Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Pertemuan 3



Lisa menghela napasnya untuk mengurangi rasa yang terasa tak nyaman dihatinya.


"Marvin, kenapa kau harus menjelaskan seperti itu padaku?" tanyanya lagi seraya menaikkan kedua alisnya.


"Aku ... aku takut kau marah dan menghindari ku lagi," ujar Marvin dengan jujur.


Lisa tersenyum, tapi entah kenapa jantung Marvin justru terasa tidak bisa terkontrol saat menangkap senyum itu.


"Untuk apa? Ya, kau memang benar. Kau tidak sepenuhnya berbohong. Tapi taukah kau? Aku merasa sedikit dibodohi," jawab Lisa seraya menunduk.


Mungkin benar kata orang, sedikit khawatir dan takut akan membuat seseorang bisa melakukan apapun diluar kemauannya. Begitu pula Marvin, ia meraih kedua tangan Lisa tanpa sungkan.


"Lisa, maafkan aku. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat sebagai orang biasa, bukan sebagai Presdir. Kumohon maafkan aku!" sesal Marvin.


"Sudahlah Marvin, tidak perlu kau pikirkan. Tidak masalah siapa sebenarnya dirimu. Bukankah kita memang hanya berteman?"


Lisa terlihat tersenyum, dia tidak marah. Tapi kenapa Marvin justru merasakan ada sebuah benda yang terasa menyayat bagian dalam dadanya saat mendengar kata-kata hanya teman, yang baru saja terucap dengan ringan dari bibir lawan bicaranya.


"Jika begitu, kita masih tetap bisa berteman dekat, bukan?" Marvin mulai gelisah.


"Ya," Lisa mengangguk.


"Ehem ... jadi Kak Marvin dan Kak Lisa sudah saling kenal?" tanya seseorang yang membuat Lisa dan Marvin menjadi pias seketika karenanya.


Keduanya lalu menoleh ke arah sumber suara, yang disana tak lain dan bukan adalah Luisa. Gadis itu sedang meletakkan kedua tangannya dibawah dagu. Seperti sedang menonton pertunjukan drama romantis. Luisa bahkan tersenyum-senyum karenanya. Cukup puas juga dia mendengar dan melihat adegan antara dua orang dewasa itu.


"Luisa?" Marvin dan Lisa mengucapkannya seraya bersamaan.


"Iya, Luisa disini, Kakak." Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya dengan gaya imutnya.


"Sejak kapan kau disitu?" tanya Marvin menginterogasi adiknya yang duduk di pojok.


"Ya, sejak tadi, Kak," jawabnya enteng.


"Sudah pergi sana! Anggap saja kau tidak mendengar apapun tadi," usir Marvin. Membuat adiknya mencebik dan akhirnya melenggang dari sana dengan kesal.


Awas saja ya, kalau suatu saat butuh bantuan ku! Gerutu Luisa.


"Kau, apa kau mengenal Luisa?" tanya Marvin hati-hati.


Lisa tersenyum, "Aku pernah tidak sengaja melihatnya sedang akan menyeberang jalan di depan gedung kantor milikmu, tapi dia tidak sadar jika dari arah samping ada mobil yang sedang melaju kencang. Aku jadi reflek menariknya ke tepi," terangnya.


Namun wajahnya dengan cepat menjadi berubah saat mengingat adiknya mengatakan jika dia punya teman baru.


Itu berarti teman baru Luisa adalah Elisa.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Melalui Luisa ia bisa membuat hubungannya dengan Lisa menjadi lebih dekat lagi. Ya, tidak sia-sia juga dia punya adik.


"Elisa, ajaklah tamu kita menyusul yang lainnya! Makan malam sudah siap semua," ujar Stevi yang baru saja datang.


Ia memasang wajahnya yang paling manis meski hatinya begitu panas melihat adiknya nampak akrab dengan lelaki yang datang bersama keluarga besarnya tadi.


"Tuan Marvin, silahkan! Hidangan sudah siap, begitu juga semua orang," tambahnya diiringi senyum manis menggoda.


"Terimakasih. Lisa, ayo!" ajaknya seraya mengulurkan tangannya ke arah Lisa.


Melihat hal itu dada Stevi semakin terasa sesak dan panas sekali. Ini bukan kali pertamanya ia merasakannya. Hampir setiap orang yang pernah datang dan berkenalan dengannya serta Lisa, semuanya lebih memilih Lisa. Semua orang pasti di awal langsung jatuh hati melihat Lisa. Padahal secara penampilan, ia jelas tidak kalah dengan adiknya.


Terkadang ia heran, hal menarik apa yang ada di dalam diri Lisa hingga semua orang bisa dengan mudah jatuh hati padanya. Bahkan Boby sekalipun. Lelaki itu juga begitu terobsesi akan adik perempuannya itu.


Sepeninggal Marvin dan Lisa dari ruangan itu, ia pun menelepon lelaki itu.


Stevi menekan nomornya dan menunggu hingga telepon itu tersambung seraya menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo!" sapanya tidak sabar.


"Ya, Stevi? Ada apa?" tanya orang diseberang sana.


"Kau seharusnya datang ke rumah malam ini. Apa kau melupakan undangan dari Papa?"


"Tidak juga, aku mengingatnya. Hanya saja aku tidak ingin datang," ujar Boby dengan enteng.


"Harusnya kau datang, Boby! Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," pancing Stevi.


"Tentang apa?"


"Lisa. Kau masih menginginkannya bukan?" tanya Stevi diiringi seringai licik di sudut bibirnya.


Mendengar hal itu, Boby lalu terdiam dan sedikit menimbang-nimbang.