
Hari itu setelah dari rumah bu Marni, yang merupakan orang tua Bimo satu-satunya, Gary dan tim pun langsung meluncur ke alamat yang ia dapatkan dari wanita paruh baya itu.
Sebuah alamat yang rupanya justru berada tak jauh dari kawasan perumahan milik keluarga Hanggara, ayah dari Elisa.
Mobil hitam mulus itu melaju dengan sangat cepat, seolah sedang berkejaran dengan waktu. Bukan apa-apa, Gary hanya takut jika lelaki yang sedang menjadi buruannya itu akan melarikan diri.
Detik dan menit berlalu dengan lambat bagi mereka. Seolah enggan bergerak dan ingin berhenti begitu saja.
Seseorang yang bertugas mengemudikan mobil itu pun memperlambat laju kendaraannya saat sampai pada sebuah gang yang lumayan lebar. Ia lalu membawa mobil itu melesak kedalam gang tersebut.
Tapi tidak disangka, ternyata disini juga hanyalah perkampungan biasa. Terletak dibelakang perumahan elite tempat dimana Elisa tinggal. Sungguh kondisi yang sangat jelas berbeda.
"Stop!" Gary memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan laju mobilnya saat melihat sebuah bangunan dua lantai bertuliskan 'terima kos putra'.
Ia melihat nomor rumah yang ada di depan pagar dan mencocokkannya dengan alamat yang ia pegang.
"Tidak salah lagi, ini adalah tempat kos dimana lelaki itu tinggal. Kalian cepat ikuti aku!" perintahnya seraya membuka pintu mobil.
Ia menurunkan kakinya dan melihat keadaan sekitar. Mata Gary tak nampak seseorang yang melintas di gang tersebut.
Ia lalu menekan bel rumah yang ada di dalam pagar itu, dan beberapa saat kemudian seseorang terlihat berlari-lari menuju gerbang.
"Cari siapa ya, Mas?" tanya seseorang yang adalah penjaga kos tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan Bimo, apa disini ada anak kos yang bernama Bimo?" ujar Gary dengan ramah.
"Bimo?" Penjaga kos itu nampak sedang mengingat-ingat.
Lalu Gary menunjukkan foto lelaki yang dicarinya tersebut pada penjaga kos itu.
"Oh ... iya. Ada, Mas. Disini memang ada yang namanya Bimo. Iya, ini dia orangnya." Penjaga kos itu mengangguk melihat setelah melihat foto yang baru saja ditunjukkan oleh Gary.
"Apa saya bisa bertemu dengannya?" tanya Gary kemudian.
"Kalau orangnya ada sih bisa-bisa aja, Mas. Tapi sayangnya mas Bimo nya dari kemarin nggak terlihat sama sekali."
Sialan! Rupanya pembuat onar itu benar-benar kabur setelah membuat ulah.
"Maaf, Pak. Bolehkah saya minta ijin untuk masuk kedalam kamar Bimo?" tanya Gary sedikit ragu, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia tidak ingin membuang waktu lagi.
"Wah ... maaf sekali, Mas. Bukannya apa-apa, tapi yang namanya kamar adalah sebuah privasi seseorang. Semua yang kos disini berhak mendapatkan keamanan atas hal itu, jadi sekali lagi mohon maaf sekali jika saya tidak bisa mengijinkan Mas untuk masuk."
Gary menarik nafas panjang dan menggaruk keningnya. Sebenarnya ia tidak suka cara yang keras, tapi ini demi sebuah tugas yang di percayakan oleh tuan mudanya padanya. Jadi mau tidak mau ia kembali harus menggunakan jalur kekuasaan untuk memuluskan segalanya.
"Pak, saya adalah utusan dari seorang yang sangat berkuasa di kota ini bahkan di negeri ini. Saya tidak ingin berbasa-basi lagi, Bapak tentu tau berita yang beredar tadi pagi, bukan? Berita tentang istri dari tuan Marvin, pewaris perusahaan terbesar yang ada di Indonesia ini. Semua berita yang beredar itu adalah ulah dari anak kos yang tinggal disini, yang bernama Bimo. Jadi jika Bapak masih berniat melindungi penjahat, maka saya tidak bisa menjamin keamanan Bapak." Gary mengatakannya dengan ekspresi wajah datar, jauh sekali dari wajah ramah dan bersahabat yang ia tunjukkan tadi.
Mendengar hal itu, penjaga kos itupun tampak sedikit gugup dan takut. Siapa yang tidak tahu keluarga kondang yang sangat ditakuti dan dihormati itu. Bermain-main dengan keluarga itu sama saja dengan sudah bosan hidup. Begitulah rumor yang masyarakat luas dengar tentang keluarga tuan Wira.
"A-ayo, Mas. Mari saya antar masuk." Penjaga kos itu berkata dengan gugup lalu membuka pintu gerbangnya lebar-lebar dan mempersilahkan Gary beserta orang-orang yang bersamanya untuk masuk.
Gary mengikuti penjaga itu memasuki halaman dan berjalan menuju kamar yang berada paling ujung dan sedikit gelap.
"Ini dia kamarnya, Mas. Sebentar saya buka dulu," katanya seraya merogoh tas yang melingkar di pinggang kurusnya.
Butuh waktu beberapa saat untuk menemukan kunci kamar itu, lalu penjaga kos itu membuka pintu kamar milik pria bernama Bimo.
Kamarnya gelap, namun yang lebih mengejutkan mereka adalah aroma tidak sedap yang menyeruak seketika saat pintu itu terbuka.
Gary memasang wajah waspada, ia lalu menyalakan lampu kamar itu dan ternyata apa yang bu Marni bilang memang benar. Gary memenuhi kamarnya dengan foto-foto Elisa, tapi hal itu bukan hanya dirumah, melainkan di kamar kos juga.
Tapi yang paling mengganggu adalah bau busuk yang semakin menyengat. Ia lalu menoleh kearah kamar mandi yang tertutup rapat.
"Pak, apa Bapak juga mencium bau ini?" tanyanya.
"Iya, Mas. Bau apa ya ini?"
"Saya rasa dari arah kamar mandi," ujar Gary.
"Iya, biar saya periksa, Mas." Penjaga itu pun berjalan ke kamar mandi. Sementara Gary dan tim mengumpulkan banyak benda yang bisa ia tunjukkan pada sekertaris Ken dan tuan mudanya.
Kamar itu benar-benar tidak seperti kamar, karena banyak sekali coretan dan juga tempelan kertas. Yang semuanya adalah ungkapan cinta Bimo pada Elisa. Ada juga foto yang sengaja digunting-gunting dan di tempel ulang menjadi foto sepasang pengantin. Yakni foto Elisa dan Bimo.
Tapi yang paling membuat Gary geram adalah foto tuan mudanya yang dicoret-coret sedemikian rupa dan diberi tanda silang berwarna merah pada wajahnya.