
Aku tidak menyangka, jika harapan akan menjadi kenyataan seperti ini. Kini aku bisa menggenggam tanganmu dan sedikit lebih dekat lagi denganmu.
Aku berjanji Elisa, setelah ini aku akan mengikatkan tali suci yang akan mengikat hubungan kita menjadi hubungan yang sangat kuat.
Marvin tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan segala ekspresi yang ditunjukkan oleh kekasih yang baru saja ia dapatkan hatinya malam ini.
Sambil melihat pemandangan malam yang dihiasi gemerlap lampu di seluruh sudut kota, ia mengukirkan sebuah harapan yang begitu tinggi akan hubungannya dengan Lisa.
Hatinya begitu membuncah, setelah dipenuhi rasa sesak selama berhari-hari. Karena tidak dapat menggapai mentarinya.
"Ngapain sih, Kak? Senyum-senyum sendiri?" tanya Luisa yang sejak tadi mengamati kakaknya.
"Mau tau aja, dasar kepo!" jawab Marvin meledek.
"Oke, awas aja kalau suatu saat Kakak butuh bantuan. Jangan harap Luisa mau," ancam gadis kecil itu.
"Nggak akan! Kakak udah punya asisten," jawab Marvin ringan.
Setelah itu keduanya saling membuang muka masing-masing, membuat ayah dan ibunya terkekeh melihatnya. Ya, mereka berada satu mobil dengan ayah dan ibunya. Sedangkan oma nya berada di mobil lain bersama seorang sopir dan dua orang bodyguard.
"Oh ya Marvin, bagaimana? Apa kau tadi sudah mengenal salah satu dari putri paman Hanggara?" tanya Morgan santai.
Mendengar itu Marvin pun tersenyum. "Ya, Pi," jawabnya pendek namun terdengar penuh arti karena sorot mata pemuda itu begitu yakin.
"Cobalah untuk mengenal mereka atau salah satu dari mereka lebih dekat lagi, Nak. Mereka keluarga yang baik. Ya, meski masih banyak keluarga kaya yang lainnya juga. Tapi hubungan keluarga kita sudah sangat baik dengan keluarga paman Hanggara." Tersenyum pada putranya.
"Sudahlah, Pi. Jangan paksa putra kita. Biarkan saja dia memilih siapapun untuk menjadi pendampingnya nanti. Yang namanya perasaan, jelas tidak bisa dipaksakan." Eylina lalu melirik putranya.
"Mami benar. Tunggu saja, Marvin akan bawakan calon menantu terbaik untuk Mami dan Papi. Juga kakak ipar yang baik untuk Luisa," jawab Marvin mantab.
"Dari cara bicaramu, kau sepertinya sudah menetapkan pilihan, Nak?" Morgan terlihat sedikit menyelidik.
"Bener tuh, Pi. Kak Marv-" Baru saja akan bersuara tapi Marvin telah lebih dulu membungkam mulut adiknya dengan tangannya.
"Ada apa sih, kalian ini?" Eylina sampai menoleh ke belakang.
"Nggak ada, Mi. Biasa anak kecil ini senang sekali menyebarkan gosip." Marvin tersenyum pada kedua orang tuanya yang menatapnya dengan heran.
Eylina pun mengedihkan bahunya dan kembali menatap kedepan. Ia memandangi jalanan yang sudah banyak berubah sejak ditinggalkannya selama bertahun-tahun.
Meskipun ia dan suaminya juga sering berkunjung ke Indonesia tapi keadaan memang sudah menjadi lain. Saat beberapa tahun terakhir ia beserta suaminya tak lagi bisa menyempatkan waktu untuk sekedar singgah di kota ini.
Ia juga bahkan juga belum sempat untuk mengunjungi ibunya. Mungkin besok atau lusa, pikir Eylina.
"Pi, bisakah kita mampir ke rumah ibuku?" tanya Eylina kemudian. Meskipun hampir setiap hari ia menghubungi ibunya melalui panggilan video, tapi rasanya rindu yang ia tanggung selama beberapa tahun terakhir ini belum tercurahkan jua.
"Tidak masalah." Tersenyum teduh pada suaminya.
"Pak, kita mampir dulu ke rumah ibu!" pinta Morgan, yang langsung dijawab anggukkan kepala oleh orang yang berada dibelakang kemudi.
Mereka menempuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk sampai di kediaman yang dimaksud.
Eylina melihat lampu dalam rumah masih menyala. Rumah yang ditempati oleh ibunya dan juga keluarga dari adiknya ini, bukanlah rumah yang dulu diberikan oleh Morgan. Namun rumah ini adalah rumah yang dibangun dari hasil keuntungan penjualan kue yang dikumpulkan oleh Dara.
Rumahnya besar, ada dua orang penjaga yang berada di pintu gerbang. Yang membukakan gerbang untuk mereka tadi.
Eylina tahu usaha ibu dan adiknya telah berkembang sangat pesat dan sekarang sudah berubah menjadi pusat oleh-oleh di kota ini.
Pusat oleh-oleh yang berdiri diatas tanah seluas 1,5 hektare, yang berada di tengah-tengah kota. Yang kini memiliki ratusan karyawan.
Eylina tersenyum, ia bangga sekali rasanya melihat pencapaian ibu dan adiknya. Karena dalam hal ini, ia maupun suaminya tidak lagi memberikan bantuan berupa apapun karena ibu dan adiknya menolak hal itu.
Eylina menapakkan kakinya ke halaman rumah yang telah beberapa tahun lamanya tidak ia kunjungi, ia berjalan bersama suami dan anak-anaknya.
"Oma ada nggak ya, Mi?" Luisa bertanya dengan antusias. Ia juga rindu sekali dengan oma nya yang satu ini, lantaran segala tutur kata dan nasehatnya selalu meneduhkan hati.
"Kita lihat saja ya, Sayang. Akhirnya Mami dan kalian bisa mengunjunginya lagi sekarang." Eylina tersenyum hangat.
Eylina menekan bel pintu rumah itu dan menunggunya sejenak hingga seseorang yang sangat anggun membuka pintu tersebut dan ternganga.
"Kak Eylin!" seru Dara dengan haru, ia juga memandangi dua keponakannya yang juga tersenyum padanya.
"Marvin, Luisa. Kalian sudah sangat dewasa sekali sekarang. Tante kangen sekali sama kalian." Peluk Dara kemudian.
"Kami juga kangen sekali sama Tante Dara, oma dimana, Tante?" tanya Luisa.
"Ada, oma ada didalam. Ada di kamarnya, Tante baru saja mengantarkannya ke kamar. Kalian kesana lah!" perintah Dara.
"Ayo Kak masuk," ajak Dara pada Morgan dan Eylina.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam dan melepas rindu yang beberapa tahun terakhir membuat dada mereka sesak.
Dulu Eylina hampir setiap beberapa bulan sekali selalu mengunjungi ibu dan adiknya. Tapi karena urusan suaminya semakin banyak, akhirnya ia hanya bisa pasrah.
Dan sekarang, karena menyadari orang tua mereka semakin bertambah tua. Ia dan Morgan memutuskan untuk mempercayakan segala urusan yang ada diluar negeri pada anak-anak buahnya.
Kini suami dan anaknya kembali fokus di tanah air, dan menghabiskan masa tua disini nantinya.