
Begitulah akhir dari kisah perjuangan mereka dalam menyatukan cinta tulus dan suci yang ada di dalam hati mereka.
Pada akhirnya, cinta akan selalu menemukan jalan baginya untuk mencari dan mewujudkan cita-cita cinta yang tulus dan juga suci.
Meski banyak hal telah mereka lalui, namun pada penghujung perjuangan mereka, Tuhan tetap memberikan jalannya agar cinta mereka bisa bersatu dalam sebuah ikatan yang kuat.
Semua hal baik pasti akan kembali baik pada raga dan hati yang senantiasa bersabar. Begitupun yang terjadi pada Elisa. Setelah tahun-tahun sulit yang menghiasi hidupnya berhasil dilewatinya, kini saatnya ia memetik kebahagiaan untuk seluruh sisa hidupnya.
Dicintai oleh orang yang benar-benar tulus, serta berada ditengah keluarga yang begitu hangat disepanjang hidupnya adalah berkah yang Lisa dapatkan dari buah kesabarannya.
Malam itu setelah pesta usai, mempelai pengantin tidak ikut pulang bersama keluarga besar mereka. Marvin sudah menyiapkan tempat bagi mereka untuk saling mencurahkan segala rasa yang begitu membuncah di dalam hati keduanya.
Kini keduanya sedang berada di balkon sebuah hotel dengan fasilitas terbaik di kota ini. Mereka menatap langit malam yang nampak begitu indah diterangi sinar bulan yang terang.
Menikmati kebersamaan dengan syahdu ditemani angin malam yang terasa membelai setiap inci bagian tubuh mereka.
"Aku berjanji padamu, bahwa aku akan menjadi suami yang baik serta ayah yang paling bertanggung jawab bagi anak-anak kita kelak," ujar Marvin seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya yang masih ramping. Ia juga mengusap lembut perut Elisa yang belum terlihat membuncit sama sekali.
"Oh ya? Aku akan memegang kata-katamu itu."
"Dan aku akan memegang dan menepati janjiku itu," jawab Marvin tepat dibelakang telinga Lisa. Ia juga memberi kecupan ringan disana.
Gadis itu menggeliat karena merasakan sensasi yang terasa menyengat dirinya. Sementara Marvin hanya terkekeh melihat reaksi istrinya.
"Aku sangat mencintaimu Elisa."
Begitulah kalimat terakhir diantara mereka berdua, sebelum akhirnya bibir mereka bersatu dalam sebuah kecupan lembut dan membawa mereka masuk kedalam sebuah hasrat yang tak lagi bisa ditahan oleh Marvin.
Hari ini dan seterusnya, hidup Marvin dan Elisa berjalan dengan sangat harmonis. Marvin benar-benar menepati janji yang telah dibuatnya.
Keluarga adalah prioritas yang utama baginya, berada diurutan teratas di dalam kamus Marvin.
Sementara Elisa, setelah hari pernikahan itu, hidupnya benar-benar diwarnai kebahagiaan yang tiada henti.
Semua keluarga Marvin menyayanginya dan memperlakukannya dengan baik. Di keluarga suaminya juga, ia mendapat kasih sayang orang tua yang selama ini tidak ia dapatkan dari orang tua kandungnya.
Di sisi lain, Stevi juga menerima karmanya. Ia dirawat di salah satu rumah sakit jiwa dan juga dijaga ketat oleh orang-orang suruhan Marvin. Pemuda itu sekalipun tidak ingin memberikan celah bagi wanita iblis itu untuk bernapas lega.
Sedangkan Sovia, wanita itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sesaat setelah ia dilarikan kerumah sakit usai dicekik oleh Stevi saat ia mencoba berbicara dan menjelaskan semuanya pada putrinya itu.
Begitulah karma yang berjalan dan mewarnai hidup bagi mereka yang pernah berbuat jahat pada orang-orang yang tidak berdosa.
Dan kebaikan akan selalu mendapat balasan yang manis meski kadang kita tidak pernah mengharapkannya.