Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Hari Yang di Tunggu (Part 1)



Satu Minggu telah berlalu sejak acara lamaran yang dilakukan secara sederhana dan dadakan malam itu. Selama satu minggu ini juga, berbagai persiapan telah dilakukan dengan sangat matang oleh para orang-orang kepercayaan keluarga Wiratmadja.


Gedung dan semua dekorasinya telah rampung dikerjakan tepat waktu. Undangan juga telah disebarkan. Pakaian pengantin rancangan Emily, bibi dari Marvin telah siap sempurna. Sengaja bibi cantik kesayangannya datang membawa koleksi gaun pengantin terbaiknya dari negara dimana dia tinggal.


Hari ini, adalah hari paling ditunggu oleh dua pihak keluarga mempelai pengantin. Sejak tadi pula cuaca nampak sangat cerah, langit begitu biru seolah ikut mengharu biru atas datangnya hari yang paling dinantikan oleh kedua calon pengantin.


Marvin telah bersiap-siap di kamarnya dengan dibantu oleh Ken dan juga anak buah paman Willy. Ia terlihat tampan dengan setelan pakaian pengantin berwarna putih. Tubuhnya yang tinggi, tegap dan kekar bak seorang model serta paras tampannya membuat penampilannya nyaris sempurna.


"Sempurna! Elisa pasti terkesan melihatku setampan ini," ujarnya dengan penuh percaya diri dan kebanggaan.


Sementara sekertarisnya hanya mencebik mendengarnya. Muak? Bukan! Ia hanya sedikit geli akan kepercayaan diri dari tuannya yang sedikit melampaui batas.


"Bagaimana, Ken? Kau pasti merasa iri denganku, kan?" Dengan bangga Marvin tersenyum lebar seraya menatap cermin besar yang ada dikamarnya.


"Tuan memang terlahir tampan dan mempesona. Kaya raya dan memiliki tahta. Tidak ada orang yang bisa menyangkalnya termasuk saya, meskipun sebenarnya saya menginginkannya." Ken berkata tanpa ekspresi.


"Apa maksudmu?" Mata Marvin melotot seketika kearah sekertarisnya.


"Tidak bermaksud apa-apa, Tuan." Sebenarnya Ken ingin sekali mengatakan jika pemuda dihadapannya bukanlah satu-satunya orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan melimpah. Tapi apa daya, bicara juga percuma. Lelaki itu mana mau dibandingkan.


"Oh ya, mobil yang menjemput calon istriku bagaimana?" tanya Marvin, ia sengaja menyuruh orang untuk memastikan keamanan calon istrinya.


"Tuan Hanggara menolaknya, Tuan. Beliau bilang, ingin mengantarkan sendiri putrinya yang akan dilepaskannya hari ini."


Ada sedikit kekecewaan di wajah Marvin. Sebenarnya bukan hanya rasa kecewa, tapi lebih kepada khawatir dan takut. Ia sangat berharap agar hari ini berjalan lancar tanpa halangan.


"Ya sudah kalau begitu." Suara Marvin terdengar sangat lirih.


"Tuan, ada sedikit kabar gembira. Saat ini hubungan nona Elisa dan kedua orang tuanya berangsur-angsur membaik sejak Tuan melamar nona Elisa malam itu."


"Oh ya?" Marvin terlihat kembali bersemangat setelah mendengarnya.


"Benar, Tuan." Ken mengangguk dengan mantap.


"Baguslah! Aku senang sekali mendengarnya. Setelah ini akan ku pastikan tidak akan ada lagi orang yang akan memandang Lisa sebelah mata." Marvin berbalik dan menatap sekertarisnya dengan penuh makna.


"Mmm ... lalu bagaimana dengan Gary?" lanjutnya bertanya.


"Bagus! Kerja yang sangat bagus, Ken." Marvin tersenyum puas atas kerja keras dari anak buahnya. Ia sangat berharap akan bisa mengungkap siapa Stevi sebenarnya. Agar wanita ular itu tidak lagi memiliki tempat dan ruang di manapun ia berada.


Untuk sesaat dua orang itu terdiam, sementara anak buah Willy tengah merapikan barang-barang bawaannya.


Tok ... tok ...tok!


Terdengar pintu kamar Marvin diketuk dari luar. Ken segera membukanya.


"Ken, apa Marvin sudah siap?" tanya wanita paruh baya berparas cantik yang tak lain adalah ibu dari calon pengantin pria.


"Sudah, Bibi." Ken mengulas senyum ramahnya.


"Mami? Ada apa, Mi?" Yang baru saja dibicarakan pun datang.


"Ayo, Nak! Waktu kita tidak banyak lagi." Eylina mengingatkan.


"Baiklah, Marvin sudah siap." Lelaki itu lalu merangkul mami tercintanya.


Semua mobil sudah disiapkan dihalaman. Keluarga besar ini saat ini tengah lengkap, dua orang putri Wiratmadja bersama suami dan anak-anak mereka pun turut hadir untuk menyaksikan hari bahagia ini. Menjadi saksi atas bersatunya dua insan yang saling mencintai, yang akan saling terikat janji suci di hadapan para saksi.


Setelah semua orang masuk ke dalam mobil masing-masing, para pengemudi dan juga para bodyguard juga ikut masuk kedalam mobil khusus untuk mereka.


Beberapa mobil mengawal di depan dan beberapa lain mengawal dibelakang. Rombongan itu menyusuri jalanan menuju gedung mewah yang telah disiapkan untuk acara hari ini.


Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai kesana. Di sana kedatangan mereka disambut oleh orang-orang khusus yang sengaja disiapkan oleh Rey, Ken serta anak buah mereka.


Para pentolan dan juga anak buah The Lion gen 2 juga telah disebar diberbagai titik untuk mengamankan acara khidmad hari ini.


Semua keluarga kini sedang berada di ruang tunggu yang telah disiapkan dengan segala fasilitasnya. Sebagai sang empunya hajat, mereka tentu harus datang lebih awal dari pada tamu mereka, bukan?


Acara yang tertulis di undangan adalah pukul 16.00 WIB, dan sekarang waktu masih pukul 15.00 WIB.


Berulang kali Marvin menengok arloji ditangannya. Ia sedikit berdebar, gugup dan juga cemas. Tapi sayangnya ia tidak diperbolehkan menghubungi Elisa. Hal ini sudah berlaku sejak acara lamaran itu usai.