
"Hey, kau belum mendengar aku akan mengatakan apa?" protes Lisa yang suaranya terdengar imut sekali ditelinga Marvin. Wajahnya juga lucu sekali, Marvin gemas sendiri melihatnya.
"Memangnya kau akan mengatakan apa?" tanya Marvin lembut seraya menatap semakin dalam kedalam mata Lisa. Membuat gadis itu jadi tidak bisa berkutik lagi.
Kenapa dia harus punya mata setajam ini sih? gumam Lisa seraya merem*s tangannya yang ada di pangkuannya. Ia sudah sangat salah tingkah saat ini. Wajahnya begitu merona, sungguh dia tidak pernah dibuat se-grogi ini sebelumnya.
"Tolong berhenti menatapku seperti itu!" protesnya malu-malu sambil melirik orang yang masih betah memandanginya tanpa berkedip.
"Kenapa? Apa kau tau, aku sangat gila karena memikirkan mu sepanjang hari, setiap saat, bahkan aku susah tidur karena terus memikirkan mu." Ucapan itu terlontar dengan mulus begitu saja. Sudah lama rasanya ia ingin mengatakan hal ini. Dan inilah keberuntungannya, akhirnya ia bisa mengatakannya.
"Marvin, kumohon hentikan! Aku ... aku takut jantungku benar-benar melompat keluar, nanti," ujar Lisa polos, yang langsung membuat lawan bicaranya terbahak karenanya.
Marvin sampai menggelengkan kepalanya, "Ada, ya ... gadis se-polos ini jika mengatakan sesuatu? Apa jantungmu begitu berdebar?"
Mendengar hal itu Lisa jadi malu sendiri, memangnya ada yang salah dengan ucapannya? Pikirnya. Sementara Marvin masih saja terbahak-bahak disampingnya.
Untuk beberapa saat mereka masih menikmati suasana masing-masing, hingga akhirnya keduanya sama-sama terdiam.
"Lisa, ku anggap ini adalah hari jadi kita. Aku akan mengatakan pada ayahku agar melamar mu untukku. Kau bersedia?" tanya Marvin serius seraya menggenggam tangan Lisa.
"Tapi ...."
"Lisa, kumohon jangan memberikan penolakan apapun. Kau tenang saja, semuanya biar aku yang mengurusnya. Kau cukup menunggu dan mempercayakan semuanya padaku," tegas Marvin dengan tatapan penuh arti.
"Baiklah," lirih Lisa dengan pasrah.
Lisa, aku tidak tahu kenapa aku sangat mengkhawatirkan mu. Aku merasa ada orang yang ingin menyakitimu, tapi aku belum bisa memastikan apapun. Jadi maafkan aku jika aku tidak memberimu kesempatan untuk berfikir atau mempertimbangkan semua ini. Aku hanya ingin selalu berada disamping mu saat ini dan selamanya.
Marvin memandangi wajah Lisa yang tertunduk. Ia merasa egois, tapi tidak tahu kenapa ia merasa harus melakukan ini. Rasanya ia tidak ingin jauh dari Lisa nya.
Sementara disisi lain, seorang gadis yang tidak kalah cantiknya dengan Lisa sedang terlihat sangat tidak menyukai kebersamaan antara dua orang yang sedang duduk di bangku dekat kolam itu.
Ia menekan sebuah nomor di ponselnya dan menempelkan ponsel itu dekat telinganya.
Beberapa saat menunggu namun sepertinya tidak ada jawaban dari seberang sana.
Stevi tidak menyerah begitu saja, ia menelepon lagi hingga beberapa kali dan akhirnya terdengar suara dari seberang sana.
"Kenapa lama sekali?" gerutunya setelah mendengar sapaan dari orang diseberang.
"Aku sedang mengemudi," jawab pria itu dengan santai bahkan terdengar tidak bersemangat.
"Bukankah sudah kubilang juga, jika aku tidak bisa datang kesana?" balas seseorang itu.
"Kau bodoh, Boby. Kau telah melewatkan kesempatan mu. Sekarang Lisa sudah dekat dengan orang lain dan mereka sudah mengikat hubungan sekarang," katanya dengan suara yang di pelankan.
"Lalu?"
"Lalu? Jadi kau sudah tidak menginginkan Lisa?" tanya Stevi masih berusaha sabar meski dia sendiri sudah meradang sekarang.
"Jika kau sudah gila silahkan gila sendiri. Kau pikir aku tidak tahu siapa lelaki yang mendekati adikmu? Jika saja orang lain yang mendekatinya mungkin aku masih akan memperjuangkan egoku untuk mendapatkan kesucian adikmu, membuatnya hamil dan membuatnya tunduk padaku. Tapi Tuan Marvin bukanlah orang sembarangan, Stevi. Perusahaan ku bisa jadi sasarannya jika aku mengusiknya," tegas Boby.
Mendengar penuturan dari Boby, Stevi pun terdiam. Ia tidak menyangka jika Boby sudah lebih dulu tau jika lelaki itu adalah Marvin.
"Dasar tidak berguna! Baru begitu saja sudah menyerah," ejek Stevi kemudian.
"Jaga bicaramu! Tidak tahu balas budi! Jika selama ini aku tidak membantumu, bagaimana kau bisa se-maju ini sekarang?"
Setelah mengatakan hal itu Boby menutup teleponnya secara sepihak karena kesal sekali dengan perempuan ular itu.
Awalnya dia merasa Stevi bisa dimanfaatkan untuk melancarkan tujuannya dalam mendekati Lisa. Ketertarikan dan rasa penasarannya pada Lisa membuat Boby melakukan kerjasama dengan perempuan itu.
Tapi ternyata dia salah, perempuan itu justru lebih licik dari yang ia perkirakan. Pemikirannya juga jauh lebih tidak waras dibandingkan dengan dirinya.
Stevi menggenggam ponselnya dengan kuat karena merasa kekesalannya sudah berada di puncaknya. Terlebih lagi lelaki yang kali ini adalah Marvin. Sosok paling diinginkan oleh banyak wanita, termasuk dirinya.
"Ehem ... cie ... cie, ada yang baikan nih," celetuk seseorang yang sekaligus membuat Stevi ikut menoleh.
"Luisa? Ngapain disini?" tanya Marvin setelah mendapati adiknya tengah berada dibelakangnya.
"Nggak apa-apa, Luisa cuma disuruh Oma buat ngasih tau Kakak, kalau ini udah malam dan waktunya pulang," jawabnya tanpa dosa.
"Sebentar lagi."
"Kak Lisa, usir aja gih. Pasti Kak Lisa digombalin ya sama Kak Marvin?" tanya Luisa menyelidik.
"Luisa! Tidak sopan! Sudah pergi sana! Nanti sebentar lagi kakak nyusul," usir Marvin, yang sukses membuat adiknya pergi sana dengan segera.
"Lisa, aku pamit, ya? Jaga dirimu baik-baik. Sampai ketemu besok pagi. Aku akan menjemputmu," ujarnya seraya tersenyum teduh. Sementara Lisa hanya mengangguk saja. Ia sudah tersihir sepertinya, karena menolak juga akan percuma. Pada akhirnya Marvin selalu bisa membuatnya tak berkutik.