Become The Billionaire'S Wife

Become The Billionaire'S Wife
Keputusan Marvin dan Elisa



Semua orang yang ada disana turut prihatin atas apa yang yang menimpa Hanggara. Suasana pun menjadi hening untuk beberapa saat dan hanya terdengar isak tangis yang terus bersahutan di dalam bangunan itu.


"Lalu dimana makam putriku?" lirih Hanggara seraya berusaha mengusap buliran bening yang tadi membasahi wajahnya. Dengan tatapan nanar ia menatap Sovia yang masih sibuk menyeka air matanya di dalam pelukan putrinya.


"Aku memakamkannya di Kota B. Jika kau ingin kesana, aku bisa mengantarmu," jawab Sovia dengan suaranya yang terputus-putus karena menangis sesenggukan sejak tadi.


"Baiklah, tapi tidak untuk saat ini. Gary, tolong tahan dan amankan dua wanita ini dan juga gadis itu." Hanggara menunjuk ke arah Stevi dengan tatapan mata yang susah dipahami.


Ini tentu sangat sulit baginya, mengingat ia sangat menyayangi Stevi selama ini. Mengira gadis itu adalah putri kandungnya yang sangat manis dan bisa dibanggakan. Tidak pernah terpikir sekalipun olehnya akan ada kenyataan sepahit ini.


Melepaskan gadis itu begitu saja sungguh tidak mudah. Tapi mengingat apa yang baru saja disaksikan oleh matanya dan apa yang baru saja didengar oleh kedua telinganya, membuat Hanggara menjadi tersadar.


"Amankan gadis yang baru saja mencelakai putriku itu, Gary!" titahnya tanpa menoleh lagi pada Stevi. Hatinya sakit sekali, kebersamaan yang selama ini terasa indah, kini harus segera diakhiri.


"Pa, tidak! Bagaimana Papa bisa mempercayai ucapan wanita itu begitu saja? Di dunia ini ada banyak orang yang berwajah mirip. Bisa jadi mereka hanya ingin mengambil kesempatan dari kita dengan memanfaatkan kemiripan wajah kami, Pa." Stevi berusaha membela diri dan memberikan penjelasan yang masuk akal. Ia juga terlihat meronta ingin melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ken.


"Tutup mulutmu!"


Suara Hanggara yang keras membuat gadis itu tersentak dan sedikit menciut nyalinya. Selama hidupnya, ia tidak pernah dibentak seperti ini oleh orang yang selama ini ia panggil papa.


Tapi bukan Stevi namanya jika ia menyerah begitu saja. Gadis itu masih terus meronta dan memanggil papanya.


"Pa, Stevi anak Papa. Stevi darah daging Papa dan Mama. Stevi tidak kenal mereka, jadi bagaimana mungkin Stevi adalah anak wanita itu, Pa?"


Merasa ia akan kehilangan semua yang telah dimilikinya, Stevi terus berusaha meyakinkan papanya. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini, ia tidak ingin melepaskan kemewahan dan kenyamanan yang ia miliki selama ini.


"Cukup! Kami bukanlah orang tuamu. Tapi dialah orang tuamu. Jadi jangan berani sekalipun memanggilku dengan sebutan papa karena aku bukanlah papamu!"


Hanggara sama sekali tidak menoleh padanya. Ia lebih memilih menghampiri putrinya yang selama ini sudah ia sia-siakan. Dan mirisnya, putrinya hari ini akan melangsungkan pernikahannya. Itu artinya ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menebus waktu yang telah ia sia-siakan selama ini. Ia tidak akan memiliki waktu untuk makan bersama lagi, atau untuk sekedar bercengkerama dan bercanda ringan bersama Elisa, putrinya.


"Elisa, maafkan Papa, Nak."


Hanggara tak kuasa menahan buliran bening di matanya. Ia kembali tergugu dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Banyak sekali dosa yang telah ia perbuat, bahkan pernah berulang kali mengangkat tangan dan mendaratkannya di pipi anak gadisnya itu.


"Sudahlah, Pa. Semua sudah berlalu, tidak perlu disesali ataupun ditangisi lagi. Elisa baik-baik saja." Gadis itu tersenyum seraya menatap papanya.


"Papa ... papa selama ini sudah sangat keterlaluan padamu."


"Paman, maaf jika saya ikut berbicara. Kita bisa bicarakan hal ini dalam suasana yang lebih hangat dan lebih tenang, nanti. Paman, bibi dan Elisa butuh waktu untuk menenangkan diri, bukan? Sekarang bagaimana kalau kita pergi dari tempat ini. Papa dan yang lainnya pasti sedang menunggu dan mengkhawatirkan kita," usul Marvin.


Sambil menyeka air matanya yang masih tersisa, Hanggara hanya mampu menganggukkan kepalanya menuruti kata calon menantunya.


"Ya, kau benar, Nak. Oh ya, bukankah hari ini adalah hari pernikahan kalian. Kurasa belum terlalu terlambat jika pestanya tetap dilanjutkan." Hanggara tersenyum lebar.


"Saya juga berharap demikian, tapi bagaimana dengan Elisa?" Marvin melirik gadis yang sejak tadi berada di sampingnya. Meski ia sangat ingin acara pernikahannya dilanjutkan, tapi ia tidak ingin egois sehingga tidak memberikan waktu bagi Elisa untuk lebih tenang.


Namun reaksi Elisa justru membuat calon suaminya tersenyum.


"Jika memang masih bisa dilanjutkan, kenapa harus ditunda?" ujarnya seraya tersenyum.


"Kau yakin?"


Terlihat binar bahagia dari sorot mata Marvin saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh calon istrinya.


"Tentu," jawab Elisa yakin.


"Baiklah, kalian semua mendengarnya, bukan? Kita kembali ke gedung pernikahan. Dan kau, Gary, serta kalian semua, urus ketiga wanita itu. Pastikan jangan sampai mereka lolos!" Marvin menunjuk para anak buah The Lion yang tadi ikut bersama mereka.