
Pagi itu Marvin benar-benar membuat Elisa mati gaya karena tingkahnya. Bagaimana tidak, ada saja yang terlontar dari bibir lelaki itu. Hingga terkadang Elisa hanya bisa menghela nafas dan menggeleng tidak percaya melihat kelakuan suaminya.
Tetesan terakhir air yang keluar dari shower menandakan jika ritual mandi mereka telah selesai.
Tangan kekar Marvin menyambar handuk yang telah disediakan oleh pihak hotel. Ia lalu mengeringkan tubuhnya dan melilitkan benda itu ke tubuhnya.
Sementara Elisa, sambil sedikit menggigil ia menoleh kesana kemari guna mencari handuk yang lainnya.
Dimana handuk yang lain? gumamnya.
"Kau mencari apa?" Tangan Marvin yang menyentuh kulit punggungnya membuatnya sedikit terkejut.
"Dimana handuk yang lain?" tanya Elisa dengan bibir yang bergetar karena menahan hawa dingin yang sejak beberapa saat lalu telah menyerangnya.
Hahaha ... maafkan aku, sayang. Ini semua aku yang memintanya, agar kita bisa berbagi handuk ini berdua.
"Mungkin hotel ini memang menyediakan satu handuk saja untuk kita," jawab lelaki itu dengan asal.
"Hotel semewah ini? Tidak mungkin." Lisa mengerutkan dahinya.
"Sini! Kau kedinginan, bukan? Aku akan menghangatkan mu." Dengan tanpa beban Marvin melepaskan handuknya dan tidak merasa sungkan ataupun malu menampakkan segala bagian tubuhnya dihadapan istrinya.
Ia lalu mulai mengeringkan tubuh Elisa dan melilitkan handuk itu padanya. Lalu dengan perlahan tangan kekarnya mengangkat tubuh gadis itu.
"Marvin ... aku bisa berjalan sendiri, tolong turunkan aku!" pinta Lisa seraya menundukkan kepalanya. Rasanya ia tidak sanggup jika harus menatap mata penuh gelora yang ditunjukkan suaminya.
"Diam lah! Atau pagi ini akan menjadi lebih panjang dari semestinya. Dan satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan Marvin. Panggil lah dengan sebutan yang lebih manja, kau mengerti?"
Bagai sihir yang ditiupkan pada ubun-ubunnya, Lisa tak lagi membantah perkataan lelaki itu. Setelah mengangguk ia diam seribu bahasa seperti anak kecil yang baru saja menerima ancaman. Dan hal itu membuat lelaki bernama Marvin terkekeh dalam hatinya.
Ia senang sekali melihat ekspresi itu, sangat menggemaskan dimatanya.
Perlahan-lahan Marvin menurunkan istrinya diatas tempat tidur. Dan Entah sejak kapan, pakaian baru untuk mereka pagi ini sudah tersedia di dalam lemari hotel itu.
"Kau ingin berpakaian sendiri atau ku pakaikan pakaian ini padamu?" tanya Marvin dengan enteng seraya menoleh kearah istrinya.
Sementara wanita yang sedang ditanyai itu sedikit terkejut dan gelagapan. Ia tidak menyangka suaminya nakal sekali seperti ini.
"Aku ... tentu saja aku akan memakainya sendiri." Lisa segera bangkit dari tempatnya dan berjalan cepat kearah suaminya untuk mengambil pakaian yang ada ditangan lelaki itu.
Tapi apa yang didapatnya? Tubuhnya malah terperangkap kedalam pelukan erat suaminya. Entah apa yang harus ia lakukan, perlakuan Marvin benar-benar mengejutkannya setiap saat.
Bahkan kini lelaki itu semakin mengunci tubuhnya hingga tak bisa berkutik sama sekali, sementara wajahnya semakin mendekat dan membawa hawa hangat yang terhembus dari pernapasannya.
Elisa menggigit kecil bibirnya yang terasa dingin karena suhu udara kamar dan juga karena desiran aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Sedangkan tangannya terus menggenggam handuk yang melilit tubuhnya.
"Lepaskan bibirmu!" perintah Marvin dengan lembut. Aroma mint yang keluar dari bibirnya membuat Lisa memejamkan matanya.
Lelaki itu perlahan mulai menempelkan bibirnya pada Elisa. Mengecupnya perlahan sebelum akhirnya permainannya menjadi berubah lebih ekstrim.
Marvin kembali memulai sesuatu yang ia inginkan dari Elisa. Ini adalah hari-hari pertamanya menjadi pengantin. Ia juga telah cukup lama menahan hasrat yang kian lama kian menuntutnya.
Dan sekarang, Elisa sudah menjadi miliknya secara utuh. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Tidak ada lagi rasa sungkan ataupun perasaan takut dalam dirinya untuk menjelajahi gadis yang kini menjadi istrinya.
Pagi ini menjadi lebih sibuk bagi sepasang pengantin baru itu. Entah sudah berapa kali mereka mandi hari ini.
Pada akhirnya, mereka tidak punya tenaga lebih walau hanya untuk keluar dari kamar hotel itu dan hanya bisa memesan makanan melalui layanan room service.
******
Selamat membaca
Nthor tidak menjanjikan apa² lagi ya teman². Karena cerita mereka memang sudah selesai. Dan yang nthor update ini hanyalah bonus² part semata.