Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Bimo



"Aku tidak mau tahu, Ken. Kau harus kejar dia sampai dapat. Aku tidak akan mengampuninya. Beraninya dia membuat Elisa ku bersedih seperti ini."


Siapa orangnya? Jika ketemu akan ku patahkan tulang-tulangnya.


"Saya pastikan tim akan menemukan keberadaannya kurang dari dua puluh empat jam, Tuan." Ken mengatakannya dengan penuh keyakinan.


Ia tahu betul jika Gary serta anak buah yang lain bisa diandalkan. Apalagi hanya mencari seorang Bimo. Urusan yang sangat kecil bagi mereka.


"Ku pegang ucapan mu, Ken. Jika tidak kau temukan dia, aku pun akan memberi hukuman padamu!"


Kenapa jadi aku yang kena? batin Ken. Ia menundukkan kepalanya.


"Baik, Tuan."


Ken lalu undur diri dari sana, ia masih harus memantau Gary dan yang lainnya. Selain itu juga masih banyak pekerjaannya yang lainnya. Mengurus perusahaan besar bukanlah hal yang mudah. Apalagi sebesar Globalindo.


Selama tuan mudanya mengambil libur untuk menikmati masa-masa pengantin barunya. Dialah yang berkuasa untuk mengambil segala keputusan di perusahaan. Tentunya dengan berdiskusi bersama ayahnya.


Sementara itu disisi yang lainnya, Gary dan anak buahnya sedang menuju ke lokasi tempat dimana Bimo tinggal.


Berdasarkan dari data diri yang tersimpan di perusahaan, lelaki itu tinggal di pinggiran Kota J. Sebuah tempat yang Gary ketahui adalah kawasan yang cukup kumuh karena minimnya pengelolaan di daerah tersebut.


Tim membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menjangkau daerah tersebut. Mobil mereka berhenti di depan gang sempit.


Setiap orang yang melihat kedatangan mereka langsung mengernyitkan dahinya. Bagaimana tidak, pakaian mereka serba hitam, rapi dan juga tidak biasa dimata mereka.


Mungkin mereka menganggap yang mereka lihat adalah pegawai pemerintahan yang akan melakukan survei di daerah tersebut guna perkembangan rencana pembangunan daerah tersebut. Padahal bukan sama sekali.


Gary yang berjalan paling depan menghampiri salah seorang dari mereka.


"Permisi, apa Bapak tahu alamat ini?" tanyanya seraya menunjukkan sebuah catatan alamat padanya.


"Tahu, saya tahu, Mas. Mas lurus saja, nanti ditempat paling ujung sana ada toko kelontong. Nah rumah ini dibelakangnya toko tersebut, catnya berwarna hijau." Seorang pria paruh baya menjelaskannya dengan sopan.


"Terimakasih," ucap Gary sopan, lalu memberikan segepok uang padanya sebagai imbalan.


Sedang yang menerimanya justru melongo, bahkan tangannya bergetar saat Gary meraih dan meletakkan uang itu diatas telapak tangannya. Bisa dipastikan sendi serta tulang orang itu pun terasa lemas sekarang. Mungkin karena sebelumnya ia tidak pernah memegang uang sebanyak itu, atau mungkin juga karena terkejut dengan rezeki yang datangnya tiba-tiba seperti ini.


Lingkungan yang kumuh dan sangat padat membuat daerah itu minim udara segar. Aroma selokan yang kotor begitu lekat mengiringi langkah kaki para orang suruhan itu. Mereka rasanya ingin menutup hidung mereka rapat-rapat agar aroma tidak sedap itu tak masuk ke dalam pernapasan mereka.


Tapi herannya, penduduk sini seolah terbiasa dengan keadaan. Mereka beraktifitas seperti tanpa terganggu sama sekali dengan aroma yang menyeruak ini. Bahkan terlihat ada yang makan dengan lahapnya di teras rumahnya.


Semakin masuk kedalam untungnya aromanya semakin berkurang. Mereka sedikit bisa bernafas meski tidak lega sepenuhnya.


Gary berhenti di toko paling ujung yang dimaksud oleh orang tadi. Ia kembali menanyakan perihal alamat yang ia tuju pada pemilik toko itu sebelum langsung kesana. Ia juga bertanya-tanya terkait Bimo pada orang itu. Dan setelah semuanya jelas, dia pun langsung mendatangi rumah kecil yang terlihat cukup rapi dibelakang toko itu.


Gary mengetuk pintu perlahan hingga seseorang datang membukakannya. Terlihat di depannya seorang wanita yang rambutnya sudah banyak yang memutih. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun, mungkin juga lebih.


Meski cukup terkejut dengan kedatangan tamu yang penampilannya tidak biasa, namun wanita paruh baya itu dengan ramah mempersilahkannya masuk.


"Anda semua ini siapa ya, Nak?" tanyanya seraya membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot.


"Kami adalah temannya Bimo, Bu. Kami ingin sekali bertemu dengan Bimo, karena sudah lama sekali kami tidak bertemu dengannya." Gary mengulas senyumnya, begitupun anak buahnya.


"Oh, temannya Bimo? Tapi sayangnya Bimo tidak tinggal sama Ibu lagi. Dia sudah diterima kerja di ... di perusahaan apa gitu, Ibu lupa namanya. Nah sejak saat itu dia pamit buat ngekos di daerah dekat tempat kerjanya. Katanya biar dekat sama kantor, juga dekat sama pacarnya juga." Ibu yang Gary ketahui bernama Marni itu menjelaskan dengan ramah.


"Wah, jadi Bimo sudah punya pacar, Bu? Dia tidak pernah cerita sama kami. Kira-kira siapa gadis yang beruntung itu?" tanya Gary seolah benar-benar penasaran.


"Bimo memang seperti itu, Nak. Tidak suka membeberkan urusan pribadinya pada orang lain. Dia juga bilang supaya Ibu tidak ngasih tau siapa-siapa, hehehe. Tapi karena kalian adalah temannya, jadi Ibu kasih tau ke kalian, tapi kalian jangan bilang-bilang, ya?" pinta bu Marni.


Gary pun mengangguk antusias, seolah dia benar-benar sahabat anaknya.


"Sebentar, Ibu ambil dulu fotonya." Bu Marni berdiri dan berjalan ke kamar yang ada dibelakang tempatnya duduk tadi. Dan tak lama setelah itu ia kembali keluar sambil mengulas senyumnya.


"Ini ... lihat! Calon menantu Ibu cantik sekali, bukan?" Bu Marni menunjukkan sebuah foto pada Gary. Kemudian Gary mengambilnya dan menunjukkannya pada anak buahnya.


"Cantik, ya?" tanyanya meminta pendapat seraya tersenyum pada anak buahnya. Mereka pun juga tersenyum sambil mengangguk antusias.


"Bimo bilang namanya Elisa. Dia bilang secepatnya akan membawa pacarnya itu kemari, buat dikenalin sama Ibu. Ibu senang sekali, akhirnya anak Ibu sebentar lagi mau menikah." Bu Marni tersenyum dan terlihat berbinar matanya.


"Wah ... kami juga turut senang, Bu," balas Gary.


"Kalian tahu? Sangking cintanya sama pacarnya, Bimo sampai memenuhi dinding kamarnya dengan foto-foto Elisa." Bu Marni tersenyum senang menceritakannya.