Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Niat Baik



Siang itu setelah menemani Lisa mengisi perut di sebuah restoran, Marvin langsung mengantarkannya pulang kerumah.


Beruntungnya Lisa sudah jauh lebih baik keadaannya, tidak lagi mual dan muntah seperti tadi.


Mobil yang dikemudikan Marvin berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman Hanggara, orang yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


Dua orang sekuriti dengan sigap membukakan gerbang untuk orang yang baru saja datang itu.


"Terimakasih, Pak." Marvin tersenyum pada dua orang itu, dan dibalas anggukan.


"Sayang, aku akan mengantarmu," ujar Marvin seraya melepaskan sabuk pengaman kekasihnya.


Elisa terkejut sehingga memundurkan wajahnya saat Marvin tiba-tiba mendekat. Ia tidak tahu jika lelaki itu hanya ingin membantunya melepaskan sabuk pengamannya.


"Kau kenapa?" tanya pria itu dengan hiasan senyum mempesona diwajahnya.


Marvin ingin sekali menggigit pipi itu, gemas sekali rasanya. Diperlakukan begini saja sudah salah tingkah seperti itu. Tapi justru hal ini yang membuatnya tidak bisa menghapus bayangan kekasihnya.


Pipi tomatnya, mata yang selalu berkedip dengan gemas saat grogi, dan wajah polosnya yang seperti seorang balita itu benar-benar membuat Marvin hampir selalu tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Ah ... tidak, tidak apa-apa. Aku hanya kaget saja," jawab Lisa dengan asal seraya mengalihkan pandangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Tapi kenapa pipimu merah? Kau grogi? Atau kau ingin aku melakukan sesuatu hal padamu?" goda Marvin dengan seringai nakalnya.


Lisa langsung meraba pipinya, malu sekali jika memang pipinya benar-benar bersemu merah. Sementara pria disampingnya justru terbahak melihat kepolosannya.


"Marvin!" Ingin sekali protes tapi bibirnya rasanya tidak bisa berkata apa-apa karena tatapan kekasihnya. Lisa hanya memukul bahu Marvin dengan pelan.


Bukannya mengaduh, pria itu justru semakin terbahak melihat wajah Lisa semakin memerah karena rasa grogi yang menyerang.


Jika kau seperti ini terus, aku semakin tidak sabar ingin menculik mu.


"Ya, sudah. Ayo turun!" ajaknya kemudian, ia lalu turun dan dengan sigap menjemput Lisa nya.


Mereka tidak memperdulikan jika dua orang yang masih berada di depan gerbang itu tersenyum-senyum melihat kemesraan antara sepasang kekasih itu. Mungkin mereka mengingat masa muda mereka bersama istri mereka.


"Apa papamu ada dirumah?" Marvin menoleh.


"Aku tidak tahu," jawab Lisa seraya mengedihkan bahunya.


Kini mereka berada di depan pintu, keduanya menarik napas panjang sebelum menekan bel yang ada dihadapan mereka. Seolah mereka akan memasuki ruangan penghakiman, keduanya merasa berdebar-debar.


Marvin menggenggam tangan Elisa, ia seperti menyalurkan sebuah kekuatan agar Lisa tidak perlu takut.


Tak lama bibi rumah ini pun membukakan pintu dan tersenyum menyambut nona mereka.


"Non Lisa, sudah pulang?" tanya bi Sum.


"Ada, Non. Bibi panggilkan ya?" Bi Sum lalu bergegas ke belakang.


Mungkin papa sedang minum teh bersama mama, batin Lisa. Ia lalu mengajak Marvin untuk masuk dan duduk diruang tamu sambil menunggu ayahnya datang.


Hingga beberapa saat berlalu dalam ketegangan, datanglah seorang berperawakan jangkung menyapa mereka. "Lisa? Tuan Marvin?" Hanggara tersenyum ramah.


"Paman!" Marvin berdiri dan menyalami calon mertuanya.


"Tuan Marvin, ada hal apakah yang membuat Tuan datang kemari?" tanya Hanggara setelah duduk di sofa.


"Saya hanya ingin menyampaikan jika nanti malam keluarga besar saya akan bertandang kemari, Paman. Ada hal penting yang ingin papi saya sampaikan pada Paman."


Marvin mengatakannya dengan lancar, ya meskipun sebenarnya ia sedikit grogi juga. Ini bukanlah urusan tentang bisnis, ia saat ini sedang berjuang untuk mendapat restu dari orang tua kekasihnya. Sebagai calon menantu, ia harus sopan, kan?


"Hal penting?"


Hanggara mengernyitkan dahinya, hal penting apakah yang membuat keluarga terhormat itu rela datang kerumahnya?


"Iya, Paman. Nanti biar papi saya saja yang menyampaikannya."


Percakapan mereka terhenti sejenak saat Maria membawakan minuman untuk tamu kehormatannya.


"Silahkan diminum dulu, Tuan," ujar Maria mempersilahkan.


"Terimakasih, tapi bisakah Paman dan Bibi tidak memanggilku dengan sebutan tuan? Tolong panggil nama saya saja!" pinta Marvin.


Yang benar saja, dia sebentar lagi akan menjadi menantu mereka, tapi mereka masih saja memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Maafkan kami, kami hanya sudah terbiasa saja." Maria tersenyum.


"Oh iya, Paman, Bibi! Marvin tidak bisa berlama-lama, Marvin pamit dulu!" Marvin menengok arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


Waktu sudah semakin sore, jika ia tidak segera berpamitan maka acara malam ini juga akan berjalan mundur.


"Diminum dulu, Tuan. Maksud Paman, nak Marvin." Hanggara juga sedikit grogi.


Tidak ingin membuat kecewa orang tua Lisa, Marvin pun meminum minuman dingin yang disajikan oleh calon mertuanya hingga habis.


"Kalau begitu, saya permisi dulu!" Marvin lalu berdiri dan menyalami kedua calon mertuanya. Ia juga melirik sekilas kearah Lisa seraya tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati dijalan, Nak."


Hanggara beserta istrinya dan juga Lisa ikut mengantarkan Marvin hingga ke depan gerbang.