
Hari itu juga Ken dan ayahnya mendatangi salah satu gedung saluran televisi nasional guna memberi peringatan keras pada semua pihak yang terkait atas pemberitaan hari ini.
Sementara itu di beberapa tempat lain para anak buahnya juga melakukan hal yang sama. Semua saluran televisi baik nasional maupun swasta di datangi oleh orang-orang suruhan keluarga Wiratmadja. Sudah tidak bisa dibayangkan lagi betapa mencekamnya hari itu bagi para seluruh kru yang bertugas di stasiun TV itu.
Para anak buah Ken mengusut tuntas sumber yang membeberkan hal ini kepada para wartawan hingga ditayangkan di beberapa acara infotainment pagi ini. Mereka menginterogasi semua orang yang terlibat dalam penayangan berita itu.
Dan dari hasil pengusutan itu, banyak sekali wartawan dan juga host yang diamankan oleh anak buah Ken dan ayahnya. Mereka semua kini tengah bersiap-siap untuk mendekam dibalik jeruji besi atas perbuatan mereka yang telah mencemarkan nama baik menantu keluarga besar tuan Wiratmadja yang baru resmi menikah semalam.
Di sebuah ruangan, waktu berjalan kian melambat bagi setiap orang yang mendapat gilirannya untuk diinterogasi. Bagi mereka ini lebih buruk dari datangnya sebuah kematian. Ya, berurusan dengan keluarga itu sama halnya dengan menyetorkan nyawa pada maut yang bisa datang menjemput mereka dengan sangat mengerikan. Tapi apalah daya, mereka semua hanyalah bekerja. Dan pemberitaan ini digadang-gadang akan bisa mendongkrak respon masyarakat terhadap acara mereka.
Namun pada akhirnya, inilah yang mereka dapatkan hari ini. Terjebak dalam situasi yang rumit bersama dengan orang-orang kepercayaan keluarga itu.
Tatapan tajam orang-orang berpakaian serba hitam dan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak bisa mereka hindari sangat membuat kerongkongan mereka terasa menyempit hingga membuat nafas mereka kian sesak.
Detik demi detik berlalu, titik terang kian nampak setelah orang suruhan Marvin mendapat jawaban-jawaban dari orang-orang yang mereka tanyai sejak tadi.
Mereka berhasil mengantongi satu nama khusus. Sebuah nama seseorang yang menjadi sumber berasalnya pemberitaan itu.
Setelah merasa cukup, para anak buah Ken pun menghentikan proses interogasi mereka dan membawa apa yang diinginkan oleh tuan mereka. Semua orang yang lolos dari catatan anak buah Ken kini bisa bernafas lega. Sementara yang lain masih memucat karena harus memikirkan nasib mereka setelah ini.
Hari ini mungkin akan menjadi sejarah baru dalam dunia infotainment. Melalui kejadian ini setidaknya mereka bisa mengambil pelajaran agar tidak sembarangan menayangkan sebuah berita yang bisa merugikan pihak lain.
*****
Sementara itu, masih di dalam hotel tempat mereka menginap. Elisa dan Marvin sedang menikmati secangkir teh sambil menghabiskan sore mereka yang romantis dengan pemandangan langit senja yang sudah mulai temaram.
Sebenarnya sejak tadi Marvin menawarkan pada istrinya untuk pulang ke kediamannya dan menemui keluarga besarnya. Tapi Elisa berkata bahwa dirinya belum siap.
"Marvin ... ponselmu menyala, kurasa ada seseorang yang sedang berusaha menelepon mu." Elisa menunjuk dengan ekor matanya.
Sesuai dengan yang ditunjuk oleh istrinya, Marvin pun memusatkan pandangannya pada benda pipih yang tergeletak diatas meja bundar yang ada disebelahnya.
Ia lalu menyambar benda itu dan langsung menggeser layarnya saat melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Ya, Ken. Ada kabar apa?" tanyanya tanpa basa-basi. Meski ia sejak tadi tersenyum di hadapan istrinya, namun amarah di dalam dadanya belum sepenuhnya mereda setelah melihat acara TV tadi pagi.
Ia penasaran, siapa orang yang berani membeberkan isu itu. Jika Stevi masih berkeliaran dengan bebas, ia bisa langsung tau jika ini adalah ulah gadis itu. Tapi kenyataannya saat ini gadis tidak waras itu bahkan sedang di kurung di dalam sebuah kamar rumah sakit jiwa dan dijaga ketat oleh orang-orang suruhannya.
Jangankan berinteraksi dengan orang luar, Stevi bahkan tidak diperbolehkan untuk dijenguk oleh siapapun. Termasuk saudara kembarnya, Aruna.
"Saya berada di loby hotel, Tuan."
"Oh ya? Lalu tunggu apa lagi? Kau ke kamarku sekarang!" perintah Marvin kemudian menutup teleponnya dan meletakkannya di tempatnya semula.
Lelaki itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sedikit kasar lalu menoleh pada seseorang yang duduk disebelahnya.
Wajah cantik dengan ekspresi polos itu menjadi hiburan tersendiri baginya. Selalu bisa membuat sudut bibirnya terangkat saat melihatnya.
"Tadi kudengar ada yang masih memanggilku dengan sebutan namaku," pancingnya.
"Jadi kau pura-pura lupa?" Marvin mengambil cangkir yang masih ada ditangan istrinya dan meletakkannya di meja. Tangannya lalu menarik bahu Elisa agar gadis itu bisa lebih mendekat padanya.
Setelah lebih dekat, ia memajukan wajahnya. Dan hal itu sukses membuat pipi istrinya bersemu merah dan sedikit memundurkan wajahnya. Sementara matanya yang terkejut itu sedikit melebar dan bibirnya tertutup rapat.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" tanya Marvin. Sesungguhnya ia gemas sekali dan ingin menggigit pipi yang semerah tomat itu.
"Kau ... kenapa memajukan wajahmu?" tanyanya balik, masih dengan ekspresi yang tak berubah. Wajahnya tegang seperti seorang gadis yang baru saja akan mendapat ciuman pertama dari kekasihnya.
"Aku? Ingin melakukan ini ... ini ... dan ini." Sambil berbicara Marvin memberi kecupan di bibir, hidung dan kening istrinya.
Sementara yang mendapat itu justru semakin mematung dan hanya menatapnya.
"Astaga ... apa kau segrogi ini?" Marvin lalu terbahak tanpa bisa ditahan sebelum akhirnya seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Ia lalu berdiri kemudian mengambil jasnya dan memberikannya pada istrinya. "Pakai ini! Aku tidak ingin si Ken melihat istriku yang menggoda ini."
Tanpa membantah, Elisa pun menuruti kemauan suaminya. Mengingat ia memang mengenakan gaun dengan bahu terbuka dan belahan dada yang sedikit turun. Jangan ditanya, itu memang pilihan Marvin sendiri. Tapi tentunya hal itu hanya untuk konsumsinya sendiri, tidak untuk umum. Bahkan Ken sekalipun.
"Masuk, Ken!" pintanya sesaat setelah membuka pintu.
Marvin mengajaknya ke balkon kamar yang disana masih ada istrinya yang cantik.
Dengan tanpa dosa, Marvin kembali duduk di kursinya dan merangkul istrinya dengan mesra. Seolah menunjukkan jika dia telah menang dari Ken, karena berhasil menikah lebih dulu.
"Apa yang kau bawa hari ini?" tanyanya kemudian.
"Nama seseorang, Tuan."
"Maksudmu? Apa dia yang telah berulah terhadap istriku?" Marvin mengernyitkan dahinya.
"Benar, Tuan."
"Siapa orang itu? Berani sekali dia bermain-main denganku." Belum mendengar nama pelakunya disebut, tapi rahang Marvin sudah mengeras karena geram.
"Bimo, Tuan."
"Apa? Siapa Bimo?" Marvin rupanya tidak ingat nama itu. Tapi Lisa, ia nampak berpikir. Mungkinkah Bimo yang itu?
"Bimo, pegawai yang beberapa waktu lalu baru saja mengundurkan diri dari perusahaan, Tuan," terang Ken.
Mendengar penuturan sekertaris suaminya, Elisa pun mengernyitkan dahinya. Ia tentu tidak menyangka jika Bimo bisa melakukan hal ini.
"Maksudmu si Kutu Biawak itu? Dasar gila! Apa tujuannya berbuat seperti ini?"
"Untuk hal itu, tim masih menyelidikinya, Tuan."