lisa seraya menggerakkan tangannya di depan wajah lelaki yang terdiam melihatnya.


"Oh ... iya," jawabnya saat tersadar.


Ia lalu turun dan membukakan pintu untuk teman wanitanya, "Silahkan Nona Elisa," ujarnya seraya tersenyum dan gerakan tangan ala sopir pribadi.


"Berlebihan, Marvin!" protes Elisa dengan bibir mengerucut, yang ditanggapi dengan suara kekehan dari orang yang diajak bicara.


Lisa ... kau sungguh ... ah apa saja kupikirkan. Jangan salahkan aku jika aku akan mengejar mu sampai kau tidak bisa lari kemanapun.


Marvin menutup pintu Lisa dan memutari mobilnya untuk naik ke kebelakang kemudinya. Namun sesaat pandangannya menangkap bayangan seseorang seperti sedang mengintai keberadaannya.


Stevi? Ya, Marvin masih ingat wajah gadis yang pernah berkunjung ke kantornya saat itu.


Gadis itu nampak tidak suka melihat pemandangan yang tersuguh dihadapannya. Ia mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Lisa, apa dia adalah kakakmu?" tanya Marvin seraya menunjuk keberadaan Stevi di balik pilar penyangga rumahnya.


Lisa melirik sekilas kearah yang ditunjuk oleh Marvin, "Iya, dia adalah kakak perempuan ku satu-satunya," jawab Elisa diakhiri senyum kecut. Yang bisa ditangkap oleh Marvin dan membuatnya jadi heran.


"Ya, sudah. Kita berangkat sekarang! Oh ya, aku belum sarapan. Apa kau mau ikut sarapan bersamaku?" tawarnya tanpa basa-basi setelah memasang sabuk pengamannya.


Kenapa bisa kebetulan sekali? gumam Lisa yang merasa perutnya sangat lapar.


Ia lalu tersenyum dan mengangguk dengan polos. Disaat seperti ini Marvin ingin sekali mengacak rambut Lisa dengan gemas.


"Baiklah, mobil siap meluncur," ujar Marvin seraya menyalakan mesinnya. Sementara gadis disampingnya hanya terkekeh geli melihat kelakuan teman barunya.


Teman ... entah ungkapan apa yang tepat, mereka baru berteman tapi bahkan sebelum berteman mereka sudah terlibat hal yang sangat jauh. Lisa lalu terdiam dan menundukkan kepalanya jika mengingatnya.


Andai malam itu tidak terjadi, ia tidak perlu harus merasa seperti ini setiap kali bersama dengan Marvin. Ia akan dengan mudah akrab seperti halnya saat ia berteman dengan Bimo. Berteman tanpa harus merasa malu ataupun canggung, karena Marvin juga adalah orang yang menyenangkan.


Mobil sudah berjalan semakin menjauh, tapi suasana di dalam mobil masih hening. Marvin fokus pada kemudinya, sedangkan Lisa hanya menunduk sambil memainkan kedua ibu jarinya.


"Lisa," panggil Marvin.


"Aku senang bisa berteman dan dekat denganmu. Nanti sore ku antar pulang, ya?" dengan antusias Marvin menawarkan diri.


"Marvin ... emm ... aku juga senang berteman denganmu. Tapi sepertinya kau berlebihan. Kau tidak harus mengantar dan menjemput ku seperti ini. Dan, lagipula rumahku dan kantor juga tidak terlalu jauh. Oh ya ... ini mobil siapa lagi yang kau pakai?" Lisa mengerutkan dahinya.


"Fasilitas dari kantor. Kau tenang saja, aku senang melakukan hal ini untukmu." Marvin tersenyum untuk meyakinkan gadis disampingnya. Sebenarnya bukan hanya itu saja tujuannya, Marvin tidak ingin melihat Lisa terus berdekatan dengan Bimo, si kutu biawak itu.


Mendengar penuturan Marvin yang begitu tulus membuat Lisa menjadi terkesan, ia lalu tersenyum dan menunduk. Nampaknya lelaki ini memang tidak berbahaya dan jahat.


"Marvin ... memangnya di kantor kau sebagai apa? Kenapa kantor memberi fasilitas semewah ini?" Pertanyaan polos dari Lisa membuatnya menjadi pias seketika.


Tapi jika dia mengaku dia adalah cucu dari Wiratmadja, apakah Lisa tidak akan menjauhinya?


"Aku ... aku staf khusus. Ya, staf khusus disana. Oh ... kita sudah sampai, kita sarapan disini saja, ya?" tanya Marvin seraya menghentikan mobilnya di halaman salah satu restoran yang berada tidak jauh dari gedung Globalindo.


Elisa melihat sekeliling dan menganggukkan kepalanya. Lalu turun tanpa menunggu Marvin membukakan pintu untuknya.


Tapi, entah bagaimana ceritanya. Saat Lisa turun dari mobil, Marvin langsung menyambut dan menggenggam tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam restoran.


Elisa yang mendapat perlakuan tersebut menjadi grogi karenanya. Ia ingin menarik tangannya, tapi genggaman Marvin cukup erat juga rasanya.


Tak dipungkiri, ada desiran aneh di dalam dadanya. Rasanya hangat namun ada sedikit nyeri disana.


Bukan apa-apa, dibandingkan dengan lelaki-kelaki yang pernah mendekatinya, Marvin adalah orang yang paling agresif dan antusias. Pria ini juga memperlakukannya dengan terlalu manis.


Elisa hanya tidak ingin menelan kekecewaan yang lebih menyakitkan saat lelaki ini akan memandangnya dengan jijik suatu saat nanti.


"Duduklah Lisa!" Marvin juga menarikkan kursi untuknya.


"Terimakasih, Marvin." Lisa tersenyum. Andai saja ia bisa mengumpulkan bukti dan membungkam publik yang selama ini memandang rendah dirinya. Tentu ia tidak akan merasa se-khawatir ini saat mendapat teman baru.


"Lisa? Kau kenapa?" tanya Marvin heran, karena sejak tadi Lisa terlihat diam saja.


"Tidak apa-apa. Baiklah aku akan pesan makanan. Aku ingin roti panggang dengan segelas cappucino panas," ujarnya.


"Baiklah, aku ikut denganmu." Marvin lalu menutup buku menunya dan menyerahkan pada pelayan.