
"Mundur kalian!" perintah Stevi dengan matanya yang nampak berkilat terkena sorotan cahaya lampu. Rasa marah serta serangan panik membuatnya semakin tak bisa mengendalikan dirinya.
"Lepaskan Elisa! Katakan apa yang kau inginkan! Harta? Perusahaan? Apa? Katakan saja semuanya, aku akan berikan padamu, bahkan kau bisa mengambil semua hartaku, tapi tolong jangan sakiti Elisa." Marvin mencoba bernegosiasi dan melunakkan suaranya. Ia tahu, jika saat ini ia nekat merebut Elisa secara paksa maka justru hal itu akan semakin membahayakan gadis itu.
"Ku bilang jangan mendekat!" gertak Stevi yang seketika membuat Marvin juga terkejut dan memundurkan langkahnya.
Ia menatap wajah Elisa yang nampak kacau tapi tetap berusaha tenang. Mata Elisa seolah mengatakan jika ia masih baik-baik saja dan meminta Marvin sama-sama tenang.
Sementara Hanggara, sendi-sendi dan tulangnya terasa tidak berfungsi dengan baik melihat kejadian di depan matanya.
Satu anak gadisnya menjadi sandera dengan penampilan yang acak-acakan, berlinangan air mata serta sedikit tergores benda tajam dilehernya. Sedang yang satunya lagi, kini sudah menjelma menjadi seorang penjahat yang sangat kejam dan penuh ambisi.
Maria yang melihat suaminya tak lagi bisa menopang bobot tubuhnya sendiri pun langsung menghampiri dan ikut duduk dilantai sambil saling memberikan kekuatan.
"Stevi, kumohon! Kita bisa bicara baik-baik, bukan? Tidak perlu seperti ini. Kita akan menjadi sebuah keluarga sebentar lagi. Jadi, mari ulurkan tanganmu dan lepaskan Elisa! Kita bisa bicara baik-baik sekarang! Kau bisa mengatakan semuanya padaku, ayo ikutlah bersamaku!"
Marvin mencoba berbicara setenang mungkin dan mengulurkan tangannya seraya tersenyum lembut.
Ia berharap agar cara ini bisa sedikit membuat Stevi melunak dan melepaskan Elisa dengan sukarela tanpa melukai calon istrinya itu.
"Tidak! Aku tidak percaya padamu! Cepat mundur!" bentaknya seraya menodongkan pisau ke arah Marvin.
Dengan secepat kilat, seseorang datang dari arah belakang Stevi dan menendang tangan gadis itu dengan keras hingga pisau yang dibawanya terpelanting keatas. Antara sakit dan terkejut, gadis itu menoleh kebelakang dan tanpa sadar melepaskan Elisa.
Melihat hal itu, Marvin pun melangkah dengan cepat dan menarik calon istrinya kedalam pelukannya dan membawanya sedikit menjauh dari kakaknya.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas, dan hanya dibalas senyum serta anggukan kepala oleh Lisa. Menunjukkan jika keadaannya tidaklah buruk.
Sementara Ken, ia dengan sigap membekuk gadis itu dan melipat kedua tangannya kebelakang serta memeganginya dengan kuat.
"Lepaskan aku!" gertaknya seraya melirik Ken dengan mata yang dipenuhi oleh amarah. Napasnya terdengar sangat memburu, hingga dadanya terlihat mengembang dan mengempis dengan cepat. Gadis itu masih berusaha meloloskan diri dari genggaman sekertaris Ken.
"Jangan banyak bicara, Nona!" Ken menggertak balik gadis itu dengan suara tak kalah kencangnya.
"Gary, bawa dua wanita itu kemari!" lanjutnya memerintah orang yang tadi datang tepat waktu dan menendang tangan Stevi.
Dengan menjawab cukup dengan anggukan kepala, Gary kemudian berlalu dari sana dan kembali bersama dua orang wanita yang ia bawa dari Kota B.
Semua orang ternganga melihatnya, kecuali Ken dan Marvin yang memang sudah mengetahuinya.
"Stevi? Kenapa ada dua Stevi disini?" Hanggara bersuara untuk menuntaskan rasa penasarannya. Ia lalu berdiri bersama istrinya dan menghampiri gadis yang dibawa oleh Gary.
"Nak Marvin, ada apa ini sebenarnya?" Lelaki paruh baya itu lalu menoleh pada Marvin yang masih mendekap erat putri keduanya.
Lalu seseorang diantara dua wanita itu menghampiri Hanggara. Wajahnya sangat terlihat pucat dan seperti tidak sehat. Namun dari sorot matanya bisa terlihat jelas jika ada sebuah penyesalan yang begitu dalam disana.
"Dimas, Dimas Hanggara. Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan bibir yang terlihat bergetar.
"Siapa kau?" Hanggara mencoba menelisik. Ia sama sekali tidak mengenali wanita itu, tapi bagaimana wanita itu bisa tahu namanya, bahkan menanyakan kabarnya saat ini.
"Kau tidak mengingatku? Wajahku mungkin sangat banyak berubah karena usia dan penyakitku, tapi rasa sesal di dalam diriku tidak bisa hilang sedikitpun, Dimas." Wanita itu mulai menitikkan air mata dihadapan Hanggara. Ia bahkan tidak berani walau hanya bertatap mata dengan pria itu.
Sementara Hanggara masih menggelengkan kepalanya dan tidak mengerti apa yang sedang wanita itu bicarakan.
"Katakan dengan jelas! Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan. Bangunlah! Jangan bersimpuh di hadapanku karena aku tidak tahu siapa dirimu dan apa yang kau bicarakan aku juga tidak tahu."
Wanita itu lalu bangun dengan dibantu oleh Gary. Ia dengan matanya yang sudah berlinangan air mata mulai memberanikan diri menatap lawan bicaranya.
"Aku adalah Sovia, putri dari Soraya dan Jordan, kakakmu dari ibu yang berbeda. Apa kau masih ingat?"
Rasanya tidak percaya, bukankah dulu wanita ini dikabarkan meninggal? Lalu bagaimana dia bisa berdiri disini sekarang?
"Tidak, itu tidak mungkin. Sovia sudah lama meninggal, bahkan ketika aku masih remaja. Jangan mengarang cerita!"
"Semua itu tidak benar, Dimas. Sovia masih hidup, aku masih hidup sampai sekarang. Mama sengaja menyembunyikan ku setelah mama tahu jika ibumu telah meninggal saat itu. Mama tidak ingin aku menanggung kesalahan, oleh karena itulah mama menyembunyikan ku ditempat yang sangat jauh dari kota." Sambil mengingat kejadian demi kejadian dimasa lalu, Sovia kembali menitikkan air mata penyesalannya.
"Apa maksudmu?"
"Ibumu bukan meninggal karena kecelakaan. Tapi akulah yang telah membuatnya celaka. Aku adalah pelakunya, Dimas." Tak sanggup melanjutkan kalimatnya, Sovia pun menghentikan sejenak ucapannya.
"Apa kau bilang?" Hanggara benar-benar terkejut dengan pengakuan kakaknya. Ia bahkan sampai mengguncang bahu Sovia yang sudah terlihat ringkih tak berdaya.
Sementara wanita itu, ia hanya mengangguk sambil terus meneteskan air matanya.
"Ya, akulah pelakunya. Aku dan mama sangat tidak menyukai kehadiran kalian ditengah-tengah keluarga kami. Karena papa lebih menyayangi ibumu daripada mama. Karena hal itulah aku dan mama nekat merencanakan semua itu."
Hanggara menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika mama Soraya dan anaknya akan tega berbuat sekeji itu pada ibunya.
Ia lalu duduk di bangku yang baru saja diambilkan oleh salah satu anak buah calon menantunya. Hanggara memijit pelipisnya yang terasa berdenyut dan kembali menatap wanita yang ada dihadapannya.
"Lalu, siapa gadis yang bersamamu itu? Kenapa wajahnya bisa sama persis seperti Stevi, putriku?"
Sovia tertunduk dalam, ia sedikit ragu akan mengatakannya atau tidak. Tapi mengelak pun juga tidak akan ada gunanya, ia juga tidak tahu akankah ia masih memiliki kesempatan lain selain sekarang.
Setengah dari beban dihatinya sudah ia ungkapkan barusan, tinggal setengahnya lagi. Setelah ini ia bisa tenang menikmati sisa hidupnya, atau bahkan bisa pergi ke hadapan sang pencipta dengan perasaan yang damai.